BERITA NASIONAL
IMAM PANDHU WAHYUDI
IMAM PANDHU WAHYUDI
Pangdam V Brawijaya Latihan Militer Prosedural

SURABAYA - Polemik berkepanjangan tentang latihan perang kota di makam Tionghoa Kupang Jaya membuat Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suwarno turun tangan. Kemarin (15/4), orang nomor satu di jajaran TNI-AD Jawa Timur tersebut membeberkan segala hal terkait dengan latihan pertempuran jarak dekat tersebut di Aula Kodam V Brawijaya.
Kali pertama yang dibantah adalah soal Syamsul Arifin, warga setempat yang dikabarkan lehernya terluka gara-gara terkena peluru nyasar. ''Kami telah melakukan penyelidikan internal. Tidak mungkin luka tersebut akibat peluru nyasar,'' tegas jenderal TNI berbintang dua tersebut.
Dia menjelaskan, DenpomV/4 Surabaya telah meminta visum terhadap Syamsul Arifin. Hasil visum yang dilakukan dr F.X. Rahardianto itu menyebutkan bahwa luka goresan berukuran 1 cm yang telah mengering disertai kemerahan di sekitarnya itu disebabkan oleh benda tajam.
Bila luka yang terjadi pada korban akibat peluru tajam, luka itu akan tampak seperti luka koyak. Jika terkena tembakan peluru hampa, yang terlihat adalah luka bakar. ''Tidak mungkin terkena selongsong amunisi hampa yang digunakan pasukan kami,'' ujar Suwarno.
Dia juga membuat semacam ilustrasi untuk menjelaskan detail peristiwa yang terjadi saat Samsul terluka. Menurut dia, semua pasukan menghadap ke arah makam (barat). Sementara itu, Samsul berada di sisi kiri pasukan. ''Dia (Samsul, Red) berada di warung dan di sisi kiri pasukan,'' paparnya.
Suwarno kemudian meminta Kasi Ops Korem 084 Bhaskara Jaya Letkol Supriono untuk menembakkan senapan SS-1 amunisi hampa yang moncongnya diberi recoil dop (penutup laras). Setelah ditembakkan, objek tembakan berupa papan tripleks tidak menunjukkan bekas apa-apa. Selongsong juga keluar dari samping kanan. ''Mustahil bila Samsul yang ada di sisi kiri terkena lontaran selongsong,'' ucapnya.
Dia juga memastikan bahwa selongsong peluru itu tidak membahayakan. ''Selongsong peluru yang baru keluar dari senapan memang panas, tapi tidak sampai membakar,'' ungkapnya.
Dengan dasar simulasi semacam itu, Suwarno yakin luka di leher Samsul bukan disebabkan aktivitas latihan militer atau terkena peluru nyasar. Hal itu pula yang kemudian membuat Danrem 084 Bhaskara Jaya berancang-ancang melaporkan Samsul ke Polwiltabes Surabaya.
''Danrem kabarnya sudah berkoordinasi dengan polwiltabes. Tapi, saya belum berpikir sejauh itu. Kami tidak mau urusan jadi panjang,'' katanya.
Yang jadi masalah, apakah latihan militer di tengah permukiman padat seperti itu sudah melalui perencanaan matang? Suwarno menuturkan bahwa semua prosedur sebelum memulai latihan sudah dilalui dengan baik. ''Surat perizinan, pemberitahuan, sampai perencanaan sudah baik,'' tegasnya.
Kalau memang semua sudah baik, mengapa timbul gejolak? ''Itu juga yang menjadi pertanyaan kami. Mengapa sampai ada yang protes dan sepertinya ada yang memanfaatkan kesempatan untuk memojokkan kami,'' jawabnya.
Kisruh latihan perang itu juga sempat memunculkan tudingan bahwa TNI-AD dimanfaatkan pihak tertentu untuk menakuti-nakuti warga. Tujuannya, warga pindah dari lokasi tersebut, mengingat mereka membuat permukiman secara ilegal.
Saat hal tersebut ditanyakan kepada Pangdam, Danrem 084 Bhaskara Jaya Kolonel Mashuri langsung berinisiatif menjawab. ''Kami sudah lama berlatih di tempat itu. Sejak saya masih pangkat letnan dua, sekitar 1982-1983, saya juga latihan di situ. Jadi, di situ memang tempat latihan Batalyon 516 Caraka Yudha sejak lama,'' urainya. ''Tak benar kalau kami menakut-nakuti warga,'' tegasnya.
Suwarno juga menambahkan bahwa pihaknya sering melakukan latihan di pusat keramaian. ''Kami pernah menggelar latihan di Hotel JW Marriott, Hotel Shangri-La, dan Tunjungan Plaza. Jadi, latihan di pusat keramaian bukan hal asing bagi kami,'' ujarnya. Untuk itu, dia berharap kontroversi soal latihan militer pada Jumat (10/4) disudahi.
Apakah latihan militer bakal dilanjutkan lagi? Suwarno menyatakan pihaknya masih mengkaji. ''Setiap latihan militer yang telah kami lakukan selalu dievaluasi. Bila kurang efektif atau sasaran telah tercapai, kami akan mengakhiri,'' katanya.
Sebagaimana diberitakan, latihan pertempuran jarak dekat (PJD) atau perang kota yang dilakukan Batalyon 516 Caraka Yudha di Makam Putat Jaya berakhir ricuh, Jumat (10/4). Seorang warga mengklaim lehernya terluka akibat aktivitas latihan itu. Semua warga (yang mengaku menempati tanah tersebut secara ilegal, Red) juga terusik karena keberadaan para tentara membuat anak-anak takut.
Latihan tersebut dilakukan Batalyon 516 sejak sebulan lalu. Berdasar surat pemberitahuan ke polisi, diketahui bahwa batalyon itu mengadakan latihan secara maraton. Dimulai pukul 07.00 hingga pukul 17.00, kemudian dilanjutkan pukul 19.00-24.00.
Warga kemudian mengadu ke LBH, lalu diteruskan dengan protes ke panglima TNI dan sejumlah instansi lain. LBH Surabaya menyebut latihan itu melanggar HAM. (ano/kuh/fat).
WASHINGTON - Presiden AS Barack Hussein Obama kini punya ''anggota keluarga'' baru. Namanya Bo, anjing air Portugal yang berusia enam bulan. Anjing ''resmi'' Gedung Putih itu Selasa (kemarin waktu Indonesia) diperkenalkan kepada publik. ''Dia dipilih karena memiliki karakter bintang,'' tutur Obama di Washington.
Saat kampanye, Obama memang pernah menjanjikan kedua putrinya seekor anjing peliharaan. Sebelum memilih Bo, presiden pertama AS berkulit hitam itu telah mempertimbangkan sejumlah anjing lain. ''Lebih mudah memilih menteri perdagangan,'' kata Obama saat itu. Tapi, pilihan akhirnya jatuh kepada Bo karena anjing jenis itu memiliki bulu hitam yang tidak membuat alergi putrinya, Malia.
Sebelum diboyong ke Gedung Putih, anjing pemberian Senator Edward Kennedy itu mesti menjalani latihan selama sebulan. Dan, baru pekan ini diperkenalkan secara resmi. Senator Demokrat asal Massachusetts, AS, itu memberikan Bo kepada Obama karena tidak bisa akur dengan anjing lain di rumahnya. ''Kami sangat gembira melihat kebahagiaan yang dibawa Bo kepada Malia dan Sasha (putri Obama),'' imbuh Kennedy.
Gedung Putih selama ini memang punya tradisi memiliki hewan peliharaan resmi. George W. Bush, misalnya, juga memiliki sejumlah anjing kesayangan. Bill Clinton pun memiliki anjing labrador dan putrinya, Chelsea, memelihara seekor kucing.
