IMAM PANDHU WAHYUDI
| Giant Step | for everyone |
| Category: | Music |
| Genre: | Classic Rock |
| Artist: | Giant Step |
DENGAN kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.
"Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh," kata Triawan Munaf, mantan pemain kibor dan vokalis Giant Step, yang juga sepupu Fariz RM dan ayah kandung penyanyi remaja Sherina. Namun, itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step.
Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung grup-grup Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).
JIKA The Beatles memiliki "dwitunggal" Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki "dwitunggal" yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi grupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif. Kedua orang inilah yang membidani kelahiran Giant Step pada awal 1970-an di Bandung, kota yang sering dijuluki sebagai gudangnya para seniman musik yang kreatif.
Sebelum bergabung dengan Giant Step, Benny-antara lain bersama Boetje Garna, Deddy Garna, Soman Lubis, dan Bhagu Ramchand-pernah ikut memperkuat band-band rock Bandung seperti The Peels dan Shark Move. Yang terakhir ini pernah merilis album Ghede Chokra’s (1973) dengan label perusahaan rekaman di Singapura.
Satu-satunya album Shark Move itu lumayan sukses dan menghasilkan hit seperti My Life dan Bingung. Juga ada lagu-lagu lainnya yang selain kuat liriknya juga enak dinikmati, seperti Butterfly, Insan, dan Madat.
Sebagaimana Benny, Albert pun termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu. Di samping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain suling. Albert juga banyak terlibat dalam proyek musik grup-grup Bandung seperti Gang Of Harry Roesli.
Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Stanzah (mantan Rollies), dan Sammy (mantan drummer Shark Move) pada tahun 1975 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka.
Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi diproklamasikan.
Formasi awal Giant Step tidak bertahan lama. Benny kemudian mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor) untuk menggantikan Deddy Stanzah, Sammy, dan Yockie (yang kemudian bergabung ke God Bless). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung.
Pada tahun 1975 itu pula Giant Step mulai masuk dapur rekaman. Album pertamanya yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976) yang berisi sepuluh lagu. Termasuk lima lagu berbahasa Inggris-Childhood And The Seabird, Far Away, Fortunate Paradise, Keep A Smile, dan My Life-yang liriknya ditulis oleh Bob Dook, warga Australia yang bermukim di Bandung.
Di album pertama ini warna musik Giant Step bisa dibilang masih gado-gado. Ada warna Purple, ELP, dan Gentle Giant. Bahkan, ada empat lagu berlirik cinta cengeng yang ditulis dan dinyanyikan Deddy Dores.
GIANT Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik rock progresif pada album kedua, ketiga, dan keempat, yaitu Giant On The Move! (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Semua lagu, baik lirik maupun musiknya, yang terdapat dalam ketiga album itu tergolong berani. Pasalnya, mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s dan Favourites Group.
Lagu-lagu yang terdapat di album Giant On The Move! bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decisions, Waste Time, dan Air Pollution.
Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan, di mana posisi Deddy Dores (yang keluar karena membentuk Superkid dengan Jelly Tobing dan Deddy Stanzah) digantikan oleh Triawan Munaf dan posisi Yanto Sudjono digantikan oleh Haddy Arief. Triawan dan Haddy adalah mantan anggota Lizard, salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975).
Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert dan permainan kibor Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.
Kendati sangat dipengaruhi band-band progresif luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth Of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit.
Menjelang pembuatan album Persada Tercinta (1978), Triawan mundur karena alasan melanjutkan studi di Inggris. Posisinya digantikan Erwin Badudu, "yang skill-nya jauh lebih canggih daripada saya," kata Triawan. Sebelumnya Erwin sempat terlibat dalam pembuatan album solo Benny Soebardja, Gimme Piece Of Gut Rock (1975), yang musiknya juga digarap oleh para personel Giant Step dan Lizard.
Gut Rock adalah proyek album idealis kedua Benny yang seluruh liriknya berbahasa Inggris dan sebagian besar ditulis oleh Bob Dook. Konon Gut Rock semula disiapkan sebagai album Giant Step, tetapi entah kenapa kemudian diubah menjadi album solo Benny.
Seperti dua album Giant Step sebelumnya, nuansa rock progresif yang cukup rumit masih kental pada album Persada Tercinta. Namun, pada album kelima, Tinombala (1979), Giant Step tampak mulai berkompromi dengan selera pasar kala itu, dengan memasukkan lagu pop cinta komersial berjudul Lisa.
Pada saat itu formasi Giant Step kembali mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dengan keluarnya Albert Warnerin, yang posisinya digantikan oleh Harry Soebardja, mantan gitaris Lizard yang juga adik kandung Benny. Posisi Haddy Arief pada drum juga digantikan oleh Tommy sehingga formasi Giant Step pada periode ini adalah Benny, Harry, Adhi, Erwin, dan Tommy.
DENGAN formasi yang sama, mereka merilis album keenam yang diberi judul Giant Step Volume III (1980). Album Volume III (album ketiga di bawah label Irama Tara) ini bisa disebut sebagai album paling buruk yang pernah dihasilkan Giant Step.
Boleh jadi karena Benny sendiri-sebagai motor utama Giant Step-mulai disibukkan dengan proyek-proyek solonya. Sebagai penyanyi solo, nama Benny sempat melejit lewat lagu Apatis (karya Ingrid Wijanarko) dan Sesaat (Harry Sabar) dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir 1970-an.
Dari sukses lagu Apatis dan Sesaat, yang warna musiknya sangat dipengaruhi album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (karya Eros Djarot, Yockie, dan Chrisye) itu, Benny kemudian berkolaborasi dengan anak-anak Pegangsaan, khususnya Fariz RM, untuk membuat dua album solo dengan warna musik serupa, yaitu Setitik Harapan dan Lestari pada tahun 1980-an. Namun, kedua album ini kurang begitu berhasil di pasaran, setidaknya jika dibandingkan dengan album Badai maupun Di Batas Angan-Angan (Keenan Nasution) yang juga digarap oleh kelompok Pegangsaan.
Pada tahun 1985 Benny mencoba membangkitkan kembali Giant Step dengan melibatkan (lagi) Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu, serta Jelly Tobing. Pada bulan Juni mereka merilis album Geregetan (1985).
Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progresif era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, "Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial." Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.
Perjalanan Giant Step berakhir setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali mereka tak kunjung berhasil. Konon karena adanya perselisihan pribadi yang sulit didamaikan antara mantan "dwitunggal" Benny dan Albert.
Rupanya, fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli grup-grup dunia seperti Lennon versus McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).
| Rollies |
| Category: | Music |
| Genre: | Classic Rock |
| Artist: | Rollies |
ITULAH masterpiece dari Rollies, berjudul Kemarau, karya pemetik gitar basnya, Utje F Tekol, yang berdarah Manado, Ambon, Jawa, dan Belgia, tapi bangga sebagai warga Bandung. Lagu ini memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim tahun 1979. Lagu Rollies populer lainnya adalah Salam Terakhir, Hari Hari, Astuti, dan Setangkai Bunga.
ROLLIES adalah grup kebanggan kota kembang Bandung tahun 1967 hingga awal 1990 disamping grup- grup lain semisal Giant Step, Freedom of Rhapsodia, Superkid, Shark Move, Bimbo, Paramors, Harry Roesli and His Gang, G’Brill, 23761, dan One Dee and Lady Faces.
Walaupun kegiatan Rollies setelah itu nyaris tak terdengar, personelnya seperti penyanyi Bangun Sugito-kemudian lebih dikenal sebagai Gito Rollies yang belakangan ini banyak aktif dalam bidang kerohanian- berkiprah sebagai penyanyi solo dan bintang sinetron.
Demikian juga Utje, masih masuk dan keluar studio rekaman membantu sejumlah rekaman. Sementara peniup saksofon, trombon, dan flute, Benny Likumahuwa, bergabung dengan grup jazz Ireng Maulana. Jimmy Manoppo dengan orkestranya. Memasuki abadi ke-21, Rollies kehilangan sekaligus tiga anggotanya, yakni Deddy Stanzah yang tutup usia tahun 2001, Delly (2002), dan Bonnie (2003).