Sesuai namanya, anjing air Portugal (Portuguese water dog) memang berasal dari negara kecil di Eropa itu. Di masa lalu, anjing ini dilatih untuk menghalau ikan agar masuk jaring nelayan. Para nelayan juga memanfaatkannya sebagai kurir antarperahu atau ke daratan. (AP/AFP/oki)

SURABAYA - PT Bayu Bringin Lestari tak memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemkot. Mereka tak membongkar sendiri bangunannya yang melanggar izin mendirikan bangunan (IMB). Akhirnya, kemarin satpol PP merobohkan sejumlah bangunan tanpa izin itu.
Sekitar seratus personel satpol PP turun tangan. Mereka dibantu 40 polisi plus petugas bakesbang linmas. Para petugas itu merobohkan tembok yang panjangnya lebih dari 400 meter.
Penertiban kemarin dilakukan karena manajemen Surabaya Plaza tidak menepati janjinya yang akan membongkar sendiri bangunannya. Mereka hanya membongkar sekitar 5 meter pagar di belakang patung Surabaya di areal Arena Ketabang.
Akhirnya, pemkot mengeluarkan surat perintah bongkar tertanggal 14 April. Dalam surat itu disebutkan bahwa bangunan yang melanggar IMB harus dibongkar. Hanya, pembongkaran tersebut tidak bisa dilakukan sekaligus. Dalam tahap pertama kemarin, satpol PP hanya menghancurkan tembok pembatas. ''Kami perlu menyiapkan sebelum membongkar gedungnya,'' kata Kabid Tata Bangunan di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR).
Dia menambahkan, pembongkaran gedung belum bisa dilakukan karena pertimbangan properti yang ada di dalamnya. Misalnya, alat pendingin, kursi, dan meja. Jika dipaksakan membongkar gedung, dikhawatirkan ada peralatan yang rusak maupun hilang. ''Kalau ada apa-apa, kami yang bertanggung jawab,'' ucapnya. Meski demikian, pemkot tidak akan berlama-lama memberikan waktu untuk mengeluarkan isi gedung.
Kepala Satpol PP Utomo yang memimpin penertiban menegaskan, surat perintah pembongkaran bersifat kumulatif. Isinya menyangkut semua bangunan yang melanggar. ''Bukan hanya tembok,'' tegasnya.
Pembongkaran gedung diperkirakan baru dimulai hari ini. Sebab, barang-barang di dalam bangunan masih utuh. Kemarin, satpol PP juga sudah memerintah agar manajemen mengeluarkan semua isi bangunan. ''Kalau tidak dikeluarkan, ya biar anggota saya yang mengeluarkan,'' ungkapnya.
Karena itulah, peralatan berat ditinggalkan di lokasi pembongkaran karena akan dilanjutkan sampai selesai. Apalagi, masih tersisa empat bangunan yang belum tersentuh. Yakni, gudang, gedung olahraga, kantin, dan tempat pengolahan sampah.
M. Isa, salah seorang anggota jajaran direksi di manajemen PT Bayu Bringin Lestari menyatakan tidak berkeberatan atas pembongkaran itu. ''Saya orang baru. Lagi pula, IMB itu dikeluarkan 1986,'' ujarnya sambil berjalan menuju kantornya.
Dia menambahkan, pembongkaran tersebut adalah kebijakan pemkot. Karena itulah, dia tidak mempersilakan jika akan dilakukan pembongkaran. (eko/dos)
SURABAYA - Polemik berkepanjangan tentang latihan perang kota di makam Tionghoa Kupang Jaya membuat Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suwarno turun tangan. Kemarin (15/4), orang nomor satu di jajaran TNI-AD Jawa Timur tersebut membeberkan segala hal terkait dengan latihan pertempuran jarak dekat tersebut di Aula Kodam V Brawijaya.
Kali pertama yang dibantah adalah soal Syamsul Arifin, warga setempat yang dikabarkan lehernya terluka gara-gara terkena peluru nyasar. ''Kami telah melakukan penyelidikan internal. Tidak mungkin luka tersebut akibat peluru nyasar,'' tegas jenderal TNI berbintang dua tersebut.
Dia menjelaskan, DenpomV/4 Surabaya telah meminta visum terhadap Syamsul Arifin. Hasil visum yang dilakukan dr F.X. Rahardianto itu menyebutkan bahwa luka goresan berukuran 1 cm yang telah mengering disertai kemerahan di sekitarnya itu disebabkan oleh benda tajam.
Bila luka yang terjadi pada korban akibat peluru tajam, luka itu akan tampak seperti luka koyak. Jika terkena tembakan peluru hampa, yang terlihat adalah luka bakar. ''Tidak mungkin terkena selongsong amunisi hampa yang digunakan pasukan kami,'' ujar Suwarno.
Dia juga membuat semacam ilustrasi untuk menjelaskan detail peristiwa yang terjadi saat Samsul terluka. Menurut dia, semua pasukan menghadap ke arah makam (barat). Sementara itu, Samsul berada di sisi kiri pasukan. ''Dia (Samsul, Red) berada di warung dan di sisi kiri pasukan,'' paparnya.
Suwarno kemudian meminta Kasi Ops Korem 084 Bhaskara Jaya Letkol Supriono untuk menembakkan senapan SS-1 amunisi hampa yang moncongnya diberi recoil dop (penutup laras). Setelah ditembakkan, objek tembakan berupa papan tripleks tidak menunjukkan bekas apa-apa. Selongsong juga keluar dari samping kanan. ''Mustahil bila Samsul yang ada di sisi kiri terkena lontaran selongsong,'' ucapnya.
Dia juga memastikan bahwa selongsong peluru itu tidak membahayakan. ''Selongsong peluru yang baru keluar dari senapan memang panas, tapi tidak sampai membakar,'' ungkapnya.
Dengan dasar simulasi semacam itu, Suwarno yakin luka di leher Samsul bukan disebabkan aktivitas latihan militer atau terkena peluru nyasar. Hal itu pula yang kemudian membuat Danrem 084 Bhaskara Jaya berancang-ancang melaporkan Samsul ke Polwiltabes Surabaya.
''Danrem kabarnya sudah berkoordinasi dengan polwiltabes. Tapi, saya belum berpikir sejauh itu. Kami tidak mau urusan jadi panjang,'' katanya.
Yang jadi masalah, apakah latihan militer di tengah permukiman padat seperti itu sudah melalui perencanaan matang? Suwarno menuturkan bahwa semua prosedur sebelum memulai latihan sudah dilalui dengan baik. ''Surat perizinan, pemberitahuan, sampai perencanaan sudah baik,'' tegasnya.
Kalau memang semua sudah baik, mengapa timbul gejolak? ''Itu juga yang menjadi pertanyaan kami. Mengapa sampai ada yang protes dan sepertinya ada yang memanfaatkan kesempatan untuk memojokkan kami,'' jawabnya.
Kisruh latihan perang itu juga sempat memunculkan tudingan bahwa TNI-AD dimanfaatkan pihak tertentu untuk menakuti-nakuti warga. Tujuannya, warga pindah dari lokasi tersebut, mengingat mereka membuat permukiman secara ilegal.
Saat hal tersebut ditanyakan kepada Pangdam, Danrem 084 Bhaskara Jaya Kolonel Mashuri langsung berinisiatif menjawab. ''Kami sudah lama berlatih di tempat itu. Sejak saya masih pangkat letnan dua, sekitar 1982-1983, saya juga latihan di situ. Jadi, di situ memang tempat latihan Batalyon 516 Caraka Yudha sejak lama,'' urainya. ''Tak benar kalau kami menakut-nakuti warga,'' tegasnya.
Suwarno juga menambahkan bahwa pihaknya sering melakukan latihan di pusat keramaian. ''Kami pernah menggelar latihan di Hotel JW Marriott, Hotel Shangri-La, dan Tunjungan Plaza. Jadi, latihan di pusat keramaian bukan hal asing bagi kami,'' ujarnya. Untuk itu, dia berharap kontroversi soal latihan militer pada Jumat (10/4) disudahi.
Apakah latihan militer bakal dilanjutkan lagi? Suwarno menyatakan pihaknya masih mengkaji. ''Setiap latihan militer yang telah kami lakukan selalu dievaluasi. Bila kurang efektif atau sasaran telah tercapai, kami akan mengakhiri,'' katanya.
Sebagaimana diberitakan, latihan pertempuran jarak dekat (PJD) atau perang kota yang dilakukan Batalyon 516 Caraka Yudha di Makam Putat Jaya berakhir ricuh, Jumat (10/4). Seorang warga mengklaim lehernya terluka akibat aktivitas latihan itu. Semua warga (yang mengaku menempati tanah tersebut secara ilegal, Red) juga terusik karena keberadaan para tentara membuat anak-anak takut.
Latihan tersebut dilakukan Batalyon 516 sejak sebulan lalu. Berdasar surat pemberitahuan ke polisi, diketahui bahwa batalyon itu mengadakan latihan secara maraton. Dimulai pukul 07.00 hingga pukul 17.00, kemudian dilanjutkan pukul 19.00-24.00.
Warga kemudian mengadu ke LBH, lalu diteruskan dengan protes ke panglima TNI dan sejumlah instansi lain. LBH Surabaya menyebut latihan itu melanggar HAM. (ano/kuh/fat).
Pilih Anjing Peliharaan Lebih Sulit daripada Pilih Menteri
Saat kampanye, Obama memang pernah menjanjikan kedua putrinya seekor anjing peliharaan. Sebelum memilih Bo, presiden pertama AS berkulit hitam itu telah mempertimbangkan sejumlah anjing lain. ''Lebih mudah memilih menteri perdagangan,'' kata Obama saat itu. Tapi, pilihan akhirnya jatuh kepada Bo karena anjing jenis itu memiliki bulu hitam yang tidak membuat alergi putrinya, Malia.
Sebelum diboyong ke Gedung Putih, anjing pemberian Senator Edward Kennedy itu mesti menjalani latihan selama sebulan. Dan, baru pekan ini diperkenalkan secara resmi. Senator Demokrat asal Massachusetts, AS, itu memberikan Bo kepada Obama karena tidak bisa akur dengan anjing lain di rumahnya. ''Kami sangat gembira melihat kebahagiaan yang dibawa Bo kepada Malia dan Sasha (putri Obama),'' imbuh Kennedy.
Gedung Putih selama ini memang punya tradisi memiliki hewan peliharaan resmi. George W. Bush, misalnya, juga memiliki sejumlah anjing kesayangan. Bill Clinton pun memiliki anjing labrador dan putrinya, Chelsea, memelihara seekor kucing.
Sesuai namanya, anjing air Portugal (Portuguese water dog) memang berasal dari negara kecil di Eropa itu. Di masa lalu, anjing ini dilatih untuk menghalau ikan agar masuk jaring nelayan. Para nelayan juga memanfaatkannya sebagai kurir antarperahu atau ke daratan. (AP/AFP/oki)
Diduga Pemilik Home industri Sabu-Sabu Ada Hubungan dengan Handoko
UNTUK kali kesekian, pabrik sabu-sabu (SS) yang digerebek di metropolis terkait dengan nama Handoko, bos pabrik SS Nginden Intan. Yang digerebek kemarin, Hariyanto, produsen SS yang dibekuk Mabes Polri itu, juga ''berbau'' Handoko.
Handoko ditangkap tiga tahun lalu. Setelah itu, sebagian home industry obat haram tersebut selalu mengarah pada ilmu pembuatan SS ala Handoko. Salah satunya adalah pabrik SS rumahan milik Yansen Lie yang dibekuk Polwiltabes Surabaya pada September 2007.
Lalu, ada penemuan catatan pembuatan SS milik Allan Leonardo Tjahyana di Rutan Medaeng pada 2007. Allan maupun Yansen disebut-sebut sebagai tangan kanan Handoko.
Menurut salah seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut, Hariyanto adalah pemain lama. Dia pernah menjadi ''distributor besar'' sabu-sabu milik Handoko. Dia dua kali ditangkap Polda Jatim. Yang pertama pada 2004. Ketika itu, dia dibekuk dengan barang bukti sedikit, hanya 1,5 gram.
Kemudian, pria yang juga dikenal dengan nama Ko Hin alias Hariyanto Porong lantaran punya rumah di Porong itu ditangkap lagi di Giant, Kendangsari, 2006. Bersama temannya yang bernama Raymond, Hariyanto dibekuk dengan barang bukti 2 kilogram sabu-sabu. Petugas sempat mendapat nama Handoko. Tapi, Handoko keburu meloloskan diri sebelum akhirnya dibekuk Unit Idik II Satnarkoba Polwiltabes Surabaya.
Namun, Surabaya saat itu masih menjadi ''surga" para bandar narkoba. Buktinya, dengan barang bukti 2 kilogram sabu-sabu, Hariyanto hanya terkena vonis setahun enam bulan penjara.
Selain itu, kaitan dengan Handoko tampak pada metode pembuatan SS. Mereka suka menggunakan ephedrine, bahan baku SS, berbentuk tablet. (ano/dos)
Handoko ditangkap tiga tahun lalu. Setelah itu, sebagian home industry obat haram tersebut selalu mengarah pada ilmu pembuatan SS ala Handoko. Salah satunya adalah pabrik SS rumahan milik Yansen Lie yang dibekuk Polwiltabes Surabaya pada September 2007.
Lalu, ada penemuan catatan pembuatan SS milik Allan Leonardo Tjahyana di Rutan Medaeng pada 2007. Allan maupun Yansen disebut-sebut sebagai tangan kanan Handoko.
Menurut salah seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut, Hariyanto adalah pemain lama. Dia pernah menjadi ''distributor besar'' sabu-sabu milik Handoko. Dia dua kali ditangkap Polda Jatim. Yang pertama pada 2004. Ketika itu, dia dibekuk dengan barang bukti sedikit, hanya 1,5 gram.
Kemudian, pria yang juga dikenal dengan nama Ko Hin alias Hariyanto Porong lantaran punya rumah di Porong itu ditangkap lagi di Giant, Kendangsari, 2006. Bersama temannya yang bernama Raymond, Hariyanto dibekuk dengan barang bukti 2 kilogram sabu-sabu. Petugas sempat mendapat nama Handoko. Tapi, Handoko keburu meloloskan diri sebelum akhirnya dibekuk Unit Idik II Satnarkoba Polwiltabes Surabaya.
Namun, Surabaya saat itu masih menjadi ''surga" para bandar narkoba. Buktinya, dengan barang bukti 2 kilogram sabu-sabu, Hariyanto hanya terkena vonis setahun enam bulan penjara.
Selain itu, kaitan dengan Handoko tampak pada metode pembuatan SS. Mereka suka menggunakan ephedrine, bahan baku SS, berbentuk tablet. (ano/dos)
Bangunan Milik Surabaya Plaza Dibongkar Satpol PP
SURABAYA - PT Bayu Bringin Lestari tak memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemkot. Mereka tak membongkar sendiri bangunannya yang melanggar izin mendirikan bangunan (IMB). Akhirnya, kemarin satpol PP merobohkan sejumlah bangunan tanpa izin itu.
Sekitar seratus personel satpol PP turun tangan. Mereka dibantu 40 polisi plus petugas bakesbang linmas. Para petugas itu merobohkan tembok yang panjangnya lebih dari 400 meter.
Penertiban kemarin dilakukan karena manajemen Surabaya Plaza tidak menepati janjinya yang akan membongkar sendiri bangunannya. Mereka hanya membongkar sekitar 5 meter pagar di belakang patung Surabaya di areal Arena Ketabang.
Akhirnya, pemkot mengeluarkan surat perintah bongkar tertanggal 14 April. Dalam surat itu disebutkan bahwa bangunan yang melanggar IMB harus dibongkar. Hanya, pembongkaran tersebut tidak bisa dilakukan sekaligus. Dalam tahap pertama kemarin, satpol PP hanya menghancurkan tembok pembatas. ''Kami perlu menyiapkan sebelum membongkar gedungnya,'' kata Kabid Tata Bangunan di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR).