Otak dari Rollies sebenarnya adalah Deddy Sutansa (kemudian menjadi Stanzah). Seorang pemetik gitar, bas, dan juga penyanyi yang karismatis pada zamannya. Dalam sebuah penampilannya di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki, Deddy tampil sendirian dan hanya gitar menemaninya. Begitu dia terdengar langkahnya di panggung yang masih gelap, penonton sudah bersorak menyambut.
Utje F Tekol yang kemudian menggantikannya sebagai pemetik gitar bas mengakui sempat tidak percaya bahwa dia bisa mengambil posisi Deddy di Rollies tahun 1974. Menurut Utje, yang sekarang berusia 54 tahun, sebelum bergabung dia memang penggemar fanatik Rollies dan pengagum Deddy Stanzah.
Kelahiran Rollies diawali ketika Deddy bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Tenku Zulian Iskandar dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari grup Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orangtua Deddy yang pengusaha hotel menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink. Setelah itu baru mereka mengisi acara di kelab malam Singapura tahun 1969.
Ketika tampil di negeri jiran itu, personel Rollies sudah diperkuat Gito dan Benny Likumahuwa. Lagu yang mereka bawakan pun berkembang dan mulai mengandalkan alat musik tiup, masa trade-mark Rollies sebagai pembawa lagu-lagu James Brown BST (Blood Sweat and Tears) dan Chicago dimulai. Di sana mereka tidak hanya berkesempatan manggung.
Deddy Stanzah dan kawan- kawan juga masuk studio rekaman EMI dan Philips, menghasilkan dua piringan hitam (PH). Dalam PH khusus lagu- lagu barat, Delly membawakan lagu Gone are the Song of Yesterday, It’s a Man’s Man’s World, I Feel Good, yang kemudian memang sering dibawakan Rollies di panggung. Sementara PH lainnya berisi lagu berirama melayu dan semikeroncong, seperti Bandar Jakarta, Sansaro, Putri Solo, dan Selayang Pandang. Rollies juga pernah mengiringi sejumlah penyanyi Indonesia yang rekaman di Kota Singa seperti Aida Mustafa.
Namun, pengalaman yang paling sulit dilupakan selama di Singapura adalah kecelakaan lalu lintas yang nyaris merenggut nyawa anggota grup asal Bandung itu pada tahun 1971. Sopir asal Singapura yang membawa kendaraan tewas. Benny dan Iskandar pingsan dengan penuh luka di kepala. Gito dan Delly bengkak sekujur tubuh, Deddy dan Iwan mengalami robek di bagian kepala.
Akibat peristiwa itu, Deddy dipanggil pulang ke Jakarta. Pada waktu itu sebuah grup dari Indonesia, Paramors, sedang luntang lantung karena ditelantarkan agennya, salah satu anggota grup itu, Bonnie Nurdayah, bersedia bergabung sebagai anggota baru Rollies.
SELESAI kontrak di Singapura, Rollies tidak kembali ke Bandung, melainkan menuju Medan. Main di kelab malam selama enam bulan dan setelah itu ke Bangkok untuk tampil di kelab malam juga. Mereka mengambil kesempatan itu karena Bangkok waktu itu bisa dikatakan sebagai pusat hiburan di Asia Timur. Siapa tahu setelah itu bisa ke Beirut dan kemudian puncaknya Las Vegas, pusat hiburan dunia.
Benny yang menjadi inspirator konsep musik Rollies bermaksud membawa grup itu sampai ke negeri Paman Sam. Tapi, anggota yang lain hanya bisa tahan selama satu bulan di Negeri Gajah, padahal mereka dikontrak enam bulan. Untuk meneruskannya, Benny terpaksa membentuk grup Augesindo, kependekan dari negara pemusiknya yang berasal dari Australia, Jerman, Singapura, dan Indonesia.
Akan tetapi, Perang Vietnam menyebabkan kehidupan malam di Bangkok memudar. Benny yang sebelum menjadi anggota Rollies sudah bermain jazz bertemu pianis jazz, Bill Saragih, yang mengajaknya pindah ke Australia. Benny setuju, tapi terlebih dahulu ingin kembali ke Jakarta.
Di Jakarta Benny justru jatuh cinta kedua kalinya kepada Rollies. Apalagi kehidupan showbiz sedang marak sehingga honor yang diperoleh Rollies cukup besar, bahkan lebih besar dari yang pernah didapat di Singapura maupun Bangkok. Waktu itu Rollies dibayar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk satu kali manggung. Sebagai perbandingan, grup musik lain memperoleh di bawah Rp 1 juta.
Dalam satu minggu Rollies bisa naik-turun panggung dua hingga tiga kali. Tur show hingga lebih dari 10 kota sudah dilakukan Rollies waktu itu. Namun, Iwan Krisnawan, Tenku Zulian Iskandar, dan Bangun Sugito yang terperangkap narkoba menyebabkan Benny dan anggota lainnya harus bekerja ekstra keras.
Bukan hal yang aneh jika dalam penampilan rutin mereka di kelab malam tiba-tiba suara drum hilang. Ternyata Iwan yang sedang teler terkapar di belakang panggung. Bisa juga dalam sebuah pertunjukan yang hadir hanya Benny, Bonnie, Delly, dan Iwan, sedangkan Deddy Stanzah, Iskandar, dan Gito belum datang. Mereka terpaksa menyelesaikan satu babak penampilan, setelah itu baru muncul Gito, Deddy, dan Iskandar. Kejadian seperti ini oleh penontonnya justru dianggap sebagai sebuah kejutan: sang superstar Gito baru hadir pada puncak acara, padahal datangnya terlambat.
YANG nyaris fatal adalah ketika Rollies manggung di lapangan terbuka, Stadion 10 Nopember Surabaya, menjelang akhir tahun 1973. Setelah menyanyikan sejumlah lagu, tiba- tiba Deddy, Gito, dan Iskandar secara bergiliran ambruk dan tergeletak di panggung, dan Iwan menyusul. Lucunya penonton bersorak, mengira peristiwa adalah bagian dari atraksi.
Yang paling pusing tentunya Benny, Bonnie, dan Delly dan harus terus memainkan musik, bahkan sambil menyanyi. Inilah barangkali kelebihan Rollies, hampir semua anggota bisa menyanyi. Sebagai penyanyi utama, Gito boleh saja terkapar, tapi yang lainnya bisa meneruskan lagu yang belum diselesaikannya.
Kejadian seperti itu bisa dikatakan tidak tercium oleh media massa sehingga ambruk dan terkaparnya anggota Rollies itu tetap dianggap masyarakat sebagai hal yang wajar. Justru dengan semua itu Rollies semakin digemari dan dielu-elukan sebagai supergrup, sebuah sebutan untuk grup musik nomor satu.
Tak heran jika Benny dan kawan-kawan menjadi trend setter. Uang pun mengalir bak air Cikapundung, hingga ganti mobil setiap waktu bagai membalikkan telapak tangan. Sedemikian naik daunnya Rollies, sampai-sampai mereka menjadi model butik Mic Mac. Bahkan kemudian manajemen Rollies memproduksi sendiri sepatu dan pakaian merek Apple.
Sayangnya, Iwan dan Deddy yang terus dicengkeram narkoba semakin sering datang terlambat di waktu latihan maupun pertunjukan. Karena ketidakdisiplinan ini, keduanya dipersilakan meninggalkan Rollies. Mereka diganti Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol, pada tahun 1974. Rollies pun memiliki susunan anggota yang paling lama bertahan: Bonnie (penyanyi, gitar), Iskandar (tenor saksofon), Benny Likumahuwa (bariton/alto saksofon, flute, trombon), Delly (penyanyi, keyboard), Utje F Tekol (bas), Didit Maruto (trompet), Jimmy Manoppo (drum), dan Gito (penyanyi).
Dengan formasi ini, semakin kokoh pengakuan bahwa Rollies adalah Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung: Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes, Fire Bird, James Brown It’s A Man’s Man’s World, atau Getsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer di Broadway.