Dia menambahkan, pembongkaran gedung belum bisa dilakukan karena pertimbangan properti yang ada di dalamnya. Misalnya, alat pendingin, kursi, dan meja. Jika dipaksakan membongkar gedung, dikhawatirkan ada peralatan yang rusak maupun hilang. ''Kalau ada apa-apa, kami yang bertanggung jawab,'' ucapnya. Meski demikian, pemkot tidak akan berlama-lama memberikan waktu untuk mengeluarkan isi gedung.
Kepala Satpol PP Utomo yang memimpin penertiban menegaskan, surat perintah pembongkaran bersifat kumulatif. Isinya menyangkut semua bangunan yang melanggar. ''Bukan hanya tembok,'' tegasnya.
Pembongkaran gedung diperkirakan baru dimulai hari ini. Sebab, barang-barang di dalam bangunan masih utuh. Kemarin, satpol PP juga sudah memerintah agar manajemen mengeluarkan semua isi bangunan. ''Kalau tidak dikeluarkan, ya biar anggota saya yang mengeluarkan,'' ungkapnya.
Karena itulah, peralatan berat ditinggalkan di lokasi pembongkaran karena akan dilanjutkan sampai selesai. Apalagi, masih tersisa empat bangunan yang belum tersentuh. Yakni, gudang, gedung olahraga, kantin, dan tempat pengolahan sampah.
M. Isa, salah seorang anggota jajaran direksi di manajemen PT Bayu Bringin Lestari menyatakan tidak berkeberatan atas pembongkaran itu. ''Saya orang baru. Lagi pula, IMB itu dikeluarkan 1986,'' ujarnya sambil berjalan menuju kantornya.
Dia menambahkan, pembongkaran tersebut adalah kebijakan pemkot. Karena itulah, dia tidak mempersilakan jika akan dilakukan pembongkaran. (eko/dos)
Operasi Perdana Kembar Siam Janeeta-Janeetra Sejam Lebih Cepat

SURABAYA - Operasi perdana pemasangan alat pengembang jaringan kulit (tissue expander) pada kembar siam Janeeta-Janeetra kemarin (15/4) terbilang sukses. Operasi rampung sejam lebih cepat dari perkiraan. Si kembar pun stabil hingga tadi malam.
Operasi tersebut diprediksi berlangsung pukul 08.30 hingga 14.30. Namun, alat itu sudah terpasang komplet pukul 13.30. Tindakan medis tersebut dilakukan di kamar 609 lantai 6 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU dr Soetomo.
Operasi itu ditayangkan di layar monitor ruang pertemuan lantai 1 GBPT. Pengunjung bisa mengikuti jalannya operasi menit per menit.
Sejak pukul 08.00, tampak puluhan pengunjung memadati ruang pertemuan tersebut. Mulai wartawan, dokter, perawat, paramedis, hingga pengunjung awam. Tampak pula ayah Janet-Neta, panggilan bayi kembar tersebut, Yus Aminuddin, di antara kerumunan penonton.
Pria 39 tahun itu tampak rileks melihat anaknya dioperasi. Sesekali dia tersenyum dan menyalami pengunjung. ''Ibunya (Nur Rohmah, Red) kembali ke kamar (Ruang Perawatan Irna Anak, Red). Dia tidak tega melihat proses ini. Satu sayatan pertama saja, dia langsung menangis,'' ujar Ateng, panggilan akrab Yus Aminuddin.
Meski operasi inti dilakukan pukul 08.30, sejatinya tim dokter melakukan persiapan sejak pukul 06.00. Tim yang pertama turun adalah dokter spesialis anestesi (pembiusan). Mereka melakukan beberapa tahap praoperasi. Mulai pemberian antibiotik hingga pembiusan total. Itu dilakukan agar si kembar tetap steril serta bebas dari infeksi. Persiapan tersebut memakan waktu hingga 2,5 jam.
Setelah rampung, tim dokter bedah plastik dan rekonstruksi melakukan tugasnya. Tim tersebut terdiri atas Prof dr Sjaifuddin Noer SpB SpBP (K), Prof Dr dr David Sontani Perdanaksuma SpBP, dr Iswinarno Doso Saputro SpBP, serta dr Sitti Rizaliyana SpBP.
Mengawali operasi, tim dokter melakukan irisan sepanjang 5 cm tepat di tengah bagian yang dempet. Lubang itu diproyeksikan untuk memasukkan tissue expander. Selain itu, dari lubang itu pula tim dokter membuat area di bawah lapisan otot kulit dada dan perut bayi. Yang digarap kali pertama adalah bagian kanan.
Menurut Sjaifuddin, area tersebut selebar 9 cm dan panjang 14 cm. Itu cukup untuk menanam tissue yang lebarnya mencapai 7 cm dan panjang 12 cm. ''Kami sudah perkirakan dengan matang,'' tegas Prof Ending, panggilan akrab Sjaifuddin.
Tahap kanan itu memakan waktu dua jam, pukul 09.00 hingga 11.00. Setelah itu, proses yang sama dilakukan di dada dan perut bayi sebelah kiri. Total ada empat tissue yang ditanam. Dokter lalu melakukan penjahitan di lubang yang terbuka.
Setelah itu, tim dokter mengisi cairan berupa larutan garam fisilogis (NaCl) sebanyak 40 cc pada masing-masing tissue. Injeksi tersebut dilakukan dari slang tissue. Tim dokter sengaja membiarkan slang berada di luar. ''Tujuannya, pengisian cairan akan mudah,'' ujar Prof Ending. Pengisian cairan tersebut mengakhiri keseluruhan tahap operasi.
Dia menjelaskan, operasi tersebut berjalan sangat mulus. Namun, dia tetap mewaspadai risiko yang bisa timbul. Di antaranya, jaringan kulit yang mati dan infeksi. Hal tersebut, menurut Prof Ending, harus diwaspadai karena jaringan tubuh bisa menolak tissue expander yang notabene adalah benda asing.
''Namun, kami tetap mengantisipasi secara maksimal,'' tegasnya. ''Caranya macam-macam. Mulai perawatan luka, pemberian antibiotik, dan pengawasan terhadap kuman dengan intensif,'' lanjut putra mantan Gubernur Jatim M. Noer tersebut.
Pascaoperasi, Janet-Neta lantas dibawa ke Intensive Care Unit (ICU) GBPT. Kembar siam berusia 9 bulan tersebut lantas diisolasi dan dirawat.
Diperkirakan, hari ini Janet-Neta sudah bisa dipindah dari ICU ke ruang perawatan luka bakar (Burn Unit) lantai 4 GBPT. Seminggu pascaoperasi, tim dokter akan kembali mengisi cairan NaCl sebanyak 15-30 cc. Hal itu akan dilakukan berulang-ulang setiap tiga hari sekali.
Dokter baru menghentikan pengisian jika tissue expander terisi cairan sebanyak 400 cc atau dirasa sudah cukup. ''Kami prediksi, proses itu memakan waktu sampai 10 minggu,'' tegas Prof Ending. (nur/dos)
SURABAYA - Operasi perdana pemasangan alat pengembang jaringan kulit (tissue expander) pada kembar siam Janeeta-Janeetra kemarin (15/4) terbilang sukses. Operasi rampung sejam lebih cepat dari perkiraan. Si kembar pun stabil hingga tadi malam.
Operasi tersebut diprediksi berlangsung pukul 08.30 hingga 14.30. Namun, alat itu sudah terpasang komplet pukul 13.30. Tindakan medis tersebut dilakukan di kamar 609 lantai 6 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSU dr Soetomo.
Operasi itu ditayangkan di layar monitor ruang pertemuan lantai 1 GBPT. Pengunjung bisa mengikuti jalannya operasi menit per menit.
Sejak pukul 08.00, tampak puluhan pengunjung memadati ruang pertemuan tersebut. Mulai wartawan, dokter, perawat, paramedis, hingga pengunjung awam. Tampak pula ayah Janet-Neta, panggilan bayi kembar tersebut, Yus Aminuddin, di antara kerumunan penonton.