Kelebihan Rollies yang paling menonjol adalah rasa percaya diri yang luar biasa pada setiap anggotanya. Gito, Iskandar, dan Delly, misalnya, juga meniup trompet dalam usaha mereka mengidentikkan diri sebagai sebuah grup brass-rock. Tapi, lama-lama mereka keteteran karena Gito harus menyanyi, Delly yang bertugas di keyboard juga harus menarik suara, dan Iskandar harus memainkan gitar.
Kalau suaranya menurun, biasanya Gito beralasan karena dia harus meniup trompet. Sebaliknya kalau ditanya kenapa tiupannya semakin lemah, jawabnya enteng saja, "Saya kan penyanyi". Itulah sebabnya mereka merekrut Benny Limahuwa dan Didiet Maruto.
Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah grup yang sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya bukan lain adalah Deddy Stanzah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.
Kebesaran nama Rollies diakui Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol yang menyatakan pada awalnya bertanya-tanya apa betul mereka sudah menjadi anggota Rollies. Ketika pertama kali tampil, keduanya bahkan gemetaran dan keringatan. Untuk menjadi anggota Rollies, mereka harus menyingkirkan puluhan pelamar lainnya.
SEPANJANG perjalanannya, Rollies menghasilkan 15 PH/album rekaman. Tahun 1971 di Philips dan EMI, dua PH dan satu PH mengiringi Aida Mustafa. 1972-1975 di Remaco tiga PH (masuk masa kaset) yang antara lain melahirkan lagu Salam Terakhir karya Iwan Krisnawan dan Setangkai Bunga (Iskandar). Tahun 1976-1979 di Musica Studio’s lima album yang menelurkan lagu-lagu Keadilan, Hari Hari, dan Kemarau. Lagu Kemarau yang sama sekali tidak diperhitungkan baru dikeluarkan dari "peti es" tahun 1979 meskipun selesai dikerjakan tahun 1977.
Walaupun menyandang julukan grup brass-rock nomor satu, ketika menggarap lima album rekaman di Musica Studio’s, Rollies mengalami masa stagnasi. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara grup musik baru seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. Mereka terkesan kena penyakit post-power sindrom.
Selain Kemarau dan Hari Hari, yang lainnya diambil dari Titiek Puspa, Bimbi atau Anto. Kau Yang Kusayangi, Keadilan.
Melihat kenyataan itu, Benny memutuskan mundur dan meninggalkan Rollies. Padahal, sebagai penata musik, Benny sudah memperlihatkan kebolehannya dalam Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Setelah Benny menarik diri, Rollies masih menghasilkan empat album: Dunia Dalam Berita (1983), Astuti (1984), Problema (1985), dan Iya kan? (1990).
Ketika awal grup ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik "sekolahan" Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa. Sampai sekarang Rollies tidak pernah bubar meskipun anggota yang tersisa tinggal Gito, Benny, Utje, Jimmy, Didit, dan Iskandar.
Selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan yang mereka gunakan dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa, yang sekarang berusia 58 tahun, mengaku rumah yang didiaminya sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.
Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh sekarang adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi. Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, ini sekarang aktif sebagai pembawa ceramah rohani untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba.
| Led Zeppelin |
| Category: | Music |
| Genre: | Hard Rock & Metal |
| Artist: | Led Zeppelin |
Ramalan jitu itu diungkap Atlantic Records - salah satu perusahaan rekaman kaliber dunia pada medio Februari 1969 silam, tepat saat perusahaan rekaman tersebut mengumumkan penandatanganan kontrak rekaman dengan grup sakti asal Inggris itu. AR menyebut, Led Zeppelin merupakan kelompok musik yang sangat potensial buat jadi idola baru para penggemar musik di seluruh dunia.
Led Zeppelin, yang biasa disebut Led Zepp, dibentuk oleh maha-gitaris Jimmy Page setelah bubarnya Yardbirds, grup band Jimmy Page terdahulu. Led Zepp sendiri sebenarnya merupakan ambisi Jimmy Page untuk mengadakan pembaharuan terhadap Yardbirds. Oleh karena itu, sebelum nama Led Zeppelin beredar, grup itu berkibar dengan nama The New Yardbirds. Yardbirds adalah sebuah kelompok musik beraliran blues dan rock, dan Jimmy Page bergabung di dalamnya sejak Juni 1966. Sayang, benih-benih perpecahan telah nampak ketika mereka usai menggelar shownya di Luton, Beds, Inggris. Perpecahan kian mengkristal dan akhirnya tak dapat lagi dihindari setelah tur show di negeri Paman Sam, rampung.
The New Yardbirds dibentuk Page bersama Chris Dreja (bass). Band yang usianya cuma seumur jagung, itu sempat menggelar tur 10 hari di Scandinavia (September 1968). Namun Page kemudian berniat membentuk band dengan susunan personel baru hingga akhirnya Chris Dreja undur diri untuk memulai karir sebagai fotografer.
Page lalu menggandeng bassis John Paul Jones untuk bergabung. Bersama Peter Grant - manajernya - Page lalu menyaksikan Robert Plant pergelaran Hobbstweedle - bandnya waktu itu - di Birmingham, Inggris. Dari sanalah Page kepincut pada lengkingan vokal Plant lagi-lagi mengajaknya bergabung. Sedang masuknya John Bonham yang sebelumnya adalah personel Band Of Joy, atas rekomendasi Robert Plant yang menyarankan Page untuk merekrutnya. Pertimbangannya waktu itu, John Bonham dinilai berpengalaman tampil mengiringi Joe Cocker, Chris Farlowe juga Tim Rose.
| Ken A Rock-nya Harry Roesli |
| Category: | Music |
| Genre: | Rock |
| Artist: | Harry Roesli |
ROMBONGAN penari berpakaian gemerlap, berkumis, dan berjanggut lebat muncul dari kiri panggung. Mereka duduk, lalu menggerakkan tangan ke atas seperti penari kecak dengan iringan musik hard rock. Kemudian dari panggung sebelah kanan muncul penari wanita yang berbusana putih perak. Rambut mereka semuanya kerinting bahkan ada yang kribo, seperti rambut penyanyi God Bless, Achmad Albar, atau Gito dari Rollies. Begitulah Rock Opera Ken Arok dimulai
Tokoh yang hidup pada abad ke-13 (1222-1247) itu dengan sendirinya mewakili kebengalan Harry. Ken Arok begitu muncul langsung mendeklamasikan sajak: Aku Ken Arok, yang engkau tunggu, engkau membeli karcis menontonku, uang seribu tidak sedikit, wahai teman kau tertipu, coba jika uang itu, kau jajankan di jalan Tamblong, tapi kini telah terlanjur, uangmu ada di saya.
Sajak itu menyatakan bahwa rock opera itu bukan apa-apa. Penonton yang dikibuli harap jangan kecewa karena mengharapkan apa-apa yang berlebihan. Walaupun demikian, uang penonton tetap tidak bisa dikembalikan. Penonton yang sebagian besar terdiri dari kaum remaja dan beberapa orang asing membayar tiket masuk antara Rp 500 dan Rp 1.000 justru tertawa terbahak-bahak.
Kiprah Harry dalam musik rock terus berlanjut. Bersama God Bless, Gipsy, Voodoo Child, Giant Step, Rollies Paramour, Odalf, Freedom of Rhapsodia, dan Yeah Yeah Boys, Harry Roesly and His Gang tampil dalam pesta musik udara terbuka Kemarau 75 di lapangan Gedung Sate, Bandung, 31 Agustus 1975.
Sebelumnya dia juga ikut bersama belasan grup musik pada pesta musik semalam suntuk, Summer 28, tanggal 16 Agustus 1973 di Pasar Minggu, Jakarta. Pemusik bengal ini mamang tidak mau diam, ada saja yang dilakukannya. Dia tidak pernah ambil pusing manggung di mana. Di sebuah kafe yang pengunjungnya cuma seratus orang juga jadi. Lapangan terbuka yang ditonton puluhan ribu orang, apalagi.
Rock Opera Ken Arok-nya di bawa ke mana-mana, termasuk ke Semarang pada Januari 1976. Tetapi, di kota ini Harry kena batunya. Pergelarannya dihentikan oleh yang berwajib, dengan alasan naskah pertunjukan terlambat tiba di meja pemberi izin. Pencekalan pergelaran memang sering terjadi pada masa Orde Baru. Itulah sebabnya Harry ikut menandatangani Pernyataan Mei bersama seniman lainnya menolak hambatan atas karya seni. Sembilan tahun kemudian, April dan Mei 1995, pergelaran Harry juga batal tampil karena soal izin. Yang jelas, pencekalan itu bukan karena musik rock atau jenis musik lain yang diramu Harry, melainkan karena bahasa liriknya tidak mengena pada bahasa penguasa waktu itu.
Harry tidak mau pusing-pusing. Karyanya jalan terus. Bersama Leo Kristi, ia tampil dalam malam Apresiasi Seni Mahasiswa di Gelanggang Mahasiswa Kuningan tanggal 3 Desember 1977, kemudian Pagelaran Musik Konkrit Harry Roesli selama tiga hari, 31 Juli hingga 1 Agustus 1980. Motor trail, skuter, sepeda motor Yamaha dan Honda bebek dijejerkan di depan studionya dengan mesin dihidupkan, lalu masing-masing digas keras-keras dalam pergelaran musik Sikat Gigi.
Bereksplorasi dan menjelajahi daerah-daerah musik yang baru, seperti memanfaatkan gemuruh suara air terjun dari kotak pengeras suara elektronik disusul kesenyapan tiba-tiba, dilanjutkan dengan suara kertas diremas di depan mikrofon. Semua itu dilakukannya bersama DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung) di berbagai panggung.
Menyusul Off the Record, kemudian ia membuat kejutan lainnya dengan tampil di pub, main musik disko bersama dedengkot jazz Bubi Chen. Masih banyak yang dilakukannya sepanjang tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Akibatnya, pada hari Minggu 1 Agustus dia digotong ke rumah sakit Borromeus, Bandung
Akan tetapi, Harry Roesli bukanlah Harry Roesli kalau sekeluar dari rumah sakit langsung tetirah ke tempat yang tenang untuk memulihkan kesehatannya. Teman-temannya berdatangan, dari menjenguk akhirnya menjadi arena ngobrol. Yang ujung-ujungnya menjadi berbagai kesibukan bermusik, berdiskusi, dan sebagainya. Bersama DKSB dan remaja SMA Blue Enterprises, digelarnya Over Dosis, 30 April-1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia Bandung. Masih di Bandung, Harry mementaskan "Pertunjukan Pembicaraan" dengan membaca puisi, tetapi ia tidak meradang atau berteriak di antara gebukan perkusi serta geraman masif synthesizer sebagaimana biasanya.
Pada tahun 1995 Opera Tusuk Gigi, setelah itu ia membuat heboh di di A Mild Jak Jazz ’95 dengan memukul 13 tong kosong. Tahun berikutnya, Konser Musik Generasi Koplo di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 1996, dengan pengeras suara berkekuatan belasan ribu watt mengepung penonton. Seterusnya bisa diduga, Harry kembali masuk rumah sakit, demikian berita di koran-koran di Bandung, Jakarta, dan kota besar lainnya di Indonesia, 1 November 1996.
Setelah empat bulan dilumpuhkan penyakit misterius sampai pingsan dan keluar masuk rumah sakit, akhir Januari 1997 Harry menyatakan dirinya sudah sembuh dan merasa segar bugar. Kalau sudah begitu, tentu saja dia sibuk lagi, antara lain mengikuti Ajang Festival Perkusi 8-9 Juli di arena Pekan Raya Jakarta. Ia juga tidak mau ketinggalan hadir di Festival Perkusi Jakarta 1997. Dilanjutkan dengan Musik Jazz Invalid 25 Jam 4 Menit di Pusat Kebudayaan Perancis, 26 Juli.
Lalu Harry Roesli and His Gang mengadakan reuni di Poster Café. 31 Oktober, Jakarta. Berlanjut di Bandung, 22 November, dengan misi ganda. Selain menghibur dan ajang kangen-kangenan, konser di Bumi Sangkuriang itu juga bermisi sosial untuk mengetuk hati dermawan menyisihkan sebagian uangnya bagi korban bencana alam di Papua.
Setelah berbagai panggung, giliran televisi menampilkan karya-karyanya. Bulan Ramadhan 1977 Harry mendapat "order-pesanan", membuat acara operet yang ditayangkan selama seminggu berturut-turut sebelum lebaran. Tapi, setelah itu Konser Musik Kontemplasi Jilid III yang direncanakan 22 Februari 1998 di Gedung Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung, dicekal. Semakin dicekal, ternyata kreativitas Harry semakin bergelora. Pada 17 April DKSB tampil di Teater Utan Kayu, Jakarta.
Masih belum merasa puas, ia lalu menerbitkan tabloid Deru, dan Harry menjadi pemimpin redaksinya. Sementara itu, dia juga sibuk mengurus para pengamen dan mendidik mereka dengan ilmu musik. Tapi, lagi- lagi daya tahan tubuhnya tidak kuasa menunjang kreativitasnya yang sedemikian menggebu. Pada 25 Oktober 1998 Harry kembali diantar ke Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.
Berbagai kegiatan musiknya itu menunjukkan bahwa Harry bukan pemusik rock. Sebagaimana musik lainnya, rock hanya salah satu medianya untuk berekspresi, terutama untuk kaum muda, inilah kelebihannya. Kelebihannya yang lain adalah mampu membuat orang tertawa pada setiap kesempatan meskipun yang sedang dibahas atau dimainkannya adalah musik serius, yang di tangan pemusik lain biasanya membuat penontonnya mengernyitkan kening. Secara terus terang Harry mengakui bahwa dalam berkarya dia memang berada dalam wilayah dua sistem nilai.
MENGAKU berangkat dari musik populer, ternyata Harry tak pernah melupakan kulitnya meski kemudian dia menghasilkan musik-musik seni dan kontemporer. Selama 26 tahun, tidak kurangi 25 judul kaset dirampungkannya.
Mulai dari Philosophy in Rock (1971), HR Solo I (1972), HR Solo II (1973), HR Solo III (1974), Kaki Langit Akustik (1975), Titik Api (1976) hingga Ken Arok (1977), HR Solo IV (1977) dan Focus (1977). Disusul Tiga Bendera (1977), Gadis Plastik (1978), LTO (1978), Daun (1979), Jika Hari Tak Berangin (1979) serta Kharisma I (1981). Dilanjutkan dengan Kharisma II (1982), Kota Gelap (1982), Zaman (1984), Kuda Rock ’n Roll (1986), Cas Cis Cus (1989), Asmad Dream (1990), Orang Basah (1991), Cuaca Buruk (1992), DKSB Book (1992), dan Si Cantik (1997). Beberapa hasil rekamannya itu diproduksi dan diedarkan di Australia, AS, serta beberapa negara Eropa.
Bisa dikatakan, Harry lebih produktif daripada para pemusik pop maupun rock umumnya industri rekaman negeri ini. Dalam kurun waktu yang hampir sama, God Bless hanya menghasilkan lima album, ditambah dengan solo album Achmar Albar juga masih di bawah jumlah milik Harry. Barangkali yang bisa menandingi Harry dalam jumlah album hanya Koes Plus dan Hetty Koes Endang.
Hasil rekaman Rock Opera Ken Arok pada tahun 1977 bahkan sempat menjadi rebutan dua produser, Apple Records dan Eterna, hingga harganya melonjak menjadi Rp 4 juta, tawaran yang sangat tinggi waktu itu. Kalau dihitung berdasarkan harga kaset tahun 1977, nilai rekaman Ken Arok itu sekarang berkisar antara Rp 100 dan Rp 200 juta.
Perbedaannya, motivasi Harry dalam berkarya adalah ketika mengerjakan musik untuk industri menggunakan pertimbangan pasar, sementara untuk musik seni berurusan dengan ekspresi. Tapi, sadar atau tidak dalam rekaman Rock Opera Ken Arok, Harry memadukan keduanya. Sementara dalam rekamannya yang lain, musik dan lirik juga sering bertentang dengan kehendak pasar. Walaupun demikian, kaset Ken Arok direspons masyarakat sangat positif, sebagaimana rekaman lagu pop manis yang waktu itu sedang meledak-ledak. Kalau sudah begitu, tidak salah jika Ken Arok di tangan Harry Roesli menjadi Ken A Rock.