Pria 39 tahun itu tampak rileks melihat anaknya dioperasi. Sesekali dia tersenyum dan menyalami pengunjung. ''Ibunya (Nur Rohmah, Red) kembali ke kamar (Ruang Perawatan Irna Anak, Red). Dia tidak tega melihat proses ini. Satu sayatan pertama saja, dia langsung menangis,'' ujar Ateng, panggilan akrab Yus Aminuddin.
Meski operasi inti dilakukan pukul 08.30, sejatinya tim dokter melakukan persiapan sejak pukul 06.00. Tim yang pertama turun adalah dokter spesialis anestesi (pembiusan). Mereka melakukan beberapa tahap praoperasi. Mulai pemberian antibiotik hingga pembiusan total. Itu dilakukan agar si kembar tetap steril serta bebas dari infeksi. Persiapan tersebut memakan waktu hingga 2,5 jam.
Setelah rampung, tim dokter bedah plastik dan rekonstruksi melakukan tugasnya. Tim tersebut terdiri atas Prof dr Sjaifuddin Noer SpB SpBP (K), Prof Dr dr David Sontani Perdanaksuma SpBP, dr Iswinarno Doso Saputro SpBP, serta dr Sitti Rizaliyana SpBP.
Mengawali operasi, tim dokter melakukan irisan sepanjang 5 cm tepat di tengah bagian yang dempet. Lubang itu diproyeksikan untuk memasukkan tissue expander. Selain itu, dari lubang itu pula tim dokter membuat area di bawah lapisan otot kulit dada dan perut bayi. Yang digarap kali pertama adalah bagian kanan.
Menurut Sjaifuddin, area tersebut selebar 9 cm dan panjang 14 cm. Itu cukup untuk menanam tissue yang lebarnya mencapai 7 cm dan panjang 12 cm. ''Kami sudah perkirakan dengan matang,'' tegas Prof Ending, panggilan akrab Sjaifuddin.
Tahap kanan itu memakan waktu dua jam, pukul 09.00 hingga 11.00. Setelah itu, proses yang sama dilakukan di dada dan perut bayi sebelah kiri. Total ada empat tissue yang ditanam. Dokter lalu melakukan penjahitan di lubang yang terbuka.
Setelah itu, tim dokter mengisi cairan berupa larutan garam fisilogis (NaCl) sebanyak 40 cc pada masing-masing tissue. Injeksi tersebut dilakukan dari slang tissue. Tim dokter sengaja membiarkan slang berada di luar. ''Tujuannya, pengisian cairan akan mudah,'' ujar Prof Ending. Pengisian cairan tersebut mengakhiri keseluruhan tahap operasi.
Dia menjelaskan, operasi tersebut berjalan sangat mulus. Namun, dia tetap mewaspadai risiko yang bisa timbul. Di antaranya, jaringan kulit yang mati dan infeksi. Hal tersebut, menurut Prof Ending, harus diwaspadai karena jaringan tubuh bisa menolak tissue expander yang notabene adalah benda asing.
''Namun, kami tetap mengantisipasi secara maksimal,'' tegasnya. ''Caranya macam-macam. Mulai perawatan luka, pemberian antibiotik, dan pengawasan terhadap kuman dengan intensif,'' lanjut putra mantan Gubernur Jatim M. Noer tersebut.
Pascaoperasi, Janet-Neta lantas dibawa ke Intensive Care Unit (ICU) GBPT. Kembar siam berusia 9 bulan tersebut lantas diisolasi dan dirawat.
Diperkirakan, hari ini Janet-Neta sudah bisa dipindah dari ICU ke ruang perawatan luka bakar (Burn Unit) lantai 4 GBPT. Seminggu pascaoperasi, tim dokter akan kembali mengisi cairan NaCl sebanyak 15-30 cc. Hal itu akan dilakukan berulang-ulang setiap tiga hari sekali.
Dokter baru menghentikan pengisian jika tissue expander terisi cairan sebanyak 400 cc atau dirasa sudah cukup. ''Kami prediksi, proses itu memakan waktu sampai 10 minggu,'' tegas Prof Ending. (nur/dos)
Warga Bertahan, Jelang Penertiban Setren Jagir-Panjangjiw0
[ Senin, 04 Mei 2009 ]
SURABAYA - Sesuai rencana, pemkot bakal membongkar bangunan di kawasan setren di Jalan Jagir sampai Panjangjiwo hari ini (4/5). Pemkot telah menyiapkan serangkaian persiapan untuk bisa merobohkan bangunan yang berdiri di tanah Dinas PU Pengairan Jatim itu. Meski demikian, sebagian warga yang menolak digusur memilih tetap bertahan dan melawan penggusuran tersebut.
Beberapa persiapan yang telah dilakukan pemkot, antara lain, rapat maraton hingga akhir pekan lalu. Rapat itu, antara lain, membahas strategi penggusuran yang diprediksi mendapatkan perlawanan dari warga yang menolak digusur. Tidak hanya itu, pengamanan selama penertiban juga dilakukan bersama polisi, satpol PP, dan bakesbanglinmas.
Terakhir, pada Sabtu (2/4), pemkot membahas rencana relokasi warga setren ke rusun yang telah disediakan. Instansi di Jalan Jimerto itu bahkan telah membuat diskresi berupa kemudahan bagi warga setren yang mau pindah ke rusun.
Persiapan matang itu dilakukan mengingat penertiban setren berpotensi mendapatkan perlawanan besar-besaran dari warga. Apalagi, sebelumnya pemkot dua kali gagal menertibkan karena adanya gejolak warga.
Kegagalan pertama terjadi saat pemkot akan menertibkan kawasan itu awal 2008. Meski sudah mempersiapkan dengan matang, bangunan yang dianggap membahayakan tanggul sungai tersebut batal ditertibkan. Rencana penertiban itu dibahas sekitar April 2008.
Saat itu, gejolak warga mulai terlihat. Warga menegaskan menolak pembongkaran tersebut. Gejolak tersebut berlangsung hingga Juni 2008. Akhirnya, rencana penertiban itu gagal karena berdekatan dengan pelaksanaan pemilihan gubernur (pilgub) Jatim.
Pemkot khawatir, gejolak warga tersebut justru mengancam pilgub. Karena itulah, rencana tersebut ditunda hingga usai pemilihan.
Meski pemilihan usai, pemkot tidak langsung mengambil langkah lanjutan. Pemkot baru membahasnya awal 2009. Padahal, pada April 2009, ada gawe pemilihan legislatif. Meski sudah direncanakan matang, penertiban tersebut batal dilakukan.
Alasannya pun sama, menjaga ketertiban menjelang pemilihan. Apalagi saat itu, beberapa caleg yang memiliki basis massa di kawasan setren berusaha mencegah penertiban dengan melakukan intervensi. Padahal, pemkot sudah menetapkan gambaran waktu pelaksanaan.
Asisten I Sekkota Bagyo Fandi Sutadi mengatakan, pemkot sudah menyiapkan segala sesuatu yang mungkin terjadi saat penertiban. Mulai pengamanan, pelaksanaan penertiban, sampai setelah penertiban. "Pemkot tidak hanya menggusur, tapi juga memberikan solusi kepada warga," katanya.
Mekanisme penertiban juga sudah dilakukan. Di antaranya, sosialisasi sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, pada 23 April lalu, pemkot mengirimkan surat pemberitahuan kepada warga yang tinggal di setren melalui kecamatan. Mereka diberi waktu hingga 30 April untuk membongkar sendiri rumahnya.
Ternyata, sampai deadline yang sudah diberikan, warga tidak merespons surat tersebut. Warga masih tetap menempati bangunan itu hingga kemarin. "Sesuai peraturan, pemkot bisa melakukan tindakan tegas. Yang jelas, semua mekanisme dan prosedur sudah dilakukan," tuturnya.
Dengan persiapan tersebut, pemkot tidak ingin pelaksanaan penertiban kali ini gagal. "Sesuai perintah Pak Wali begitu," tambahnya.
Dia tidak memungkiri akan adanya perlawanan dari warga. Namun, alasan yang dikhawatirkan, seperti tempat tinggal, sudah diantisipasi dengan menyediakan rusun dengan syarat yang sangat mudah. Bahkan, pemkot menyediakan angkutan untuk mengangkut barang-barang warga ke rusun tersebut secara gratis.
Di sisi lain, warga juga memiliki rencana matang untuk menghadang pemkot. Mereka bersikukuh menempati bangunan mereka dan tidak mau pindah, meski pemkot akan mengerahkan petugas.
"Warga sepakat tidak akan pindah," kata Khoirul Huda, salah seorang pedagang pancing. Menurut dia, warga tidak sepakat terhadap solusi yang ditawarkan pemkot dengan memindahkan ke rusun.
Menurut dia, meski sudah tinggal di rusun, warga tetap menghadapi masalah. Sebab, untuk menyambung hidup, mereka membuka usaha di kawasan jalan tersebut. Karena itulah, meski memiliki tempat tinggal, mereka khawatir tidak bisa makan.
Saat ditanya apakah akan melawan, Huda diam saja. Dia menegaskan tidak akan meninggalkan bangunannya tersebut. Apalagi, setelah pindah mereka belum pasti langsung mendapatkan pekerjaan baru yang bisa dijadikan sumber untuk menyambung hidup. (eko/dos)
Beberapa persiapan yang telah dilakukan pemkot, antara lain, rapat maraton hingga akhir pekan lalu. Rapat itu, antara lain, membahas strategi penggusuran yang diprediksi mendapatkan perlawanan dari warga yang menolak digusur. Tidak hanya itu, pengamanan selama penertiban juga dilakukan bersama polisi, satpol PP, dan bakesbanglinmas.
Terakhir, pada Sabtu (2/4), pemkot membahas rencana relokasi warga setren ke rusun yang telah disediakan. Instansi di Jalan Jimerto itu bahkan telah membuat diskresi berupa kemudahan bagi warga setren yang mau pindah ke rusun.
Persiapan matang itu dilakukan mengingat penertiban setren berpotensi mendapatkan perlawanan besar-besaran dari warga. Apalagi, sebelumnya pemkot dua kali gagal menertibkan karena adanya gejolak warga.
Kegagalan pertama terjadi saat pemkot akan menertibkan kawasan itu awal 2008. Meski sudah mempersiapkan dengan matang, bangunan yang dianggap membahayakan tanggul sungai tersebut batal ditertibkan. Rencana penertiban itu dibahas sekitar April 2008.
Saat itu, gejolak warga mulai terlihat. Warga menegaskan menolak pembongkaran tersebut. Gejolak tersebut berlangsung hingga Juni 2008. Akhirnya, rencana penertiban itu gagal karena berdekatan dengan pelaksanaan pemilihan gubernur (pilgub) Jatim.
Pemkot khawatir, gejolak warga tersebut justru mengancam pilgub. Karena itulah, rencana tersebut ditunda hingga usai pemilihan.
Meski pemilihan usai, pemkot tidak langsung mengambil langkah lanjutan. Pemkot baru membahasnya awal 2009. Padahal, pada April 2009, ada gawe pemilihan legislatif. Meski sudah direncanakan matang, penertiban tersebut batal dilakukan.
Alasannya pun sama, menjaga ketertiban menjelang pemilihan. Apalagi saat itu, beberapa caleg yang memiliki basis massa di kawasan setren berusaha mencegah penertiban dengan melakukan intervensi. Padahal, pemkot sudah menetapkan gambaran waktu pelaksanaan.
Asisten I Sekkota Bagyo Fandi Sutadi mengatakan, pemkot sudah menyiapkan segala sesuatu yang mungkin terjadi saat penertiban. Mulai pengamanan, pelaksanaan penertiban, sampai setelah penertiban. "Pemkot tidak hanya menggusur, tapi juga memberikan solusi kepada warga," katanya.
Mekanisme penertiban juga sudah dilakukan. Di antaranya, sosialisasi sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, pada 23 April lalu, pemkot mengirimkan surat pemberitahuan kepada warga yang tinggal di setren melalui kecamatan. Mereka diberi waktu hingga 30 April untuk membongkar sendiri rumahnya.
Ternyata, sampai deadline yang sudah diberikan, warga tidak merespons surat tersebut. Warga masih tetap menempati bangunan itu hingga kemarin. "Sesuai peraturan, pemkot bisa melakukan tindakan tegas. Yang jelas, semua mekanisme dan prosedur sudah dilakukan," tuturnya.
Dengan persiapan tersebut, pemkot tidak ingin pelaksanaan penertiban kali ini gagal. "Sesuai perintah Pak Wali begitu," tambahnya.
Dia tidak memungkiri akan adanya perlawanan dari warga. Namun, alasan yang dikhawatirkan, seperti tempat tinggal, sudah diantisipasi dengan menyediakan rusun dengan syarat yang sangat mudah. Bahkan, pemkot menyediakan angkutan untuk mengangkut barang-barang warga ke rusun tersebut secara gratis.
Di sisi lain, warga juga memiliki rencana matang untuk menghadang pemkot. Mereka bersikukuh menempati bangunan mereka dan tidak mau pindah, meski pemkot akan mengerahkan petugas.
"Warga sepakat tidak akan pindah," kata Khoirul Huda, salah seorang pedagang pancing. Menurut dia, warga tidak sepakat terhadap solusi yang ditawarkan pemkot dengan memindahkan ke rusun.
Menurut dia, meski sudah tinggal di rusun, warga tetap menghadapi masalah. Sebab, untuk menyambung hidup, mereka membuka usaha di kawasan jalan tersebut. Karena itulah, meski memiliki tempat tinggal, mereka khawatir tidak bisa makan.
Saat ditanya apakah akan melawan, Huda diam saja. Dia menegaskan tidak akan meninggalkan bangunannya tersebut. Apalagi, setelah pindah mereka belum pasti langsung mendapatkan pekerjaan baru yang bisa dijadikan sumber untuk menyambung hidup. (eko/dos)
Ribuan Direktur dan Manajer Ikuti ANEC 2009
[ Senin, 04 Mei 2009 ]
SURABAYA - Sebuah perusahaan tidak akan maju kalau karyawannya tidak bergairah. Berdasar pemikiran itulah, PT Total Quality Indonesia, perusahaan jasa motivasi korporasi, kembali mengadakan Annual National Empowerment Congress (ANEC) dengan tema Giving is Rich kemarin (3/5). Ribuan direktur, manajer, dan karyawan dari sekitar 400 perusahaan di Indonesia memadati Supermal Surabaya Convention Center (SSCC) untuk mengikuti kongres motivasi tahunan tersebut.
Sebelum acara dimulai, direktur maupun manajer berjalan melintasi karpet merah menuju ke panggung. Tepuk tangan menggema seiring nama mereka disebut satu per satu. Misalnya saja, ketika pembawa acara menyebut nama H M. Roeslan, owner PT Wahyu Manunggal Sejati, mitra PT HM Sampoerna. Sekitar seribu orang bertepuk tangan. Mereka adalah karyawan perusahaan tersebut.
Setelah itu, pembawa acara mengundang Johan Yan, direktur PT Total Quality Indonesia, penggagas ANEC 2009. Mengenakan setelan jas hitam, dia berlari dari sisi kiri panggung. Kemudian, diikuti Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut tak kalah bersemangat. Sambil tersenyum, dia melambaikan tangan. Tak disangka, saat memasuki panggung, Gus Ipul tiba-tiba koprol. Aksi spontannya itu tentu saja mengundang tepuk tangan seisi gedung.
''Saya baru kali pertama mengikuti acara motivasi semacam ini. Entahlah, begitu memasuki ruangan ini, saya jadi terbawa suasana. Jadi ikut bersemangat,'' ucapnya.
Begitu bersemangat dia melakukan aksi koprol tersebut. ''Ya, tadi melakukan dengan spontan. Saya ingin memberikan kesan mendalam untuk acara ini,'' lanjutnya.
Selain Gus Ipul, hadir Wawali Arif Afandi. Acara tersebut dibuka Gus Ipul dengan pemukulan gong. Sebenarnya, ANEC 2009 akan dibuka mantan Ketua MPR Amien Rais, tapi yang bersangkutan berhalangan hadir. Dia menyampaikan pesan maafnya melalui rekaman video.
ANEC 2009 menghadirkan sembilan pembicara yang merupakan top entrepreneur di bidangnya. Mereka adalah H M. Roeslan (bos PT Wahyu Manunggal Sejati); Errol Jonathans (direktur Suara Surabaya Media); Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos dan comissioner DetEksi Basketball League); Misbahul Huda (Presdir PT Temprina, Jawa Pos Group); Johan Yan dan Budiono Lie (direktur dan wakil direktur PT Total Quality Indonesia); Aulia Ersyah Marinto (vice president corporate account management Telkomsel); Sujoko Efferin (dekan Fakultas Ekonomi Ubaya); serta Nuryadi (direktur Politeknik Indonesia).
Sembilan pembicara itu berbagi tentang kesuksesan membesarkan perusahaan masing-masing dalam tiga sesi. Sesi pertama diisi Budiono Lie, Azrul Ananda, Sujoko Efferin, dan Aulia Ersyah Marinto. Sujoko Efferin dalam ceritanya menjelaskan, seorang individu harus percaya bahwa memberi akan membuat kita lebih berarti.
''Apa yang kita lakukan kalau hanya kita sendiri yang bisa memaknai, itu akan menjadi kesia-siaan. Tetapi, kalau kita memberikannya kepada orang lain, kita akan menjadi lebih kaya,'' tuturnya.
Acara yang telah diselenggarakan untuk kali tiga itu cukup unik. Setiap acara membuahkan rekor Muri (Museum Rekor Indonesia). Pada 2007, mereka mendapatkan dua rekor. Pertama, kongres yang dihadiri direktur dan manajer terbanyak. Yakni, 152 direktur dan 1.415 manajer. Kedua, mindset reprogramming yang dilakukan di depan peserta terbanyak.
Tahun lalu, dua rekor tersebut dipecahkan karena jumlah direktur dan manajer yang hadir lebih banyak. Yaitu, 518 direktur dan 4.073 manajer. Kali ini, rekornya agak berbeda. Yakni, launching buku Poor is Sin karya Johan Yan dan Viruzz Marketing karya Budiono Lie dengan apresiasi lebih dari 500 direktur dan 5.000 manajer.
''Inti acara ini bukan rekornya. Tetapi, lebih kepada penyebarluasan pemikiran bahwa giving is rich. Sehingga, akan timbul motivasi di dalam sebuah perusahaan, baik pimpinan maupun karyawan,'' tutur Johan Yan. (jan)
Sebelum acara dimulai, direktur maupun manajer berjalan melintasi karpet merah menuju ke panggung. Tepuk tangan menggema seiring nama mereka disebut satu per satu. Misalnya saja, ketika pembawa acara menyebut nama H M. Roeslan, owner PT Wahyu Manunggal Sejati, mitra PT HM Sampoerna. Sekitar seribu orang bertepuk tangan. Mereka adalah karyawan perusahaan tersebut.
Setelah itu, pembawa acara mengundang Johan Yan, direktur PT Total Quality Indonesia, penggagas ANEC 2009. Mengenakan setelan jas hitam, dia berlari dari sisi kiri panggung. Kemudian, diikuti Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut tak kalah bersemangat. Sambil tersenyum, dia melambaikan tangan. Tak disangka, saat memasuki panggung, Gus Ipul tiba-tiba koprol. Aksi spontannya itu tentu saja mengundang tepuk tangan seisi gedung.
''Saya baru kali pertama mengikuti acara motivasi semacam ini. Entahlah, begitu memasuki ruangan ini, saya jadi terbawa suasana. Jadi ikut bersemangat,'' ucapnya.
Begitu bersemangat dia melakukan aksi koprol tersebut. ''Ya, tadi melakukan dengan spontan. Saya ingin memberikan kesan mendalam untuk acara ini,'' lanjutnya.
Selain Gus Ipul, hadir Wawali Arif Afandi. Acara tersebut dibuka Gus Ipul dengan pemukulan gong. Sebenarnya, ANEC 2009 akan dibuka mantan Ketua MPR Amien Rais, tapi yang bersangkutan berhalangan hadir. Dia menyampaikan pesan maafnya melalui rekaman video.
ANEC 2009 menghadirkan sembilan pembicara yang merupakan top entrepreneur di bidangnya. Mereka adalah H M. Roeslan (bos PT Wahyu Manunggal Sejati); Errol Jonathans (direktur Suara Surabaya Media); Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos dan comissioner DetEksi Basketball League); Misbahul Huda (Presdir PT Temprina, Jawa Pos Group); Johan Yan dan Budiono Lie (direktur dan wakil direktur PT Total Quality Indonesia); Aulia Ersyah Marinto (vice president corporate account management Telkomsel); Sujoko Efferin (dekan Fakultas Ekonomi Ubaya); serta Nuryadi (direktur Politeknik Indonesia).
Sembilan pembicara itu berbagi tentang kesuksesan membesarkan perusahaan masing-masing dalam tiga sesi. Sesi pertama diisi Budiono Lie, Azrul Ananda, Sujoko Efferin, dan Aulia Ersyah Marinto. Sujoko Efferin dalam ceritanya menjelaskan, seorang individu harus percaya bahwa memberi akan membuat kita lebih berarti.
''Apa yang kita lakukan kalau hanya kita sendiri yang bisa memaknai, itu akan menjadi kesia-siaan. Tetapi, kalau kita memberikannya kepada orang lain, kita akan menjadi lebih kaya,'' tuturnya.
Acara yang telah diselenggarakan untuk kali tiga itu cukup unik. Setiap acara membuahkan rekor Muri (Museum Rekor Indonesia). Pada 2007, mereka mendapatkan dua rekor. Pertama, kongres yang dihadiri direktur dan manajer terbanyak. Yakni, 152 direktur dan 1.415 manajer. Kedua, mindset reprogramming yang dilakukan di depan peserta terbanyak.
Tahun lalu, dua rekor tersebut dipecahkan karena jumlah direktur dan manajer yang hadir lebih banyak. Yaitu, 518 direktur dan 4.073 manajer. Kali ini, rekornya agak berbeda. Yakni, launching buku Poor is Sin karya Johan Yan dan Viruzz Marketing karya Budiono Lie dengan apresiasi lebih dari 500 direktur dan 5.000 manajer.
''Inti acara ini bukan rekornya. Tetapi, lebih kepada penyebarluasan pemikiran bahwa giving is rich. Sehingga, akan timbul motivasi di dalam sebuah perusahaan, baik pimpinan maupun karyawan,'' tutur Johan Yan. (jan)
Taman di Beberapa Sudut Kota Surabaya Mulai Menguning
Sedangkan banyaknya pohon yang mulai mati, menurut dia, disebabkan faktor virus dan usia. "Sebelumnya, kami coba suntik pohon yang rusak dengan obat melalui pengeboran. Tapi, banyak yang belum berhasil," ungkap dia. Rencananya, beberapa pohon mati tersebut diganti dengan pohon baru jenis trembesi. "Tapi, kami usahakan dulu. Kalau tidak bias, kami ganti," tambahnya.
Menurut dia, selama ini DKP memang tidak mengantisipasi sebelum virus menyerang seluruh pohon. "Kalau ada laporan pohon terkena virus, baru kami tangani," ucapnya. Bisa jadi akibat tidak ada pencegahan sebelum terkena virus, banyak pohon kemudian mati.
Sementara itu, menanggapi persiapan musim kemarau, DKP akan memaksimalkan penyiraman saja. "Program penyiraman kami tingkatkan, sedangkan pemotongan rumput dan penghias tanaman kami kurangi," jelas dia. (eko/gun)
[ Senin, 04 Mei 2009 ]
SURABAYA - Beberapa bulan terakhir suasana taman di Surabaya mulai berubah. Pohon dan tanaman hijau yang sebelumnya memenuhi taman di beberapa sudut kota kini mulai berkurang. Bahkan, dedaunan pohon di tepi jalan tidak serimbun dulu.
Berdasar pantauan Jawa Pos, taman di Jalan Diponegoro tidak lagi penuh. Ada sisa tanah yang sejatinya bisa ditanami tapi dibiarkan terbuka. Bahkan, ada tanaman yang mengering, tapi belum diganti.
Kondisi pepohonan di kawasan tersebut hampir sama. Dilihat sekilas, daun pohon-pohon tersebut sedikit. Bahkan, ada beberapa pohon yang daunnya sangat minim sehingga rantingnya sangat jelas terlihat.
Kondisi tidak jauh berbeda didapati di taman traffic light ujung Jalan Diponegoro. Di taman berbentuk mirip segitiga itu ada beberapa tanaman yang tercerabut, tepatnya di pojok sisi utara. Meski demikian, tampilan tanaman tersebut belum diperbaiki.
Hal serupa terjadi di taman perempatan Jalan Embong Malang dan Bubutan. Hanya tanah yang terlihat di beberapa bagian lahan. Sedangkan tanamannya sudah tercerabut.
Kerusakan taman paling mencolok didapati di kawasan Taman Bungkul. Sejengkal lahan yang dibuat melingkar mengelilingi taman utama tidak lagi dipenuhi tanaman. Ada rongga-rongga lahan yang tanamannya sudah mati atau tercerabut. Jika dihitung, sedikitnya tujuh titik tanaman tercerabut.
Jika dilihat, tanaman tersebut mati karena diinjak pengunjung taman yang hendak menyeberang ke luar tanpa melalui jalan yang sudah disediakan. Akibatnya, tanaman terinjak, ludes, hingga akhirnya mati. Meski demikian, tanaman yang mati itu belum diganti sehingga lahannya tampak berlubang.
Di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, pepohonan juga meranggas. Jumlah daun di setiap pohon tidak sebanyak sebelumnya.
Bukan hanya pohon yang daunnya berguguran. Di Jalan Raya Darmo bahkan ada dua pohon berdiri berdampingan yang hampir mati. Batang paling bawah sampai ujung ranting pohon tersebut berwarna kecokelatan seperti mati. Tidak ada satu helai daun pun yang menempel di pohon depan warung makanan cepat saji itu.
Anehnya, di jalan tersebut hanya ada dua pohon yang mengering. Padahal, pohon-pohon lain masih berdaun dan tidak kering. Meski kondisi tersebut terlihat sejak dua pekan lalu, pemkot belum juga menangani. Pohon itu dibiarkan berdiri begitu saja.
Kondisi serupa didapati di Taman Bungkul. Sebuah pohon mengering di sisi depan. Pohon yang usianya diperkirakan 15 tahun itu hanya menyisakan batang. Tidak terlihat daun yang menempel di pohon tersebut.
Menanggapi kondisi itu, Mohammad Aminuddin, Kabid Pertamanan dan Penerangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, menjelaskan bahwa kurang hijaunya beberapa wilayah di Surabaya disebabkan masa pergantian tanaman. "Kami kan tiap empat bulan mengadakan perbaikan dan tanam ulang. Itu yang mungkin mengakibatkan beberapa jalur hijau tampak tidak rimbun," ujar dia. Masa perbaikan juga terkendala dengan mulai datangnya musim kemarau.
Berdasar pantauan Jawa Pos, taman di Jalan Diponegoro tidak lagi penuh. Ada sisa tanah yang sejatinya bisa ditanami tapi dibiarkan terbuka. Bahkan, ada tanaman yang mengering, tapi belum diganti.
Kondisi pepohonan di kawasan tersebut hampir sama. Dilihat sekilas, daun pohon-pohon tersebut sedikit. Bahkan, ada beberapa pohon yang daunnya sangat minim sehingga rantingnya sangat jelas terlihat.
Kondisi tidak jauh berbeda didapati di taman traffic light ujung Jalan Diponegoro. Di taman berbentuk mirip segitiga itu ada beberapa tanaman yang tercerabut, tepatnya di pojok sisi utara. Meski demikian, tampilan tanaman tersebut belum diperbaiki.
Hal serupa terjadi di taman perempatan Jalan Embong Malang dan Bubutan. Hanya tanah yang terlihat di beberapa bagian lahan. Sedangkan tanamannya sudah tercerabut.
Kerusakan taman paling mencolok didapati di kawasan Taman Bungkul. Sejengkal lahan yang dibuat melingkar mengelilingi taman utama tidak lagi dipenuhi tanaman. Ada rongga-rongga lahan yang tanamannya sudah mati atau tercerabut. Jika dihitung, sedikitnya tujuh titik tanaman tercerabut.
Jika dilihat, tanaman tersebut mati karena diinjak pengunjung taman yang hendak menyeberang ke luar tanpa melalui jalan yang sudah disediakan. Akibatnya, tanaman terinjak, ludes, hingga akhirnya mati. Meski demikian, tanaman yang mati itu belum diganti sehingga lahannya tampak berlubang.
Di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, pepohonan juga meranggas. Jumlah daun di setiap pohon tidak sebanyak sebelumnya.
Bukan hanya pohon yang daunnya berguguran. Di Jalan Raya Darmo bahkan ada dua pohon berdiri berdampingan yang hampir mati. Batang paling bawah sampai ujung ranting pohon tersebut berwarna kecokelatan seperti mati. Tidak ada satu helai daun pun yang menempel di pohon depan warung makanan cepat saji itu.
Anehnya, di jalan tersebut hanya ada dua pohon yang mengering. Padahal, pohon-pohon lain masih berdaun dan tidak kering. Meski kondisi tersebut terlihat sejak dua pekan lalu, pemkot belum juga menangani. Pohon itu dibiarkan berdiri begitu saja.
Kondisi serupa didapati di Taman Bungkul. Sebuah pohon mengering di sisi depan. Pohon yang usianya diperkirakan 15 tahun itu hanya menyisakan batang. Tidak terlihat daun yang menempel di pohon tersebut.
Menanggapi kondisi itu, Mohammad Aminuddin, Kabid Pertamanan dan Penerangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, menjelaskan bahwa kurang hijaunya beberapa wilayah di Surabaya disebabkan masa pergantian tanaman. "Kami kan tiap empat bulan mengadakan perbaikan dan tanam ulang. Itu yang mungkin mengakibatkan beberapa jalur hijau tampak tidak rimbun," ujar dia. Masa perbaikan juga terkendala dengan mulai datangnya musim kemarau.
Sedangkan banyaknya pohon yang mulai mati, menurut dia, disebabkan faktor virus dan usia. "Sebelumnya, kami coba suntik pohon yang rusak dengan obat melalui pengeboran. Tapi, banyak yang belum berhasil," ungkap dia. Rencananya, beberapa pohon mati tersebut diganti dengan pohon baru jenis trembesi. "Tapi, kami usahakan dulu. Kalau tidak bias, kami ganti," tambahnya.
Menurut dia, selama ini DKP memang tidak mengantisipasi sebelum virus menyerang seluruh pohon. "Kalau ada laporan pohon terkena virus, baru kami tangani," ucapnya. Bisa jadi akibat tidak ada pencegahan sebelum terkena virus, banyak pohon kemudian mati.
Sementara itu, menanggapi persiapan musim kemarau, DKP akan memaksimalkan penyiraman saja. "Program penyiraman kami tingkatkan, sedangkan pemotongan rumput dan penghias tanaman kami kurangi," jelas dia. (eko/gun)