Musik rock dalam falsafah pemusik tambun yang tingginya 166 cm, berat 85 kg, dan lahir di Bandung 10 September 1951 ini dijelaskannya sejak Harry Roesli and His Gang pertama terjun ke dunia rekaman dengan album Philosophy in Rock pada tahun 1971. Salah satu lagu berjudul Malaria, liriknya begini: Sprei tempat tidurmu, putih/itu tandanya kau bersedih, mengapa tidak kau tiduri/ kau hanya terus menangis/apakah kau seekor monyet, yang hanya dapat bergaya/kosong sudah hidup ini/bila kau hanya bicara, guling bantalmu kan bertanya/apakah yang kau pikirkan nona/kau hanya bawa air mata dan ketawa yang kau paksa/lonceng kamarmu kan berkata, mengapa nona pengecut/lanjutkan saja hidup ini, sebagai nyamuk malaria.
Pada saat itu, 34 tahun yang lalu, Harry menunjukkan bahwa dia tidak hanya piawai berlirik, tetapi juga menyelami musik rock lebih mendalam dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan pemusik kita yang merasa lebih rocker dibandingkan dengan pemusik rock Eropa atau Amerika Serikat.
Pengetahuan Harry tentang musik rock diteruskan dengan penelitian musik seni, yang membuatnya semakin tertarik setelah mengambil jurusan musik elektronik di Rotterdam Conservatorium di Belanda, 1977-1981. Sambil kuliah, manggung, dan menghadiri diskusi-diskusi, selama tiga tahun itu ternyata dia mampu menghasilkan sembilan album rekaman. Produktivitas yang luar biasa. Belum termasuk karya musiknya untuk teater dan film.
Dalam album Philosophy in Rock, Harry mengaku banyak dipengaruh berbagai jenis musik dari Brian Auger, Cannon Ball Adderly, Crusaders, War, dan Hampton Hawyes. Pada hakikatnya, filsafat, agama, dan musik adalah pokok hidup yang tidak ternilai harganya, ketiga- tiganya selalu bergandengan tangan, begitu Harry pernah mengatakannya pada suatu ketika tentang judul album perdananya itu.
Seluruh hadirin final Djarum Super Rock Festival X, 11 Desember 2004 di Stadion Tambaksari Surabaya, juga bergandengan tangan dalam mengheningkan cipta ketika diumumkan oleh pembawa acara Ovan Tobing bahwa hari itu Kang Harry telah berpulang.
Soenatha Tanjung : Tinggalkan Rock, Sekarang Hanya Dengar Musik Religi
Di era 1970-1980-an, grup SAS banyak disebut orang sebagai number one rock group in Indonesia. Lengkingan gitar yang dimainkan oleh Soenatha Tanjung merupakan salah satu alasan mengapa SAS mendapat predikat bergengsi itu. Perjalanan spiritual membawa sang gitaris legendaris tersebut sekarang benar-benar “lepas” dari musik cadas.
PARA penggemar rock Indonesia generasi 1970-an pasti mengenal Soenatha Tanjung, gitaris SAS. Maklum saja, Soenatha merupakan salah seorang dewa gitar Indonesia pada zamannya. Namanya dapat disejajarkan dengan para gitaris papan atas Indonesia saat itu. Antara lain, Ian Antono (God Bless). Menyebut sejarah musik rock Indonesia pun rasanya tak lengkap bila belum menyertakan nama Soenatha Tanjung.
Uniknya, di masa tuanya, Soenatha justru mengaku tak terlalu mengikuti perkembangan musik tanah air. ”Boleh dibilang, saya tak pernah mendengarkan musik lain, selain musik religi saat ini. Termasuk, musik rock sekalipun,” tuturnya.
Makanya, Soenatha menyatakan tak bisa dan tak tertarik bicara tentang perkembangan musik tanah air belakangan ini. Satu-satunya yang diikutinya adalah perkembangan gitar, alat musik yang begitu dikuasainya. “Zaman semakin maju, gitar menjadi lebih canggih dan penggunaannya makin bervariasi,” ujarnya.
Tentu saja, petikan gitarnya kini tak lagi meraung seperti saat menjadi gitaris grup cadas, namun lebih akustik dan religius. Karir Soenatha sendiri di bidang musik rock dimulai pada 1968. Ketika itu, Soenatha bergabung dengan AKA (Apotek Kali Asin), sebuah grup rock Surabaya yang dipandegani Ucok AKA Harahap. ”Saya masuk menggantikan Jerry Souisa yang mengundurkan diri,” katanya. Sebelumnya, Soenatha memperkuat grup band Arista Birawa.
Pada 9 September 1974, AKA bubar. Pasalnya, sang frontman AKA, Ucok Harahap, mendirikan duo Kribo -sebuah duet vokalis bersama Achmad Albar. Namun, bubarnya AKA tak membuat Soenatha berhenti berkiprah di musik cadas. Akhir 1975, bersama Arthur Kaunang dan Syech Abidin, Soenatha membentuk grup baru bernama SAS. Tentu saja, SAS merupakan singkatan nama ketiganya.
Berbeda dengan AKA, SAS lebih banyak berkiblat pada jenis musik rock progresif ala ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Pengaruh band-band rock Inggris, khususnya Led Zeppelin dan Deep Purple, masih cukup kuat. Perbedaan lainnya, SAS tidak lagi menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sensasional yang menjadi salah satu cap dagang utama AKA. Meski begitu, dari segi musik, SAS justru lebih gahar. ”Kami (SAS) merasa lebih bebas mengeksplorasi musik rock,” tandasnya.
SAS juga termasuk di deretan grup rock lokal yang amat produktif. Sampai 1993, SAS menghasilkan lebih dari sepuluh album. Agak berbeda dengan grup-grup lain, dalam empat album terakhirnya, grafik kualitas permainan musik SAS justru tampak semakin meningkat dan matang. Album Metal Baja, misalnya, kendati tampak kalah ”pamor” daripada Baby Rock atau Bad Shock, sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu puncak karya SAS.
Namun, setelah peristiwa kesetrum itu, minat Soenatha pun mulai beralih ke hal-hal religius. Dia memang tidak secara langsung berhenti total dari jenis musik yang membesarkan namanya tersebut. Sebab, pada 1993, tiga tahun setelah Soenatha mendapat mukjizat kesembuhan, SAS masih mengeluarkan album Metal Baja. “Itu jadi album terakhir saya bersama SAS,” tuturnya.
Setelah sepenuhnya mengabdikan diri pada dunia religi, Soenatha menyebut masih sempat beberapa kali bertemu dengan teman-teman satu grupnya dulu. Yang paling sering dengan Arthur Kaunang, pria yang kini juga banyak menghabiskan hidup untuk kehidupan agama. Dia menambahkan, yang dilakukannya dan Arthur saat ini bukan suatu kesepakatan bersama. “Ini semua adalah kerja Tuhan. Kalau bukan kehendak-Nya, sulit orang bersedia melayani Tuhan,” tuturnya.
Tak Paksakan Anak Ikuti Jejak
Lebih dari seperempat abad, Soenatha Tanjung berkecimpung di dunia musik rock. Tak heran jika pria berusia 63 tahun itu mengaku sudah merasakan asam garam yang mengitari kehidupan musik cadas tersebut. Gaya hidup bebas yang melebihi norma agama seolah menjadi label yang tak bisa dipisahkan dengan musisi rock.
Meski begitu, Soenatha yang kini sangat taat beragama mengaku tidak akan melarang anak-anaknya jika ada yang ingin menjadi bintang rock. “Malah saya punya keuntungan. Karena sudah pengalaman, saya bisa mengarahkan anak agar bermain musik dengan baik tanpa terpengaruh hal-hal buruk,” ujarnya.
Di antara empat anaknya, kata Soenatha, si bungsu, Victor Tanjung, mulai terlihat mengikuti darah bermusik bapaknya. “Dia bikin band sama teman-temannya. Ikut kursus juga. Posisinya sebagai drumer,” ujarnya.
Soenatha mengatakan tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk belajar musik. “Baru, kalau mereka minta, saya ajarin. Soalnya, hasil dari niat sendiri dibandingkan saya yang minta mereka belajar pasti akan berbeda,” tuturnya.
Kalau Soenatha memilih bermain gitar, itu dulu disebabkan pergaulan. Pada masa remajanya, sedang booming Elvis Presley yang selalu membawa gitar pada setiap konser. Dia pun mulai belajar gitar hingga bergabung dengan grup Arista Birawa pada 1964. Namun, Soenatha sudah memiliki background musik sebelumnya. “Alat musik yang pertama saya pelajari adalah biola,” kenangnya.
Itu disebabkan ayah Soenatha, Samuel Tanjung, adalah pemain biola. Bahkan, ayahnya masuk dalam grup musik saat masih berada di Bondowoso. “Setelah menginjak remaja, saya belajar gitar dan meninggalkan biola yang sudah kalah tren,” ujarnya.
Superkid - All The Girls In The World Beware!
Panggung musik rock Indonenia setidaknya pernah mengenal dua trio tangguh : SAS dan Superkid. Yang pertama beranggotakan Soenatha Tanjung (vokal, gitar, harmonika), Arthur Kaunang (vokal, bas, piano) dan Syech Abidin (vokal, drum). Ketiganya jarang tersentuh pemberitaan media cetak kecuali aksi panggungnya dalam memainkan memainkan jenis musik rumit dari ELP (Emerson, Lake & Palmer). Sedangkan yang kedua beranggotakan Deddy Dorres (vokal, gitar, keyboard), Deddy Stanzah (vokal, bas, harmonika) dan Jelly Tobing (vokal, drum). Kehidupan personilnya selalu menjadi konsumsi publik karena beragam kontroversi yang mereka ciptakan.
Kedua trio ini kerap bertemu satu panggung. Dengan dibumbui persaingan yang menjadi gaya publikasi khas saat itu, SAS dan Superkid seolah merupakan kata kunci untuk bisnis pertunjukan yang selalu menyedot penonton. Isu adanya sabotase yang dilancarkan pihak-pihak tertentu menjadi hal jamak. Pernah dalam sebuah pertunjukan bas drum Jelly Tobing jebol sehingga mengakibatkan pedalnya tidak dapat kembali ke posisi semula. Bagi seorang drummer, ini peristiwa fatal mengingat hubungannya dengan dinamika sebuah lagu. Namun personil Superkid rata-rata telah memiliki jam terbang tinggi. Accident barusan tak sampai mempengaruhi konsentrasi Stanzah dan Dorres untuk tetap bermain maksimal. Usai pertunjukan, Jelly mengaku melihat bekas goresan pisau pada kulit bas drumnya. Ia juga melihat serbuk garam bertebaran di atas karpet merah yang menjadi alas set drumnya. Adakah hubungannya dengan peristiwa nahas tadi? Walla hualam.
....dalam waktu relatif singkat nama band yang bermarkas di jalan Martadinata 70, Bandung, ini meroket. Melalui majalah Aktuil dimana ia turut merintis, Denny terus-menerus memberitakan artisnya dengan pencitraan sebagai band yang tidak takut tampil di mana pun, sehingga lambat laun publik pun menjadi penasaran. Mereka umumnya ingin tahu bagaimana penampilan trio yang personelnya terdiri para superstar tersebut. Menjelang pemunculan perdana di Aula ITB, 1975, tak kepalang tanggung Jelly diberitakan siap menggilas drummer top se-Bandung. Tak seperti Stanzah atau Dorres yang sudah mendapat tempat di hati publik rock Bandung, Jelly Tobing sepertinya harus berjuang keras untuk mendapat pengakuan kembali. Akibatnya beberapa hari sebelum pertunjukan ia mengaku tak bisa tidur. “Pokoknya latihan dan berdoa terus agar diberi kelancaran. Gue yakin Tuhan tak pernah tidur,” ceritanya.
Menurut Jelly Tobing, saat itu para drummer umumnya hanya memasang mikrofon pada jenis perangkat tertentu seperti bas atau snare. Ia lantas berpikir keras untuk tampil beda. Caranya antara lain dengan memasang mikrofon pada seluruh perangkat drumnya agar suara yang dihasilkan terdengar lebih menggelegar. Simbal dihajarnya dari arah bawah ke atas. Melalui teknik pukulan yang tak biasa ini Jelly Tobing bermain habis-habisan di hadapan penonton yang nyaris lebih dari sembilan puluh persen terdiri atas para pemusik.
Sejak itu nama Superkid identik dengan pertunjukan panggung yang selalu gegap gempita. Pernah ketika membuat atraksi penghancuran gitar Dorres, yang pada dasarnya bukan seorang “destroyer yang baik”, nampak ragu-ragu. Melihat temannya bertindak tanggung, Jelly segera merebut gitar tersebut dan menghancurkannya hingga berantakan. Begitulah. Penonton selalu mendapat kepuasan setiap kali Superkid muncul. Permintaan tampil pun mengalir. Nyaris tak ada waktu untuk beristirahat. Harus diakui bahwa mempersatukan ketiga superstar dalam sebuah format trio adalah tindakan jitu yang pernah dilakukan Denny Sabri. Superkid laksana bayi perkasa yang cepat menanjak dewasa.
THE TIELMAN BROTHER'S sejarah Rock n Roll Indonesia yang dilupakan bangsanya.
Ngefans sama The Beatles, Jimmy Hendrix, atau Rolling Stones! Sebuah hal yang wajar karena mereka-mereka itu memang musisi handal yang albumnya selalu dikenang sepanjang masa. Tapi jauh sebelum kejayaan mereka, Indonesia pernah mencatatkan sejarah mencetak band rock gokill pada akhir tahun 1960-an. Mereka bukan Koes Bersaudara ataupun Koesplus atau Panbers, mereka adalah The Tielman Brothers.
Cerita The Tielman Brothers dimulai ketika di Surabaya 4 bersaudara Tielman kecil sering memainkan lagu-lagu daerah pada tahun 1945. Mereka tampil saat sang Ayah yang berprofesi sebagai komandan tentara KNIL sering mengajak rekan-rekannya berpesta di rumah. Tak disangka ternyata penampilan kakak beradik ini sangat memukau penonton yang hadir dalam pesta itu. Karena yang hadir dalam pesta itu notabenenya adalah pejabat-pejabat maka The Tielman Brother tidak kesulitan untuk tampil di berbagai pagelaran musik. Mereka pernah tampil di Timor-timur bahkan mereka pernah tampil di hadapan presiden Soekarno di Jakarta pada bulan Desember 1949. Saat itu mereka masih membawakan lagu-lagu dari Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry and Gene Vincent. Dan mulai saat itu mereka berkonsentrasi untuk memainkan rock n roll yang lebih garang.Tahun 1957 mereka mendapat kesempatan untuk tour di Belanda, akhirnya The Tielman Brothers memutuskan untuk hijrah ke Belanda mengingat masa depannya akan lebih baik jika berada di negeri kincir angin itu. Penampilan pertama mereka adalah di Hotel De Schuur di Breda, dengan membawakan versi lain dari lagu Bye Bye Love nya The Everly Brothers. Setelah penampilan yang heboh di Belanda, The Tielman Brothers semakin dikenal di seluruh Belanda bahkan mereka sering diundang tampil di Belgia dan Jerman. Pada awal tahun 1960 The Tielman Brothers merilis 4 lagu ciptaan mereka sendiri, lagu itu antara lain My Maria, You're Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby. Lagu ciptaan mereka ternyata banyak disukai oleh orang-orang Belanda. Orang-orang Belanda sering menyebut aliran musik The Tielman Brothers sebagai aliran Indorock. Orang Belanda menyebut Indorock karena kebanyakan band-band tersebut beranggotakan orang-orang Indonesia. Selain The Tielman Brothers ada juga Band Electric Johnny & his Skyrockets , The Crazy Strangers, The Crazy Rockers dan The Black Dynamites(Los Indonesios). Sayang nampaknya di Indonesia sendiri eksistensi mereka kurang dikenal, orang Indonesia lebih menyukai The Beatles, Jimmy Hendrik, dan Rolling Stones. Padahal sebelum The Beatles terkenal Paul Mc Cartney pernah menonton band-band Indorock dan dia sangat terinspirasi akan musik-musik band indorock. Lalu teknik permainan gitar sang dewa gitar Jimmy Hendrik sebenarnya sudah dimainkan secara apik oleh The Tielman Brothers. Jadi berbanggalah Indonesia pernah memiliki The Tielman Brothers.
Freedom of Rhapsodia
Pengusung Sweet Rock dari Bandung
Jika kita menelusuri jejak perkembangan musik di kota Kembang Bandung sekitar tahun 60an, maka selain grup The Rollies, Paramor yang sudah dikenal, sebenarnya masih adalagi grup musik yang menjadi andalan kota Bandung. Ya… kelompok musik Freedom of Rhapsodia, yang biasa membawakan lagu-lagu barat/asing ini dibentuk oleh beberapa nama musisi, antara lain: Soleh Sugiarto Djayadihardja (drums, vocal); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M.Thahir (bass) dan Alam (lead vocal).
Namun jika ditelusuri lebih kebelakang, cikal bakal grup Freedom of Rhapsodia ini berawal dari grup Rhapsodia, dimana bergabung Utte M.Thahir (bass); Alfred (gitar); Ibung (drums); Sondang (keyboard) dan Alam (vocal). Setelah beberapa saat, Rhapsodia mengalami permasalahan internal yang berakibat dengan pergantian personil dan dengan masuknya Deddy Dores (keyboard, lead guitar), nama Rhapsodia pun ditambah dengan awalan Freedom.
Order untuk manggungpun sangat padat karena Rhapsodia merupakan band idola para pemaja di kota Bandung pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, disamping aksi panggung mereka yang atraktif serta para personilnya yang ganteng-ganteng, sebut saja; Deddy Dores yang sering disebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Edger Winter-nya Indonesia karena gaya permainannya dan senangnya dia menyanyikan lagu-lagu Edgar Winter seperti Southern Woman, Free Ride dll, adalah motor penggerak hidupnya aksi panggung disamping kelincahan lead vokalnya Soleh Sugiarto yang saat itu disebut sebut sebagai Alice Cooper-nya Indonesia karena seringnya dia membawakan lagu-lagu Alice Cooper seperti lagu ”School Out” yang merupakan lagu kebangsaannya diatas panggung,belum lagi Johanes Sarwono yang imut-imut ini mahir bermain keyboard, Kiky yang rambutnya suka diponi dahsyat dalam menggebuk drumnya dan Uthe yang lincah pada bass serta Dave Tahuhey yang sangat atraktif bermain Saxofon. Disamping itu mereka juga sering membawakan lagi-lagu dari Santana, James Brown, Deep Purple dan Uriah Heep disetiap penampilannya.
Kekuatan aransemen musik grup ini dimana mereka mampu memadukan alat musik tiup “brass section” ketika memainkan nomor-nomor souls dari James Brown, dan hard rock dari Deep Purple maupun Alice Cooper yang menjadikan ciri khas mereka , ketika merubah formasi grup ini, setelah didukung oleh: Soleh Sugiarto (drums ke lead vocal, trumpet); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M. Thahir (bass); Dave (saksophon, flute, ex group Memphis); Kicky (drums, ex group Memphis) dan J.Sarwono (organ), dan dengan formasi ini mereka terlihat lebih solid.
Dunia rekaman pun mulai dijelajah oleh Deddy Dores dan kawan-kawan. Pada tahun 1972, mereka masuk dunia rekaman dibawah naungan label Purnama Record. Album perdana yang melambungkan lagu hits ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ciptaan J.Sarwono, membuat nama grup Freedom Of Rhapsodia semakin dikenal di Tanah Air yang kabarnya album ini terjual hingga 50.000 keping.. Terlebih lagi vocal Deddy Dores yang rasanya sangat pas sekali dengan tipikal warna musik di album perdana ini. Tidaklah mengherankan jika lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ini setelah 35 tahun kemudian (tahun 2007) di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Rockestra, malah lagu tersebut terdengar lebih ‘rock’ dan warna musiknya lebih ‘gereget’ dibandingkan dari versi asli Freedom Of Rhapsodia (tahun ’72).
Keberhasilan Freedom Of Rhapsodia dalam rekaman, membuat beberapa promotor musik di Jakarta berani mengajak grup ini untuk tampil dalam konser terbuka dengan grup-grup musik yang sudah terkenal saat itu. Pada 24 Desember 1972, di Taman Ria Monas Jakarta, grup Freedom of Rhapsodia ditampilkan dengan grup musik pop D’Lloyd, Jakarta yang sedang naik daun saat itu. Penampilan Soleh (vokalis) mampu menghentakkan suasana, selain membawakan lagu dari Alice Cooper mereka juga membawakan lagu karya sendiri, seperti ‘Free to Love Another Girl’, sehingga menarik simpati para penonton Jakarta malam itu. Sekaligus memproklamirkan diri nama Freedom tanpa Rhapsodia.
Seperti diketahui, pemakaian nama dengan mengkaitkan nama Rhapsodia ini berlanjut, seperti The Rhapsodia Kings. Bahkan ketika Deddy Dores bergabung dengan grup rock Giant Step (tahun ’74) pada awalnya disebutkan nama grup barunya bersama Benny Soebardja tersebut, Giant Step Of Rhapsodia. Sedangkan grup Rhapsodia sendiri “comeback” pada tahun 1976 dengan Machyul dan kawan-kawan sebagai pengibarnya.
Untuk memposisikan diri sebagai sebuah grup yang memainkan music rock, Freedom mulai aktif melakukan tour-tour ke berbagai kota di Indonesia. Pada bulan Maret 1973, bertempat di Gedung Tenun Malang, kembali grup Freedom tampil bersama grup rock tangguh AKA yang sudah merajai dunia musik rock saat itu. Lagu “Hilangnya Seorang Gadis” merupakan lagu pamungkas bagi grup Freedom selain lagu Freedom ciptaan mereka sendiri sebagai lagu kebanggan mereka, walaupun dalam pergelaran musik rock sekalipun. Aransemen musik tiup yang biasanya dipadukan dengan nomor lagu rock, sedikit-demi sedikit mulai disederhanakan dalam aransemen musik mereka. Mengingat vocal utamanya, Soleh yang harus memfokuskan bernyanyi dan aksi panggung agar dapat mengendalikan “showmanship” grup Freedom sebagai grup musik rock.
Saat tampil di kota Semarang pada Mei 74. Soleh, sang vokalis dengan mengenakan jubah putih sambil membawa obor, menyanyikan nomor lagu dari Osibisa, yang berjudul “La-Ila Ilala”, dianggap membuat ‘sensasi’ dan ke’heboh’an untuk ukuran saat itu. Pasalnya, para penonton agak marah dan protes dengan keberanian Freedom membawakan lagu tersebut, karena dapat dikatakan inilah lagu pop pertama kali yang memakai kalimat ayat suci Al Quran, memuja Tuhan dan RasulNya (dalam bahasa Arab) dinyanyikan dalam suasana pertunjukkan musik “rock” yang gegap-gempita. Bahkan para jurnalis dan pengamat musik Semarang saat itu menilai bahwa lirik-lirik lagu yang dibawakan Soleh tersebut tergolong “liar” dan dianggap “menghina Tuhan”. Akibatnya, pihak berwajib melarang pemutaran lagu itu diseluruh radio-radio swasta di Jawa Tengah.
Dampak dari “kehebohan” mereka saat show di Semarang tersebut terdengar hingga ke kota asal mereka, Bandung. Dua (2) hari setelah itu, ketika Freedom diminta main di Gedung Merdeka Bandung untuk mengisi acara pesta sebuah sekolah, Soleh dan kawan-kawan berniat membawakan lagu Osibisa yang menghebohkan Semarang tersebut untuk menguji reaksi dan pandangan masyarakat Bandung. Namun niat ini tidak jadi dilakukan, karena “Ngeri juga masuk penjara”, komentar Soleh. Bahkan dari pengalaman selama mengadakan pentas pertunjukkan diberbagai kota di Indonesia, baru pertunjukkan kali ini Freedom dijaga ketat diseputar panggung oleh aparat keamanan berjumlah 20 orang, yang lumayan banyak untuk ukuran saat itu. Namun permintaan maaf Freedom kepada masyarakat Bandung lewat media cetak tetap dilakukan Soleh dan kawan-kawan, mengingat dua diantara para personil tersebut orangtuanya ada yang dikenal sebagai tokoh agama/ulama di Bandung saat itu.
Pada bulan Oktober 75 saat tampil bersama grup rock Ternchem, asal Solo di Taman Hiburan Rakyat Diponegoro Semarang, diantara personil Freedom yang tetap, ada nama Choqy Hutagalung (organ) musisi yang dikenal pernah bersama Eros Djarot semasa di Jerman membentuk grup Kopfjaeger (cikal bakal grup Barongs Band) dan pernah bergabung dengan Gang of Harry Roesli di awal tahun 70an. Kehadiran Choqy sebagai pemain organ sedikit banyak dapat mengimbangi peran J. Sarwono maupun Deddy Dores semasa mereka di grup Freedom ini. Bahkan nomor lagu “Love Story” sempat menarik simpati penonton ketika dimainkan Choqy secara manis diantara repertoar lagu-lagu keras yang dibawakan Freedom. Sedikit berbeda dari tampilan Freedom kali ini, ialah Soleh, sang vokalis dengan memakai “wig” kribo, sehingga terlihat seperti ke’banci2’an dengan kostum agak bercorak ‘glitter rock’ mampu menguasai penonton dan menuai sukses.
Keberadaan grup Freedom dalam dunia rekaman musik Indonesia, sempat terhenti ketika Freedom sudah menyelesaikan album keempat. Hal ini disebabkan karena mundurnya Deddy Dores (lead guitar, keyboard, vocal) yang sangat berperan dalam penciptaan dan penataan musik serta sebagai vokalis utama grup Freedom. Masa jeda yang berkepanjangan di dapur rekaman, akhirnya berhasil diatasi oleh Soleh dan kawan-kawan (tahun 1976) sejak hadirnya musisi Ferry Atmadibrata (organ) mantan personil No Bo asal Bandung serta Joko Juwono (gitar) menggantikan Utte. Dalam formasi ini, terlihat bahwa warna musik grup Freedom lebih dominan ke warna musik pop ketimbang warna musik pop-rock pada awalnya. Nomor lagu ‘Mawar Putih’ ciptaan Soleh Soegiarto (vokalis) dijadikan salah satu nomor andalan pada album kelima ini, dimana terasa sangat dipengaruhi warna musik grup Bimbo dan sangat kental dengan warna musik pop.
Sejak mundurnya Deddy Dores (Juni 1973), untuk bergabung dengan grup rock baru God Bless yang dimotori Achmad Albar, tidak membuat Soleh dan kawan-kawan terpengaruh. Malahan dalam formasi baru ini: Soleh (vocal); Utte (bass); Dave (lead guitar); Sarwono (organ) dan Kicky (drums), keberadaan aksi panggung yang ditampilkan Freedom saat tampil bersama grup AKA di Gelora Pancasila, Surabaya pada bulan Agustus 1974 semakin memikat mata. Aksi panggung Soleh, yang memang fanatik dengan gaya ala Alice Cooper, dengan diselingi atraksi melepaskan burung-burung merpati putih, sering mengundang simpati dari para penonton dan juga dari musisi rock yang tampil. Pasalnya, mereka mengidentikkan burung-burung merpati tersebut sebagai lambang “perdamaian” bagi sesama musisi rock yang kala itu sering diadu “duel meet” oleh sponsor pertunjukkan, seolah-olah ada yang harus kalah.
Semaraknya musik pop progresif ala Badai Band pada awal tahun 1977, membuat grup Freedom semakin sulit untuk memposisikan keberadaan warna musiknya dalam era ini. Sedangkan Soleh Soegiarto (vokalis), malahan sempat bersolo karir dengan membuat album ‘Sang Kala’ dibantu teman sesama musisi Bandung pada tahun 1978. Nomor lagu “Sang Kala” yang dinyanyikan Soleh, lebih menebarkan warna musik pop “mellow” dengan aransemenn yang jauh berbeda dengan trend musik yang ada.
Pada saat masuknya nama musisi Chossy Pratama kedalam formasi Freedom ini, mereka sempat membuat satu album “repackage” yang diberi judul “Freedom Of Rhapsodia 93”, dimana warna aransemen musiknya agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Hal ini mengingat bahwa, kehadiran Chossy Pratama, selain sebagai keyboardis juga sebagai pencipta dan penata musik untuk grup ini. Diluar grup ini, ia bahkan sering membantu dalam pembuatan illustrasi musik untuk beberapa film sinetron remaja. Namun eksisnya nama Chossy Pratama di grup Freedom ini, belumlah membantu grup ini untuk berkiprah lebih banyak didunia musik Indonesia, karena situasi dan kondisi dunia permusikan tidaklah serupa dengan awal kebangkitan mereka.
Meredupnya grup Freedom, seakan-akan seiring dengan mulai dikenalnya nama para personil yang berkiprah diluar bendera grup ini. Soleh Soegiarto (vokalis), semakin terkenal setelah menjadi aktivis salah satu organisasi kepemudaan dan sekarang menjadi anggota DPRD di kota Bandung; Utte (bass) lebih memilih kuliah dan sekarang menjalankan bisnis entertainment; J. Sarwono (Keyboard) sekarang menjadi Lawyer; Kicky (drums) masih melanjutkan karirnya didunia “entertainment”; Deddy Dores (lead guitar/vocal) lebih menonjol sebagai pemandu bakat artis penyanyi rock seperti Nike Ardilla (alm), Nia Astrina, Mayangsari (sekarang beralih ke musik pop) dan beberapakali membentuk grup music diantaranya Superkid, Lipstick, Caezar, Sansekerta dsb, dan sekarang sebagai Ketua Suara Perjuangan Artis Indonesia (Spaind). Sedangkan Chossy Pratama dikabarkan telah menjadi pengusaha yang sukses. Ferry Atmadibrata, sempat bergabung dengan One Dee Group (pimpinan Wandi ODALF), selain sebagai pencipta lagu dan penata musik di beberapa rekaman penyanyi komersial.
FREEDOM IS BACK
Setelah lebih dari tiga dekade menghilang, beberapa waktu yang lalu mereka tampil pada acara Blues Night di TVRI untuk menggobati kerinduan pengemarnya, Freedom muncul kembali dengan formasi Djoko Yuwono (gitar), Kiky (drum), Ferry Atmadibrata (keyboard), Dave Tahuhey (Bass), Harry Potjang (harmonika) dan Soleh Sugiarto (vokal) mereka menyanyikan tiga buah lagu, dan yang paling mengagumkan adalah ketika mereka menyanyikan lagu dari The Doors ” Light My Fire” yang dinyanyikan oleh Soleh Sugiarto dan Djoko Yuwono yang dinyanyikan dengan sangat prima.
Discography:
Freedom Of Rhapsodia
1972. Vol 1 (Hilangnya Seorang Gadis ) Purnama Record
1973. Vol 2 (Hancurnya Sebuah Harapan ) Purnama Record
Freedom
1974. Vol 3 ( Tak Pernah Bahagia ) Purnama Record
1974. Vol 4 ( Dedication ) Purnama Record
1975. Vol 5 ( Jangan Lupa Tertawa)Purnama Record
1975. Pop Mandarin
1983. Freedom Of Rhapsodia’83 Asri Record/Asia Record
1991. Freedom Of Rhapsodia’91 Bursa Musik
Rhapsodia
1977 Superstar. Nusantara Record
Solo album Soleh Sugiarto
1977 Sang Kala Purnama Record.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar