jutec 99

Sabtu, 25 April 2009

SPORT

IMAM PANDHU WAHYUDI

Berita Utama
[ Minggu, 26 April 2009 ]
Liverpool Surplus 40 Gol
HULL - Saling gusur di puncak klasemen makin memanaskan persaingan juara Premier League musim ini antara Manchester United (MU) dengan Liverpool. Tadi malam WIB (26/4), Liverpool kembali mengudeta United menyusul kemenangan 3-1 (1-0) atas Hull City di Stadion Kingston Communcations.

Dengan tambahan tiga poin, The Reds - julukan Liverpool - kini menyamai perolehan poin United menjadi 74 poin. Tapi, keunggulan selisih gol membuat Liverpool berada di atas United. Yakni surplus 40 gol (66-26) banding surplus 35 gol (56-21).

Meski begitu, posisi Liverpool rentan hanya bertahan sekitar dua jam. Jika United mampu mengatasi Tottenham Hotspur di Stadion Old Trafford dini hari tadi WIB (27/4), Setan Merah - julukan United - kembali menempati posisi semula. Kalaupun kalah dini hari tadi, United masih punya kesempatan karena memainkan satu laga lebih sedikit dibandingkan Liverpool.

Saat ini, Liverpool telah bermain 34 laga, sedangkan United 33 laga jika laga menghadpi Tottenham ikut dihitung. Sebagai catatan, Premier League bakal memainkan laga pemungkas (laga ke-38) pada 24 Mei mendatang.

''Hasil inilah yang kami harapkan karena kami terus memberikan tekanan kepada Manchester United," kata Rafael Benitez, pelatih Liverpool, sebagaimana dikutip Sky Sports.

Dalam laga tadi malam, Liverpool sempat mendapatkan perlawanan ketat dari Hull di awal pertandingan. Tapi, free kick rebound Xabi Alonso dari luar kotak penalti memberi keunggulan The Reds di pengujung babak pertama. Gol itu menjadi bukti jika gelandang timnas Spanyol itu mampu mengisi peran skipper Steven Gerrard yang masih absen karena cedera pangkal paha.

Di babak kedua, angin segar diperoleh Liverpool saat The Tigers - julukan Hull- harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-59. Yakni setelah Caleb Folan dikenai kartu merah oleh wasit Martin Atkinson akibat mendorong dan menendang Martin Skrtel saat keduanya mengejar bola di area kotak penalti Liverpool.

''Kartu merah terhadap pemain Hull (Folan) layak diberikan karena kita semua melihat ada tendangan bagi pemain kami (Skrtel)," komentar Benitez.

Keunggulan jumlah pemain direspons The Reds dengan mencetak gol kedua empat menit berselang. Yakni diciptakan penyerang Belanda Dirk Kuyt lewat sundulan memanfaatkan bola liar. Tuan rumah sempat menipiskan ketertinggalan pada menit ke-72 lewat Marcio Geovanni. Tapi, Kuyt memupus asa tuan rumah lewat golnya pada menit ke-89.

Sementara di laga lainnya di Stadion Upton Park, Chelsea meraih kemenangan tipis 1-0 (0-0) atas tuan rumah West Ham United. Gol semata wayang The Blues - sebutan Chelsea - dicetak Salomon Kalou pada menit ke-55. West Ham sebenarnya punya kesempatan menyeimbangkan keadaan pada menit ke-71. Sayang, eksekusi penalti Mark Noble mampu diantisipasi kiper Chelsea Petr Cech.

Kemenangan membawa Chelsea tetap menguntit persaingan Liverpool dan United. Berada di peringkat ketiga, tim asuhan Guus Hiddink itu kini mengoleksi 71 poin dari 34 laga. (dns/aww)

Berita Utama
[ Minggu, 26 April 2009 ]
El Real Harus Hadapi Jadwal Pertandingan Maut
Sevilla v Real Madrid

SEVILLA - Real Madrid belum menyerah dalam perburuan gelar Liga Primera. Sang juara bertahan itu yakin dapat mengejar ketertinggalan enam poin dari Barcelona di enam laga sisa. Namun, itu tentu bukan hal mudah untuk dilakukan El Real, julukan Real Madrid.

Menang di semua laga sisa belum cukup bagi Raul Gonzalez dkk untuk mempertahankan gelar. Guna menjadi juara, El Real mengharapkan terpelesetnya Barcelona.

Lantas, mampukah El Real menyapu bersih 18 poin tersisa? Berat. Pada empat pertandingan ke depan, El Real harus menghadapi jadwal maut. Perjuangan dimulai dini hari nanti, saat El Real melawat ke markas Sevilla. Setelah itu, juara Liga Primera 31 kali tersebut akan menjalani duel akbar bertitel El Clasico kontra Barcelona (3/5) di Stadion Santiago Bernabeu, markas El Real. Berikutnya, Raul dkk melakoni away ke markas Valencia (10/5) dan Villarreal (17/5).

Lawatan ke Stadion Ramos Sanchez Pizjuan, markas Sevilla, dini hari nanti akan menjadi laga sangat krusial bagi El Real. Sebab, hasil akhir laga dini hari nanti akan menjadi modal untuk menghadapi El Clasico melawan El Barca, julukan Barcelona. Banyak yang mengatakan, pemenang El Clasico akan menjadi juara Liga Primera musim ini.

Menantang Sevilla, El Real berharap-harap cemas menanti hasil pertandingan Valencia versus Barcelona dini hari tadi. Jika El Barca kalah, El Real pasti makin bersemangat untuk mengalahkan Sevilla. Sebab, menang atas Sevilla membuat selisih poin tinggal menjadi tiga dan poin akan sama jika El Real memenangi El Clasico.

Sebaliknya, kemenangan El Barca akan menjadi tekanan bagi El Real saat dijamu Sevilla. Apabila El Real kalah di Ramos Sanchez Pizjuan, El Barca akan leading sembilan poin dan pasti makin percaya diri saat menghadapi El Clasico.

Ketika menghadapi jadwal neraka, skuad El Real malah tidak komplet. Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Gabriel Heinze tidak bisa main karena cedera. Sedangkan bek tangguh Pepe absen karena sanksi. Sebaliknya, Sevilla -yang dihancurkan Barcelona 0-4 dalam laga terakhir (22/4)- dini hari nanti bisa turun full team.

Kiper utama Andres Palop dan Adriano sudah bebas dari sanksi. Aldo Duscher dan Renato yang tidak turun saat Sevilla kalah 0-4 dari Barcelona siap dimainkan. Ramon Sanchez Pizjuan juga menjadi tempat angker bagi Raul dkk. Di antara tujuh kunjungan terakhir, tak sekali pun El Real menang. Sebaliknya, tuan rumah begitu perkasa dengan meraih enam kali kemenangan dan sekali seri.

Namun, Real Madrid punya kartu as dalam kunjungannya kali ini. Apa itu? Juande Ramos. Ya, Ramos yang saat ini menjadi pelatih El Real hafal luar dalam mengenai Sevilla. Sebab, entrenador (pelatih) 54 tahun itu adalah pelatih terbaik yang pernah dimiliki Sevillistas, sebutan Sevilla.

Hanya dalam waktu tiga musim, Ramos mampu mempersembahkan lima gelar juara. Yaitu, dua kali juara Piala UEFA (2005/06, 2006/07), juara Piala Super Eropa (2006), juara Copa del Rey (2006/07), dan juara Piala Super Spanyol (2007).

"Ini akan menjadi pertandingan penuh emosi bagi saya. Sebab, saya punya kenangan yang tak mungkin terlupakan di sana (Sevilla). Saya mengalami tahun-tahun terbaik dengan Sevilla. Suporternya juga luar biasa," tutur Ramos seperti dilansir situs klub.

Sementara itu, Presiden Sevilla Jose Maria del Nido menegaskan, sekarang bukan saatnya untuk mengkritik performa Sevilla yang kalah di tiga laga terakhirnya. ''Semua kritik kami terima, tapi sekarang bukan saat yang tepat. Tugas kita sekarang adalah bagaimana Sevilla meraih tiga poin, karena ini sangat penting untuk mengamankan posisi ketiga. Tidak satu tim pun bisa mengalahkan Sevilla jika mendapatkan dukungan suporter yang luar biasa," tegas Del Nido.

''Kami ingin mempersembahkan kemenangan besar bagi suporter. Kami tahu Real Madrid tim hebat. Tapi, inilah saatnya untuk memberikan yang terbaik bagi suporter. Jadi, pertandingan ini sangat penting," timpal pelatih Sevilla Manolo Jimenez. (ali/aww)


Berita Utama

[ Sabtu, 25 April 2009 ]
Perjuangan Super Berat Barcelona
Valencia v Barcelona

BARCELONA - Liga Primera Spanyol tinggal menyisakan enam pertandingan. Barcelona berada di atas angin dalam perburuan gelar karena masih unggul enam angka atas Real Madrid (81-75). Namun, dalam satu pekan ini, Barcelona harus ekstrawaspada. Sebab, empat jadwal berat harus mereka lakoni.

Perjuangan Barcelona diawali dengan lawatan menantang Valencia di Stadion Mestalla dini hari nanti (tayangan langsung RCTI pukul 03.00 WIB). Tuan rumah jelas bukan lawan enteng. Barca -sebutan Barcelona- memang menang 4-0 atas Valencia di putaran pertama. Tapi, hasil itu tidak bisa dijadikan sebagai ukuran.

Hingga pekan ke-32, El Che -julukan Valencia- bertengger di peringkat keempat. David Villa dkk tentu ngotot mempertahankan posisi tersebut demi meraih tiket tampil di Liga Champions musim depan.

Dari Mestalla, Barca harus bersiap menyongsong tiga laga superberat. Yakni, menjamu Chelsea di first leg semifinal Liga Champions (29/4), melakoni duel El Clasico melawan Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu (3/5), dan bertandang ke Stamford Bridge Stadium untuk second leg semifinal Liga Champions (7/5).

"Kami harus bermain dengan cara yang sudah kami lakukan. Tidak penting di mana kami memenangi liga. Yang penting adalah kami meraih gelar itu," kata Samuel Eto'o, penyerang Barca asal Kamerun, seperti dilansir AFP.

Eto'o akan menjadi senjata andalan Barca untuk menembus pertahanan Valencia. Mantan pemain Real Mallorca itu sudah mencetak 27 gol dan menjadi top scorer sementara Liga Primera. "Saya harap kami tidak menghadapi masalah cedera sehingga bisa terus tampil seperti ini sampai akhir musim," ujarnya.

Saat melawat ke Mestalla, kekuatan Blaugrana -sebutan lain Barcelona- bertambah dengan kehadiran kapten Carles Puyol dan bomber Lionel Messi. Dua pemain itu sengaja diparkir pelatih Josep Guardiola saat Barca menang telak 4-0 atas Sevilla Kamis lalu (23/4).

"Kami harus terus bermain seperti saat menang atas Sevilla. Jika tim lain bisa mengalahkan kami, saya ingin itu bukan karena kami tidak bermain bagus, tapi karena mereka memang tampil lebih baik daripada kami," ucap Guardiola seperti dilansir situs klub.

Kemenangan atas Valencia akan memberikan keuntungan bagi Barca. Paling tidak, hasil positif Barca bakal memberikan tekanan kepada Real yang baru akan melakoni laga ke-33 melawan Sevilla pada Senin dini hari (27/4).

Kans Barca untuk meraih angka terbuka seiring dengan kondisi tuan rumah yang bermasalah. El Che tidak bisa menampilkan pasukan terbaik karena dua gelandang mereka, Joaquin dan David Albelda, cedera. "Kami harus berhati-hati saat melawan Barca. Mereka bisa mengalahkan tim mana pun yang membuat kesalahan kecil," tutur Ruben Baraja, gelandang Valencia.

Namun, El Che punya modal lain, yakni rekor kemenangan dalam lima laga terakhir. Capaian itulah yang mengantar El Che bertengger di posisi keempat. (ali/ca)


Berita Utama

Jum'at, 24 April 2009 ]
Carlos Tevez Siap Tinggalkan MU
Masa depan Carlos Tevez di Manchester United kembali mengambang. Memasuki pekan-pekan terakhir kompetisi, penyerang asal Argentina itu tak kunjung mendapatkan kepastian tentang nasibnya. Tak pelak, kondisi tersebut membuat Tevez meradang.

Kabarnya, Tevez mulai hilang kesabaran. Pemain yang status kepemilikannya ada di tangan Media Sports Investment (MSI) itu menyatakan bahwa kebersamaannya dengan United bisa jadi berakhir musim ini.

''Saya ingin berada di negara yang sempurna untuk keluarga saya. Saya sangat menghormati suporter dan sejarah hebat Manchester United. Karena itu, saya tidak ingin meninggalkan tim ini. Tapi, dari aspek pribadi, keluar dari sini adalah solusi terbaik,'' ujar Tevez seperti dilansir The Sun.

United sebetulnya pernah berupaya mempertahankan Tevez. Klub raksasa Inggris tersebut bahkan pernah mengajukan penawaran 20 juta pounds atau sekitar Rp 320 miliar. Namun, itu ditolak MSI.

Nah, jika benar-benar berniat hengkang, Tevez sesungguhnya tidak sulit mendapatkan klub baru. Beberapa klub besar Eropa dikabarkan siap menampung pemain bertinggi 169 sentimeter itu. Di antaranya, Real Madrid, Inter Milan, Juventus, Chelsea, dan Manchester City.

Tevez menyatakan kecewa karena jarang dimainkan pada laga-laga penting bersama United. ''Saya butuh tampil reguler untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Di Inggris, seorang pemain bisa mencetak tiga atau empat gol, tapi tidak ada jaminan untuk tampil di laga berikutnya. Saya tahu United punya banyak pemain bagus, namun saya butuh tampil lebih banyak,'' ungkapnya.

Tentang masa depan, Tevez tidak bimbang. Dia mengaku mendapatkan banyak tawaran. ''Saya harus melihat dahulu tim mana yang cocok bagi saya dan apa yang bisa saya lakukan di sana,'' katanya. (ali/ca)

Berita Utama

[ Minggu, 26 April 2009 ]
AC Milan Jaga Performa Tim Tetap Stabil
AC Milan v Palermo

MILAN - Saat penampilan Juventus sedang labil, AC Milan justru on fire. Rossoneri -julukan Milan- yang semula sudah lempar handuk dan hanya pasang target finis di tiga besar itu akhirnya mampu menyodok ke posisi kedua.

Dengan tersisa enam partai lagi di Serie A Liga Italia, bisa dibilang kans Milan meraih hasil lebih baik dari posisi kedua hampir tidak mungkin. Sebab, Inter Milan menempati puncak klasemen dengan keunggulan sepuluh angka.

Yang paling realistis bagi Paolo Maldini dkk adalah menjaga performa tim tetap stabil dan konsisten merebut angka hingga musim berakhir. Kalau tidak, Juve bisa saja kembali merebut posisinya. Sebab, koleksi angka Milan dan Juve sama-sama 64 poin.

Setelah berhasil menghajar Lecce 5-1 pekan lalu (19/4), Milan mencari mangsa berikutnya. Tapi, pada giornata (pekan) ke-33 lawan Milan tidak ringan. Mereka menjamu Palermo malam nanti (siaran langsung Trans 7/Telkomvision pukul 20.00 WIB).

Rossoneri sedang berada dalam kondisi terbaik. Faktanya, mereka menang lima kali dan seri sekali dalam enam partai terakhir. Sudah begitu, dalam enam laga itu tim besutan Carlo Ancelotti tersebut melesakkan 16 gol ke gawang lawan-lawannya.

Sayang, duet maut Milan di lini depan sangat mungkin berubah. Alexandre Pato sedang tidak fit dan sangat mungkin absen. Jika itu terjadi, Filippo Inzaghi bakal dipasang sebagai striker tunggal dengan ditopang Kaka dan Ronaldinho.

Inzaghi yang mencetak hat-trick ketika Milan membantai Lecce 5-1 itu punya peluang cukup baik malam nanti. Sebab, Palermo kehilangan seorang pemain andalan di lini belakang, yakni Moris Carrozzieri yang ketahuan menyalahgunakan narkoba.

Kendati begitu, Rosanero -julukan Palermo- tidak akan mudah ditaklukkan oleh Milan. Bahkan, mereka datang dengan ancaman. Apalagi, mereka berupaya mengejar kesempatan bermain di pentas Eropa.

Saat ini Palermo menempati peringkat ketujuh dengan 49 poin. Mereka hanya satu setrip di bawah Zona Eropa dan tertinggal tiga angka di belakang AS Roma, tim terbawah di Zona Eropa. Dengan sisa enam laga musim ini, kans tampil di Eropa masih terbuka bagi Palermo.

"Kami percaya mampu menembus Zona Eropa karena memiliki tim yang bagus dan bermain baik. Menghadapi Milan merupakan laga menarik. Mereka adalah tim hebat. Tapi, Palermo bisa mengatasinya," tutur Michel Morganella, bek Palermo, seperti dilansir Goal.

Ya, tidak beda dengan Milan, Palermo juga sedang on fire. Saat Milan membantai Lecce 5-1, mereka membantai Bologna 4-1. Dalam partai sebelumnya, tepatnya 11 April lalu, mereka mampu menahan seri 2-2 Inter di Giuseppe Meazza. (ham/aww)


Berita Utama

[ Minggu, 26 April 2009 ]
Sriwijaya Kibarkan Bendera Putih
PALEMBANG - Bendera putih dikibarkan Sriwijaya FC (SFC) Palembang dalam perburuan gelar juara Djarum Indonesia Super League (DISL) 2008/2009. Itu tak lepas dari hasil imbang 1-1 (1-1) saat menjamu Persiba Balikpapan di lanjutan DISL 2008/2009 di Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, tadi malam (25/4).

Tambahan satu poin tersebut membuat tim berjuluk Laskar Wong Kito itu hanya duduk di peringkat ketiga dengan 49 angka. Charis Yulianto dkk terpaut sembilan poin dari Persipura Jayapura yang berada di pucuk klasemen dengan 59 angka. Catat, Sriwijaya sudah memainkan 27 laga. Sementara Persipura baru 26 pertandingan.

"Persipura melaju sangat kencang. Sungguh tidak mungkin kalau kami berhasil mengejarnya. Tapi, kami tetap bermain maksimal di laga sisa," ungkap Rahmad Darmawan, pelatih SFC, setelah pertandingan.

Sebenarnya, SFC membuka asa untuk menang setelah Ngon A Djam menceloskan bola pada menit ke-11. Itu adalah gol ke-20 Ngon musim ini yang sekaligus meninggalkan bomber Persib Bandung Christian Gonzalez di urutan kedua dengan 19 gol. Namun, Persiba mampu menyamakan kedudukan lewat striker andalannya, Gaston Castano, pada menit ke-29.

"Saya akui, kami pantas dapat satu poin. Permainan kami memang kurang bervariatif. Tidak ada permainan satu dua, yang biasa diperagakan sebelumnya," tegas Rahmad.

Pada pertandingan sebelumnya di tempat yang sama, PSMS Medan harus tertunduk malu setelah dikalahkan tamunya, PKT Bontang, dengan skor 1-3 (1-0). PSMS unggul lebih dulu lewat gol yang diceploskan Rachmat Affandi pada menit ke-32. Namun, PKT mampu membalikkan keadaan lewat gol yang diceploskan Imral Usman di menit ke-61 serta dua gol Josiah Seton pada menit ke-80 dan 90.

Kekalahan tersebut membuat ambisi PSMS meninggalkan zona degradasi terhambat. Tim berjuluk Ayam Kinantan itu duduk di posisi ke-16 dengan torehan 21 angka. (ru/mg2/jpnn)



Berita Utama

[ Minggu, 26 April 2009 ]
Modal Kejar Persema
2 Persebaya v PSIR 0

SURABAYA - Persebaya Surabaya terus menempel Persema Malang, pimpinan klasemen sementara wilayah timur Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia. Tim yang dibesut Arcan Iurie itu berhasil menambah tiga poin setelah menang 2-0 (1-0) atas PSIR Rembang di Gelora 10 Nopember kemarin sore (25/4).

Tambahan poin tersebut membuat Persebaya mengoleksi 49 poin dari 22 kali main. Itu menjadi modal untuk mengejar ketinggalan tiga angka dari Persema, yang juga telah memainkan 22 laga.

Pada laga kontra PSIR tersebut, dua gol kemenangan tim berjuluk Green Force itu disumbangkan Taufiq pada menit ke-38 dan Purwanto pada menit ke-83. Meski berhasil menambah tiga poin, kemenangan tersebut diraih dengan susah payah. Itu disebabkan Laskar Dampo Awang -julukan PSIR- juga bermain apik. ''PSIR main bagus hari ini (kemarin). Mereka tahu bagaimana permainan kami,'' kata Ibnu Grahan, asisten pelatih Persebaya, setelah pertandingan kemarin.

Ibnu yang mewakili Iurie itu menambahkan, dalam laga tersebut Endra Prasetya dkk sempat kewalahan menghadapi permainan anak-anak didik Suwandi H.S. Pada laga itu, PSIR bermain keras dan tanpa kompromi. Itu membuat para pemain Persebaya kesulitan mengembangkan permainan di awal-awal pertandingan. Akibatnya, kapten tim Hari, Roberto Kwateh, dan Adolfo harus menerima kartu kuning. ''Saya sebenarnya tidak menginstruksi anak-anak bermain keras. Mungkin itu hanya disebabkan mereka terlalu bersemangat saja,'' papar Suwandi.

Kebuntuan tersebut didobrak Jairon Feliciano, yang mencetak gol pada menit ke-18. Tapi, gol itu dianulir wasit Sulityoko (Jakarta Utara) karena penyerang Brazil tersebut dianggap sudah berdiri offside. Baru di akhir babak pertama, permainan Persebaya kembali hidup karena Taufiq mencetak gol setelah menerima wall-pass Mat Halil.

Pada babak kedua, Persebaya kian bersemangat. Jairon yang tak bisa bermain maksimal akibat selalu dikawal ketat akhirnya diganti Purwanto pada menit ke-75. Delapan menit masuk, Purwanto berhasil menggandakan keunggulan Persebaya lewat golnya setelah menerima assist dari Andik Vermansyah. (nar/ko)



Berita Utama

[ Minggu, 26 April 2009 ]
Trulli dan Glock Raih Start 1-2 di GP Bahrain
Trulli dan Glock Raih Start 1-2 di GP Bahrain

SAKHIR - Brawn-Mercedes sudah finis 1-2 di Grand Prix Australia. Red Bull-Renault sudah finis 1-2 di GP Tiongkok. Apakah hari ini giliran Toyota finis 1-2 di GP Bahrain? Di musim 2009 yang penuh kejutan dan sulit ditebak ini, segalanya sangat mungkin untuk terwujud.

Tampil konsisten di tiga seri pertama, kemarin Toyota menunjukkan taring di Bahrain. Dalam babak kualifikasi, tim tersebut mampu meraih posisi start 1-2. Jarno Trulli meraih pole position, mengelilingi lintasan 5,412 km itu dalam waktu 1 menit dan 33,431 detik. Rekan setimnya, Timo Glock, bakal berada di samping saat start nanti (malam ini 19.00 WIB).

Seperti babak latihan Jumat lalu (24/4), sulit untuk menebak yang tercepat dalam kualifikasi kemarin. Pada sesi pertama dan kedua, Sebastian Vettel selalu menjadi yang tercepat untuk Red Bull-Renault. Namun, di belakangnya, urutan selalu acak.

Begitu sesi ketiga yang menentukan berlangsung, praktis sepuluh pembalap yang tersisa punya peluang untuk meraih pole. Mereka pun bergantian mencatat waktu terbaik. Penonton tinggal menunggu, siapa yang akhirnya nomor satu ketika waktu habis.

Dan ternyata, Toyota yang mampu meraihnya. Bukan sekadar pole position, tapi start 1-2!

Bagi Toyota, ini adalah pole position mereka yang pertama sejak GP Jepang 2005 lalu. Dan bagi Toyota, ini adalah kali pertama mereka berhasil meraih posisi start 1-2.

Usai kualifikasi, Trulli mengaku sangat senang dengan hasil ini. Sebelum kualifikasi, dia dan Glock mengaku sempat khawatir, karena mengalami masalah rem selama latihan. "Tapi saya tak pernah menyerah. Saya tahu saya punya mobil yang cepat. Senang rasanya bisa start 1-2," kata Trulli.

Glock juga mengaku senang untuk Toyota. Dia sempat berharap bisa mencuri pole, tapi tak kuasa menyaingi Trulli di sesi terakhir. "Jarno sangatlah hebat dalam hal kualifikasi. Saya tak mampu menyainginya. Tapi saya sangat senang untuk seluruh tim," tandasnya.

Memang, Toyota tampaknya membawa lebih sedikit bahan bakar bila dibandingkan dengan para pesaing. Dalam konferensi pers usai kualifikasi, Sebastian Vettel yang start ketiga sempat menyinggung soal itu. "Saya rasa mereka (Toyota, Red) bakal masuk pit lebih dulu," ucapnya saat duduk di samping Trulli.

Menanggapi itu, Trulli tetap tenang. Dia membalas, Toyota justru merasa lebih mantap dalam setelan lomba, bukan kualifikasi. Pada dasarnya, dia bilang tetap optimistis meski mungkin punya strategi lebih agresif (pit stop lebih dulu).

"Saya sangat percaya diri untuk (lomba) besok (hari ini, Red). Kami hanya perlu menganalisa (dan lebih hati-hati) dalam hal rem," tandasnya.

Grand Prix Bahrain hari ini dijadwalkan berlangsung 57 lap. Biasanya, mereka yang pit stop lebih dini lebih dirugikan dalam sebuah lomba. Khususnya kalau di tengah-tengah ada hujan atau safety car.

Namun, seharusnya tidak ada hujan di Bahrain, dan sirkuit ini cukup lebar sehingga safety car juga jarang keluar "mengamankan" lomba. Toyota mungkin bakal pit stop lebih dini, tapi mungkin mereka masih punya kesempatan untuk menyodok kembali di depan di akhir perlombaan.

Formula 1 2009 memang benar-benar bikin penasaran... (aza)


Berita Utama

[ Minggu, 26 April 2009 ]
Pole tanpa Kualifikasi
Batal karena Hujan, Rossi Start Terdepan

MOTEGI - Berbagai gangguan terus menerpa awal musim MotoGP 2009. Setelah hujan membuat Grand Prix Qatar tertunda sehari, kemarin hujan mengakibatkan babak kualifikasi GP Jepang harus dibatalkan.

Saking derasnya, kondisi Sirkuit Motegi menjadi terlalu membahayakan. Akibatnya, urutan lomba hari ini ditentukan berdasar hasil terbaik dalam sesi latihan. Dan itu menguntungkan Valentino Rossi, bintang utama Fiat Yamaha yang mencatat waktu terbaik dalam sesi practice Jumat lalu (24/4).

Posisi start lomba hari ini sama sekali tidak berubah dari urutan latihan Jumat lalu, karena sesi latihan kedua Sabtu pagi kemarin juga diselenggarakan di atas lintasan basah.

Casey Stoner, pembalap Ducati Marlboro yang mendominasi GP Qatar, bakal start di urutan kedua.

Batalnya kualifikasi ini tentu mengundang keluhan dari para peserta. Rossi terang-terangan menyalahkan penyelenggara, yang tahun ini menggeser GP Jepang dari jadwal ''normal''.

Kali terakhir Motegi menjadi tuan rumah di bulan April adalah pada 1999, saat kali pertama MotoGP mengunjungi sirkuit milik Honda tersebut. Antara 2000 sampai 2008, lomba di Motegi selalu berlangsung pada bulan September atau Oktober.

''Ini adalah sebuah bencana. Dalam beberapa tahun kita memang kurang beruntung dalam hal cuaca di Jepang. Tapi, balapan April di Motegi bukanlah ide yang baik, karena cuaca selalu buruk,'' kata Rossi. ''Situasi ini sulit dipercaya. Setiap GP sekarang kehujanan. Qatar sangatlah buruk, dan (Jepang) ini adalah bencana,'' tambahnya.

Rossi juga mengeluhkan minimnya latihan sebelum lomba hari ini. Apa pun kondisi lomba hari ini, basah maupun kering, para pembalap belum sempat mengoptimalkan setelan motor. Apalagi, musim ini semua memakai ban yang sama dari Bridgestone, dan tidak satu pun menjajal ban itu di Motegi sebelum musim dimulai.




Rossi mengaku siap menghadapi lomba basah atau kering. ''Tapi, kami berharap cuaca baik,'' ucapnya.

Casey Stoner juga berharap lomba hari ini diselenggarakan di lintasan kering. Sebab, sejak uji coba awal tahun ini, Ducati sangat jarang merasakan lintasan basah.

Namun, seperti Rossi, dia mengaku siap menghadapi segala cuaca. ''Di kondisi kering kami cukup happy, kami merasa punya paket yang kompetitif. Belum sepenuhnya ideal, tapi cukup baik. Kalau hujan, kami merasa telah berada di jalan yang benar usai latihan pagi ini (kemarin pagi, Red). Jadi, apa pun kondisinya, kami seharusnya cukup kompetitif,'' papar pembalap Australia tersebut. (aza)



Berita Utama

Kamis, 2009 April 02

HONDA VARIO MODIF SPORT

Knalpot Custom By OMC Leisure Part
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus

Setang Jepit Jelas mengedepankan kesan sport Abis, Indikator KOSO... keren (Tapi lumayan mahal nih)
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus

Spackboard kolong Vario, CVT cat Merah Candy DOFF, cakram belakang Custom

Velq Belakang Illusion 6" Ban 140/70/14 Dicat Dof merah Candy, Knalpot Custom By OMC Leisure Part
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus

Velq Depan 4" Custom By OMC, Piringan KITACO, Tabung Shock TRUSTY
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus

Tampak Kanan, Velq Illusion 4" mantap...
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus

Tampak depan Tameng Custom Vario Lampu Air Blade Thailand...
Hub : DOCTOR MATIC
081806647575 (Dengan AL)
Alamat : Jl. Harapan Mulia XI/9 Cempaka Putih Utara Jak-Pus


Tampak samping .... hehehe sorry nih body belakangnya lagi di cat, soale lecet waktu parkir keren booo...


Berita Utama

Minggu, 2008 Mei 11

Modifikasi Jupiter Z CW dr Jambi

Modifikasi Yamaha Jupiter Z kali ini datang dari Jambi, tepatnya dari anak-anak Automotive Motor Modifikasi Jambi (AM2J). Adalah Havis Rasidin, yang selain bermain-main dengan tachometer kini ia nekat memasang banyak karburator King di Jupee-nya, 8 di kiri dan 8 lagi di kanan. Bukan hanya itu, di tengah-tengah ia tambahkan lagi tabung dan karburator mobil. Ck ck ck … njur buat apaaa gitu lho ?! :D

Gambar modifikasi Yamaha Jupiter Z

Bukan itu saja, pada bagian kepala motor, Havis masih memakai 3 buah takometer. “Bagian kepala ada 3 takometer,” jelasnya, kemarin (3/6).

Meski bagian-bagian lain ikut dimodif, agaknya Havis tak bisa lepas dari ‘bayang-bayang’ ciri khas AM2J. ‘Bermain-main’ dengan takometer. “Saya dimanajeri oleh Ketua,” ujarnya menyebut Faiz.

Motor milik Havis ini juga memakai pengecatan teknik air brush. Dengan pola-pola bertemakan realis, warna oranye, dia berhasil menciptakan suasana cerah pada Jupiter Z miliknya.

Selain itu, Havis termasuk pengedara yang taat peraturan lalu lintas. Terbukti, pada bagian stangnya, ia memasangi sepasang spion. “Spion ini dari lampu sepeda unta,” jelasnya seraya tertawa.

Sementara pada bagian ban, sambungnya, Havis memakai standar motor-motor ceper lain. Hanya saja untuk ban depan, dia menyadur teknik velg terbaru dan mulai tren saat sekarang, velg hubles (velg tanpa jari-jari).

Untuk memperoleh bentuk seperti sekarang, Havis terpaksa merogoh kocek senilai lebih kurang Rp 3 juta. Dan proses modifikasi hanya memakan waktu 3 hari! Mengenai ini, Havis mengemukakan alasan kenapa bisa secepat itu proses modifikasi motor miliknya.


Berita Utama

Kamis, 2009 April 02

MIO PUTIH LOW RIDER MINIMALIS

Shock YSS Upside Down, Filter KOSO, Spackboard kolong by DOCTOR MATIC / OMC

Belakang SEMOK dengan Velq 5" Ban 140/70/14 knalpot bentuknya seperti standar tapi suaranya seperti KOSO

Tampak dari Depan Ban 2,5 inci Jari2 Rapat Krom, Body Kit, VISOR, Spion API LOW RIDER, Handgrip By DOCTOR MATIC Semuanyaaaaaaaaaaaa

Knalpot bikinan DOCTOR matic ini bukan knalpot standard tapi bikinan memang mirip .... suaranya kayak KOSO

Tampak Samping lumayan lah untuk modif gini karena memang budgetnya minim....



Pertahanan Ketat Chelsea Membuat Barcelona Tak Berkutik
0 Barcelona v Chelsea 0

BARCELONA - Pertahanan ketat ala Chelsea membuat Barcelona tak berkutik. Barca pun dipaksa bermain imbang 0-0 pada first leg semifinal Liga Champions di Stadion Nou Camp kemarin dini hari. Hasil itu membuka peluang Chelsea untuk meraih tiket final yang bakal digelar di Stadion Olimpico, Roma, Italia, pada 27 Mei mendatang.

Chelsea berada di atas angin karena akan menjadi tuan rumah pada second leg 6 Mei nanti. Dari lima kali laga home di ajang Liga Champions musim ini, The Blues - julukan Chelsea - tidak pernah kalah (empat kali menang dan sekali seri).

''Hasil bagus dan misi kami di Nou Camp tercapai. Tapi, siapa yang lolos ke final masih belum bisa dipastikan. Kami tetap punya pekerjaan berat di kandang pekan depan,'' kata Guus Hiddink, arsitek Chelsea, sebagaimana dilansir AFP.

Chelsea boleh diuntungkan karena bakal menjadi tuan rumah second leg semifinal. Namun, sesungguhnya The Blues pun berada dalam tekanan. Mereka harus menang untuk melenggang ke semifinal. Di sisi lain, opsi bagi Barca lebih banyak. Selain menang, seri dengan gol bakal meloloskan tim Spanyol itu ke partai puncak.

Diakui Hiddink, pertahanan rapat dan disiplin timnya menjadi kunci utama keberhasilan meredam permainan superagresif Barca. Dalam laga kemarin, Hiddink sengaja menumpuk lima pemain tengah dalam skema main pasukannya.

Alhasil, serbuan para pemain Barca tidak ada yang menemui sasaran. Selain tidak mendapat ruang yang cukup, kesigapan kiper Chelsea Petr Cech ikut berperan mementahkan peluang tuan rumah. Salah satu kegemilangan kiper Republik Ceko itu adalah saat mematahkan bola tendangan Samuel Eto'o pada menit ke-67.

Meski tampil bertahan, Chelsea sempat mengancam gawang Barca lewat serangan balik. Seperti yang dilakukan Didier Drogba pada menit ke-38. Sayang, tendangan bomber Chelsea asal Pantai Gading itu masih bisa digagalkan kiper Barca Victor Valdes.

''Barca dominan dalam penguasaan bola dan seperti tidak kenal lelah mengempur pertahanan kami. Praktis, kami dituntut meng-cover semua area dan tugas itu dijalankan dengan bagus. Apresiasi khusus patut diberikan kepada (John) Terry karena keberanian dan kecekatannya,'' papar Hiddink.

Tak pelak, taktik negative football Chelsea membuat kubu Barca kecewa dan frustrasi. Bahkan, entrenador Barca Pep Guardiola uring-uringan dengan gaya main lawannya tersebut.

''Sangat sulit bermain dengan tim yang tidak ingin bermain sepak bola,'' ucapnya kepada Reuters. ''Chelsea seperti memainkan sebanyak pemain di pertahanan. Bola mereka hanya dari Cech langsung ke Drogba,'' sindir pelatih 37 tahun itu.

Barca sejatinya sudah memprediksi bahwa Chelsea bakal memainkan negative football Sebelum pertandingan, gelandang Barca Xavi Hernandez menyebut gaya permainan Chelsea membosankan.

''Satu-satunya kesalahan kami adalah gagal mencetak gol. Saya punya feeling jika Barcelona bisa mencetak gol di Stamford Bridge, kami akan tampil di Roma,'' kata Xavi sebagaimana dilansir di situs resmi UEFA.

Di laga kedua pekan depan (6/5), lini belakang Barca terancam bahaya seiring absenya Carles Puyol dan Rafael Marquez. Praktis hanya ada Gerard Pique yang jadi andalan di jantung pertahanan Barca.

Bek kiri Eric Abidal bisa menjadi solusi pendamping Pique. Sebab, Abidal tidak asing bermain di jantung pertahanan. Kalau Abidal digeser ke tengah, di sektor bek kiri Barca masih ada Sylvinho.''Ada beberapa opsi dan saya baru akan menentukannya menjelang hari H nanti,'' tegas Guardiola.

Barca sejatinya punya bek tangguh asal Argentina, Gabriel Milito. Tapi, pemain 28 tahun dan adik kandung striker Genoa Diego Milito tersebut belum main sama sekali musim ini karena cedera ACL (ligamen pengikat lutut bagian depan). (dns/ca)





Jumat, 17 April 2009

MUSIK

IMAM PANDHU WAHYUDI


ReviewReviewReviewGiant StepJun 11, '07 2:41 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Classic Rock
Artist:Giant Step

Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain.

DENGAN kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.

"Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh," kata Triawan Munaf, mantan pemain kibor dan vokalis Giant Step, yang juga sepupu Fariz RM dan ayah kandung penyanyi remaja Sherina. Namun, itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step.

Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung grup-grup Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).

JIKA The Beatles memiliki "dwitunggal" Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki "dwitunggal" yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi grupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif. Kedua orang inilah yang membidani kelahiran Giant Step pada awal 1970-an di Bandung, kota yang sering dijuluki sebagai gudangnya para seniman musik yang kreatif.

Sebelum bergabung dengan Giant Step, Benny-antara lain bersama Boetje Garna, Deddy Garna, Soman Lubis, dan Bhagu Ramchand-pernah ikut memperkuat band-band rock Bandung seperti The Peels dan Shark Move. Yang terakhir ini pernah merilis album Ghede Chokra’s (1973) dengan label perusahaan rekaman di Singapura.

Satu-satunya album Shark Move itu lumayan sukses dan menghasilkan hit seperti My Life dan Bingung. Juga ada lagu-lagu lainnya yang selain kuat liriknya juga enak dinikmati, seperti Butterfly, Insan, dan Madat.

Sebagaimana Benny, Albert pun termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu. Di samping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain suling. Albert juga banyak terlibat dalam proyek musik grup-grup Bandung seperti Gang Of Harry Roesli.

Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Stanzah (mantan Rollies), dan Sammy (mantan drummer Shark Move) pada tahun 1975 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka.

Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi diproklamasikan.

Formasi awal Giant Step tidak bertahan lama. Benny kemudian mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor) untuk menggantikan Deddy Stanzah, Sammy, dan Yockie (yang kemudian bergabung ke God Bless). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung.

Pada tahun 1975 itu pula Giant Step mulai masuk dapur rekaman. Album pertamanya yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976) yang berisi sepuluh lagu. Termasuk lima lagu berbahasa Inggris-Childhood And The Seabird, Far Away, Fortunate Paradise, Keep A Smile, dan My Life-yang liriknya ditulis oleh Bob Dook, warga Australia yang bermukim di Bandung.

Di album pertama ini warna musik Giant Step bisa dibilang masih gado-gado. Ada warna Purple, ELP, dan Gentle Giant. Bahkan, ada empat lagu berlirik cinta cengeng yang ditulis dan dinyanyikan Deddy Dores.

GIANT Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik rock progresif pada album kedua, ketiga, dan keempat, yaitu Giant On The Move! (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Semua lagu, baik lirik maupun musiknya, yang terdapat dalam ketiga album itu tergolong berani. Pasalnya, mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s dan Favourites Group.

Lagu-lagu yang terdapat di album Giant On The Move! bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decisions, Waste Time, dan Air Pollution.

Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan, di mana posisi Deddy Dores (yang keluar karena membentuk Superkid dengan Jelly Tobing dan Deddy Stanzah) digantikan oleh Triawan Munaf dan posisi Yanto Sudjono digantikan oleh Haddy Arief. Triawan dan Haddy adalah mantan anggota Lizard, salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975).

Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert dan permainan kibor Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.

Kendati sangat dipengaruhi band-band progresif luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth Of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit.

Menjelang pembuatan album Persada Tercinta (1978), Triawan mundur karena alasan melanjutkan studi di Inggris. Posisinya digantikan Erwin Badudu, "yang skill-nya jauh lebih canggih daripada saya," kata Triawan. Sebelumnya Erwin sempat terlibat dalam pembuatan album solo Benny Soebardja, Gimme Piece Of Gut Rock (1975), yang musiknya juga digarap oleh para personel Giant Step dan Lizard.

Gut Rock adalah proyek album idealis kedua Benny yang seluruh liriknya berbahasa Inggris dan sebagian besar ditulis oleh Bob Dook. Konon Gut Rock semula disiapkan sebagai album Giant Step, tetapi entah kenapa kemudian diubah menjadi album solo Benny.

Seperti dua album Giant Step sebelumnya, nuansa rock progresif yang cukup rumit masih kental pada album Persada Tercinta. Namun, pada album kelima, Tinombala (1979), Giant Step tampak mulai berkompromi dengan selera pasar kala itu, dengan memasukkan lagu pop cinta komersial berjudul Lisa.

Pada saat itu formasi Giant Step kembali mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dengan keluarnya Albert Warnerin, yang posisinya digantikan oleh Harry Soebardja, mantan gitaris Lizard yang juga adik kandung Benny. Posisi Haddy Arief pada drum juga digantikan oleh Tommy sehingga formasi Giant Step pada periode ini adalah Benny, Harry, Adhi, Erwin, dan Tommy.

DENGAN formasi yang sama, mereka merilis album keenam yang diberi judul Giant Step Volume III (1980). Album Volume III (album ketiga di bawah label Irama Tara) ini bisa disebut sebagai album paling buruk yang pernah dihasilkan Giant Step.

Boleh jadi karena Benny sendiri-sebagai motor utama Giant Step-mulai disibukkan dengan proyek-proyek solonya. Sebagai penyanyi solo, nama Benny sempat melejit lewat lagu Apatis (karya Ingrid Wijanarko) dan Sesaat (Harry Sabar) dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir 1970-an.

Dari sukses lagu Apatis dan Sesaat, yang warna musiknya sangat dipengaruhi album soundtrack film Badai Pasti Berlalu (karya Eros Djarot, Yockie, dan Chrisye) itu, Benny kemudian berkolaborasi dengan anak-anak Pegangsaan, khususnya Fariz RM, untuk membuat dua album solo dengan warna musik serupa, yaitu Setitik Harapan dan Lestari pada tahun 1980-an. Namun, kedua album ini kurang begitu berhasil di pasaran, setidaknya jika dibandingkan dengan album Badai maupun Di Batas Angan-Angan (Keenan Nasution) yang juga digarap oleh kelompok Pegangsaan.

Pada tahun 1985 Benny mencoba membangkitkan kembali Giant Step dengan melibatkan (lagi) Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu, serta Jelly Tobing. Pada bulan Juni mereka merilis album Geregetan (1985).

Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progresif era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, "Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial." Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.

Perjalanan Giant Step berakhir setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Berbagai upaya untuk menyatukan kembali mereka tak kunjung berhasil. Konon karena adanya perselisihan pribadi yang sulit didamaikan antara mantan "dwitunggal" Benny dan Albert.

Rupanya, fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli grup-grup dunia seperti Lennon versus McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).


ReviewReviewReviewRollies
Category:Music
Genre: Classic Rock
Artist:Rollies
PANAS nian kemarau ini/Rumput pun merintih sedih/Tak berdaya di terik sang surya/Yang bagai dalam neraka/Curah hujan yang dinanti-nanti/Tiada juga datang menitik/ Kering dan gersang menerjang bumi/Yang bagai dalam neraka/ Mengapa hutanku hilang/Dan tak pernah tumbuh lagi

ITULAH masterpiece dari Rollies, berjudul Kemarau, karya pemetik gitar basnya, Utje F Tekol, yang berdarah Manado, Ambon, Jawa, dan Belgia, tapi bangga sebagai warga Bandung. Lagu ini memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim tahun 1979. Lagu Rollies populer lainnya adalah Salam Terakhir, Hari Hari, Astuti, dan Setangkai Bunga.
ROLLIES adalah grup kebanggan kota kembang Bandung tahun 1967 hingga awal 1990 disamping grup- grup lain semisal Giant Step, Freedom of Rhapsodia, Superkid, Shark Move, Bimbo, Paramors, Harry Roesli and His Gang, G’Brill, 23761, dan One Dee and Lady Faces.
Walaupun kegiatan Rollies setelah itu nyaris tak terdengar, personelnya seperti penyanyi Bangun Sugito-kemudian lebih dikenal sebagai Gito Rollies yang belakangan ini banyak aktif dalam bidang kerohanian- berkiprah sebagai penyanyi solo dan bintang sinetron.
Demikian juga Utje, masih masuk dan keluar studio rekaman membantu sejumlah rekaman. Sementara peniup saksofon, trombon, dan flute, Benny Likumahuwa, bergabung dengan grup jazz Ireng Maulana. Jimmy Manoppo dengan orkestranya. Memasuki abadi ke-21, Rollies kehilangan sekaligus tiga anggotanya, yakni Deddy Stanzah yang tutup usia tahun 2001, Delly (2002), dan Bonnie (2003).
Otak dari Rollies sebenarnya adalah Deddy Sutansa (kemudian menjadi Stanzah). Seorang pemetik gitar, bas, dan juga penyanyi yang karismatis pada zamannya. Dalam sebuah penampilannya di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki, Deddy tampil sendirian dan hanya gitar menemaninya. Begitu dia terdengar langkahnya di panggung yang masih gelap, penonton sudah bersorak menyambut.
Utje F Tekol yang kemudian menggantikannya sebagai pemetik gitar bas mengakui sempat tidak percaya bahwa dia bisa mengambil posisi Deddy di Rollies tahun 1974. Menurut Utje, yang sekarang berusia 54 tahun, sebelum bergabung dia memang penggemar fanatik Rollies dan pengagum Deddy Stanzah.
Kelahiran Rollies diawali ketika Deddy bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Tenku Zulian Iskandar dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari grup Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orangtua Deddy yang pengusaha hotel menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink. Setelah itu baru mereka mengisi acara di kelab malam Singapura tahun 1969.
Ketika tampil di negeri jiran itu, personel Rollies sudah diperkuat Gito dan Benny Likumahuwa. Lagu yang mereka bawakan pun berkembang dan mulai mengandalkan alat musik tiup, masa trade-mark Rollies sebagai pembawa lagu-lagu James Brown BST (Blood Sweat and Tears) dan Chicago dimulai. Di sana mereka tidak hanya berkesempatan manggung.
Deddy Stanzah dan kawan- kawan juga masuk studio rekaman EMI dan Philips, menghasilkan dua piringan hitam (PH). Dalam PH khusus lagu- lagu barat, Delly membawakan lagu Gone are the Song of Yesterday, It’s a Man’s Man’s World, I Feel Good, yang kemudian memang sering dibawakan Rollies di panggung. Sementara PH lainnya berisi lagu berirama melayu dan semikeroncong, seperti Bandar Jakarta, Sansaro, Putri Solo, dan Selayang Pandang. Rollies juga pernah mengiringi sejumlah penyanyi Indonesia yang rekaman di Kota Singa seperti Aida Mustafa.
Namun, pengalaman yang paling sulit dilupakan selama di Singapura adalah kecelakaan lalu lintas yang nyaris merenggut nyawa anggota grup asal Bandung itu pada tahun 1971. Sopir asal Singapura yang membawa kendaraan tewas. Benny dan Iskandar pingsan dengan penuh luka di kepala. Gito dan Delly bengkak sekujur tubuh, Deddy dan Iwan mengalami robek di bagian kepala.
Akibat peristiwa itu, Deddy dipanggil pulang ke Jakarta. Pada waktu itu sebuah grup dari Indonesia, Paramors, sedang luntang lantung karena ditelantarkan agennya, salah satu anggota grup itu, Bonnie Nurdayah, bersedia bergabung sebagai anggota baru Rollies.
SELESAI kontrak di Singapura, Rollies tidak kembali ke Bandung, melainkan menuju Medan. Main di kelab malam selama enam bulan dan setelah itu ke Bangkok untuk tampil di kelab malam juga. Mereka mengambil kesempatan itu karena Bangkok waktu itu bisa dikatakan sebagai pusat hiburan di Asia Timur. Siapa tahu setelah itu bisa ke Beirut dan kemudian puncaknya Las Vegas, pusat hiburan dunia.
Benny yang menjadi inspirator konsep musik Rollies bermaksud membawa grup itu sampai ke negeri Paman Sam. Tapi, anggota yang lain hanya bisa tahan selama satu bulan di Negeri Gajah, padahal mereka dikontrak enam bulan. Untuk meneruskannya, Benny terpaksa membentuk grup Augesindo, kependekan dari negara pemusiknya yang berasal dari Australia, Jerman, Singapura, dan Indonesia.
Akan tetapi, Perang Vietnam menyebabkan kehidupan malam di Bangkok memudar. Benny yang sebelum menjadi anggota Rollies sudah bermain jazz bertemu pianis jazz, Bill Saragih, yang mengajaknya pindah ke Australia. Benny setuju, tapi terlebih dahulu ingin kembali ke Jakarta.
Di Jakarta Benny justru jatuh cinta kedua kalinya kepada Rollies. Apalagi kehidupan showbiz sedang marak sehingga honor yang diperoleh Rollies cukup besar, bahkan lebih besar dari yang pernah didapat di Singapura maupun Bangkok. Waktu itu Rollies dibayar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk satu kali manggung. Sebagai perbandingan, grup musik lain memperoleh di bawah Rp 1 juta.
Dalam satu minggu Rollies bisa naik-turun panggung dua hingga tiga kali. Tur show hingga lebih dari 10 kota sudah dilakukan Rollies waktu itu. Namun, Iwan Krisnawan, Tenku Zulian Iskandar, dan Bangun Sugito yang terperangkap narkoba menyebabkan Benny dan anggota lainnya harus bekerja ekstra keras.
Bukan hal yang aneh jika dalam penampilan rutin mereka di kelab malam tiba-tiba suara drum hilang. Ternyata Iwan yang sedang teler terkapar di belakang panggung. Bisa juga dalam sebuah pertunjukan yang hadir hanya Benny, Bonnie, Delly, dan Iwan, sedangkan Deddy Stanzah, Iskandar, dan Gito belum datang. Mereka terpaksa menyelesaikan satu babak penampilan, setelah itu baru muncul Gito, Deddy, dan Iskandar. Kejadian seperti ini oleh penontonnya justru dianggap sebagai sebuah kejutan: sang superstar Gito baru hadir pada puncak acara, padahal datangnya terlambat.
YANG nyaris fatal adalah ketika Rollies manggung di lapangan terbuka, Stadion 10 Nopember Surabaya, menjelang akhir tahun 1973. Setelah menyanyikan sejumlah lagu, tiba- tiba Deddy, Gito, dan Iskandar secara bergiliran ambruk dan tergeletak di panggung, dan Iwan menyusul. Lucunya penonton bersorak, mengira peristiwa adalah bagian dari atraksi.
Yang paling pusing tentunya Benny, Bonnie, dan Delly dan harus terus memainkan musik, bahkan sambil menyanyi. Inilah barangkali kelebihan Rollies, hampir semua anggota bisa menyanyi. Sebagai penyanyi utama, Gito boleh saja terkapar, tapi yang lainnya bisa meneruskan lagu yang belum diselesaikannya.
Kejadian seperti itu bisa dikatakan tidak tercium oleh media massa sehingga ambruk dan terkaparnya anggota Rollies itu tetap dianggap masyarakat sebagai hal yang wajar. Justru dengan semua itu Rollies semakin digemari dan dielu-elukan sebagai supergrup, sebuah sebutan untuk grup musik nomor satu.
Tak heran jika Benny dan kawan-kawan menjadi trend setter. Uang pun mengalir bak air Cikapundung, hingga ganti mobil setiap waktu bagai membalikkan telapak tangan. Sedemikian naik daunnya Rollies, sampai-sampai mereka menjadi model butik Mic Mac. Bahkan kemudian manajemen Rollies memproduksi sendiri sepatu dan pakaian merek Apple.
Sayangnya, Iwan dan Deddy yang terus dicengkeram narkoba semakin sering datang terlambat di waktu latihan maupun pertunjukan. Karena ketidakdisiplinan ini, keduanya dipersilakan meninggalkan Rollies. Mereka diganti Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol, pada tahun 1974. Rollies pun memiliki susunan anggota yang paling lama bertahan: Bonnie (penyanyi, gitar), Iskandar (tenor saksofon), Benny Likumahuwa (bariton/alto saksofon, flute, trombon), Delly (penyanyi, keyboard), Utje F Tekol (bas), Didit Maruto (trompet), Jimmy Manoppo (drum), dan Gito (penyanyi).
Dengan formasi ini, semakin kokoh pengakuan bahwa Rollies adalah Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung: Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes, Fire Bird, James Brown It’s A Man’s Man’s World, atau Getsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer di Broadway.
Kelebihan Rollies yang paling menonjol adalah rasa percaya diri yang luar biasa pada setiap anggotanya. Gito, Iskandar, dan Delly, misalnya, juga meniup trompet dalam usaha mereka mengidentikkan diri sebagai sebuah grup brass-rock. Tapi, lama-lama mereka keteteran karena Gito harus menyanyi, Delly yang bertugas di keyboard juga harus menarik suara, dan Iskandar harus memainkan gitar.
Kalau suaranya menurun, biasanya Gito beralasan karena dia harus meniup trompet. Sebaliknya kalau ditanya kenapa tiupannya semakin lemah, jawabnya enteng saja, "Saya kan penyanyi". Itulah sebabnya mereka merekrut Benny Limahuwa dan Didiet Maruto.
Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah grup yang sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya bukan lain adalah Deddy Stanzah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.
Kebesaran nama Rollies diakui Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol yang menyatakan pada awalnya bertanya-tanya apa betul mereka sudah menjadi anggota Rollies. Ketika pertama kali tampil, keduanya bahkan gemetaran dan keringatan. Untuk menjadi anggota Rollies, mereka harus menyingkirkan puluhan pelamar lainnya.
SEPANJANG perjalanannya, Rollies menghasilkan 15 PH/album rekaman. Tahun 1971 di Philips dan EMI, dua PH dan satu PH mengiringi Aida Mustafa. 1972-1975 di Remaco tiga PH (masuk masa kaset) yang antara lain melahirkan lagu Salam Terakhir karya Iwan Krisnawan dan Setangkai Bunga (Iskandar). Tahun 1976-1979 di Musica Studio’s lima album yang menelurkan lagu-lagu Keadilan, Hari Hari, dan Kemarau. Lagu Kemarau yang sama sekali tidak diperhitungkan baru dikeluarkan dari "peti es" tahun 1979 meskipun selesai dikerjakan tahun 1977.
Walaupun menyandang julukan grup brass-rock nomor satu, ketika menggarap lima album rekaman di Musica Studio’s, Rollies mengalami masa stagnasi. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara grup musik baru seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. Mereka terkesan kena penyakit post-power sindrom.
Selain Kemarau dan Hari Hari, yang lainnya diambil dari Titiek Puspa, Bimbi atau Anto. Kau Yang Kusayangi, Keadilan.
Melihat kenyataan itu, Benny memutuskan mundur dan meninggalkan Rollies. Padahal, sebagai penata musik, Benny sudah memperlihatkan kebolehannya dalam Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Setelah Benny menarik diri, Rollies masih menghasilkan empat album: Dunia Dalam Berita (1983), Astuti (1984), Problema (1985), dan Iya kan? (1990).
Ketika awal grup ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik "sekolahan" Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa. Sampai sekarang Rollies tidak pernah bubar meskipun anggota yang tersisa tinggal Gito, Benny, Utje, Jimmy, Didit, dan Iskandar.
Selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan yang mereka gunakan dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa, yang sekarang berusia 58 tahun, mengaku rumah yang didiaminya sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.
Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh sekarang adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi. Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, ini sekarang aktif sebagai pembawa ceramah rohani untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba.


ReviewReviewReviewReviewReviewLed Zeppelin
Category:Music
Genre: Hard Rock & Metal
Artist:Led Zeppelin
Prediksi Atlantic Records (AR) tentang Led Zeppelin yang bakal kondang ternyata benar. Band rock ini akhirnya jadi idola di seantero jagad. Selain populer, band Inggris ini menjadi cikal bakal lahirnya heavy metal. Tapi kenapa tiap konsernya dicurigai kerap memicu kerusuhan?

Ramalan jitu itu diungkap Atlantic Records - salah satu perusahaan rekaman kaliber dunia pada medio Februari 1969 silam, tepat saat perusahaan rekaman tersebut mengumumkan penandatanganan kontrak rekaman dengan grup sakti asal Inggris itu. AR menyebut, Led Zeppelin merupakan kelompok musik yang sangat potensial buat jadi idola baru para penggemar musik di seluruh dunia.

Led Zeppelin, yang biasa disebut Led Zepp, dibentuk oleh maha-gitaris Jimmy Page setelah bubarnya Yardbirds, grup band Jimmy Page terdahulu. Led Zepp sendiri sebenarnya merupakan ambisi Jimmy Page untuk mengadakan pembaharuan terhadap Yardbirds. Oleh karena itu, sebelum nama Led Zeppelin beredar, grup itu berkibar dengan nama The New Yardbirds. Yardbirds adalah sebuah kelompok musik beraliran blues dan rock, dan Jimmy Page bergabung di dalamnya sejak Juni 1966. Sayang, benih-benih perpecahan telah nampak ketika mereka usai menggelar shownya di Luton, Beds, Inggris. Perpecahan kian mengkristal dan akhirnya tak dapat lagi dihindari setelah tur show di negeri Paman Sam, rampung.

The New Yardbirds dibentuk Page bersama Chris Dreja (bass). Band yang usianya cuma seumur jagung, itu sempat menggelar tur 10 hari di Scandinavia (September 1968). Namun Page kemudian berniat membentuk band dengan susunan personel baru hingga akhirnya Chris Dreja undur diri untuk memulai karir sebagai fotografer.
Page lalu menggandeng bassis John Paul Jones untuk bergabung. Bersama Peter Grant - manajernya - Page lalu menyaksikan Robert Plant pergelaran Hobbstweedle - bandnya waktu itu - di Birmingham, Inggris. Dari sanalah Page kepincut pada lengkingan vokal Plant lagi-lagi mengajaknya bergabung. Sedang masuknya John Bonham yang sebelumnya adalah personel Band Of Joy, atas rekomendasi Robert Plant yang menyarankan Page untuk merekrutnya. Pertimbangannya waktu itu, John Bonham dinilai berpengalaman tampil mengiringi Joe Cocker, Chris Farlowe juga Tim Rose.


ReviewReviewReviewReviewKen A Rock-nya Harry Roesli
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Harry Roesli
DALAM bermusik, Harry Roesli memperlihatkan kedekatannya dengan musik rock. Walaupun begitu, dia tidak pernah disebut rocker. Rock Opera Ken Arok yang digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975, mengusung musik rock dan mengangkat namanya setinggi langit. Namun, Harry sendiri cenderung menamakan kegiatannya itu Wayang Orang Kontemporer dan mengeluh bahwa Ken Arok terlalu dibesar- besarkan. Pergelaran yang banyak menarik perhatian itu dipentaskan lagi pada 2 Agustus 1975 di Balai Sidang, Jakarta.

ROMBONGAN penari berpakaian gemerlap, berkumis, dan berjanggut lebat muncul dari kiri panggung. Mereka duduk, lalu menggerakkan tangan ke atas seperti penari kecak dengan iringan musik hard rock. Kemudian dari panggung sebelah kanan muncul penari wanita yang berbusana putih perak. Rambut mereka semuanya kerinting bahkan ada yang kribo, seperti rambut penyanyi God Bless, Achmad Albar, atau Gito dari Rollies. Begitulah Rock Opera Ken Arok dimulai

Tokoh yang hidup pada abad ke-13 (1222-1247) itu dengan sendirinya mewakili kebengalan Harry. Ken Arok begitu muncul langsung mendeklamasikan sajak: Aku Ken Arok, yang engkau tunggu, engkau membeli karcis menontonku, uang seribu tidak sedikit, wahai teman kau tertipu, coba jika uang itu, kau jajankan di jalan Tamblong, tapi kini telah terlanjur, uangmu ada di saya.

Sajak itu menyatakan bahwa rock opera itu bukan apa-apa. Penonton yang dikibuli harap jangan kecewa karena mengharapkan apa-apa yang berlebihan. Walaupun demikian, uang penonton tetap tidak bisa dikembalikan. Penonton yang sebagian besar terdiri dari kaum remaja dan beberapa orang asing membayar tiket masuk antara Rp 500 dan Rp 1.000 justru tertawa terbahak-bahak.

Kiprah Harry dalam musik rock terus berlanjut. Bersama God Bless, Gipsy, Voodoo Child, Giant Step, Rollies Paramour, Odalf, Freedom of Rhapsodia, dan Yeah Yeah Boys, Harry Roesly and His Gang tampil dalam pesta musik udara terbuka Kemarau 75 di lapangan Gedung Sate, Bandung, 31 Agustus 1975.

Sebelumnya dia juga ikut bersama belasan grup musik pada pesta musik semalam suntuk, Summer 28, tanggal 16 Agustus 1973 di Pasar Minggu, Jakarta. Pemusik bengal ini mamang tidak mau diam, ada saja yang dilakukannya. Dia tidak pernah ambil pusing manggung di mana. Di sebuah kafe yang pengunjungnya cuma seratus orang juga jadi. Lapangan terbuka yang ditonton puluhan ribu orang, apalagi.

Rock Opera Ken Arok-nya di bawa ke mana-mana, termasuk ke Semarang pada Januari 1976. Tetapi, di kota ini Harry kena batunya. Pergelarannya dihentikan oleh yang berwajib, dengan alasan naskah pertunjukan terlambat tiba di meja pemberi izin. Pencekalan pergelaran memang sering terjadi pada masa Orde Baru. Itulah sebabnya Harry ikut menandatangani Pernyataan Mei bersama seniman lainnya menolak hambatan atas karya seni. Sembilan tahun kemudian, April dan Mei 1995, pergelaran Harry juga batal tampil karena soal izin. Yang jelas, pencekalan itu bukan karena musik rock atau jenis musik lain yang diramu Harry, melainkan karena bahasa liriknya tidak mengena pada bahasa penguasa waktu itu.

Harry tidak mau pusing-pusing. Karyanya jalan terus. Bersama Leo Kristi, ia tampil dalam malam Apresiasi Seni Mahasiswa di Gelanggang Mahasiswa Kuningan tanggal 3 Desember 1977, kemudian Pagelaran Musik Konkrit Harry Roesli selama tiga hari, 31 Juli hingga 1 Agustus 1980. Motor trail, skuter, sepeda motor Yamaha dan Honda bebek dijejerkan di depan studionya dengan mesin dihidupkan, lalu masing-masing digas keras-keras dalam pergelaran musik Sikat Gigi.

Bereksplorasi dan menjelajahi daerah-daerah musik yang baru, seperti memanfaatkan gemuruh suara air terjun dari kotak pengeras suara elektronik disusul kesenyapan tiba-tiba, dilanjutkan dengan suara kertas diremas di depan mikrofon. Semua itu dilakukannya bersama DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung) di berbagai panggung.

Menyusul Off the Record, kemudian ia membuat kejutan lainnya dengan tampil di pub, main musik disko bersama dedengkot jazz Bubi Chen. Masih banyak yang dilakukannya sepanjang tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an. Akibatnya, pada hari Minggu 1 Agustus dia digotong ke rumah sakit Borromeus, Bandung

Akan tetapi, Harry Roesli bukanlah Harry Roesli kalau sekeluar dari rumah sakit langsung tetirah ke tempat yang tenang untuk memulihkan kesehatannya. Teman-temannya berdatangan, dari menjenguk akhirnya menjadi arena ngobrol. Yang ujung-ujungnya menjadi berbagai kesibukan bermusik, berdiskusi, dan sebagainya. Bersama DKSB dan remaja SMA Blue Enterprises, digelarnya Over Dosis, 30 April-1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia Bandung. Masih di Bandung, Harry mementaskan "Pertunjukan Pembicaraan" dengan membaca puisi, tetapi ia tidak meradang atau berteriak di antara gebukan perkusi serta geraman masif synthesizer sebagaimana biasanya.

Pada tahun 1995 Opera Tusuk Gigi, setelah itu ia membuat heboh di di A Mild Jak Jazz ’95 dengan memukul 13 tong kosong. Tahun berikutnya, Konser Musik Generasi Koplo di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 1996, dengan pengeras suara berkekuatan belasan ribu watt mengepung penonton. Seterusnya bisa diduga, Harry kembali masuk rumah sakit, demikian berita di koran-koran di Bandung, Jakarta, dan kota besar lainnya di Indonesia, 1 November 1996.

Setelah empat bulan dilumpuhkan penyakit misterius sampai pingsan dan keluar masuk rumah sakit, akhir Januari 1997 Harry menyatakan dirinya sudah sembuh dan merasa segar bugar. Kalau sudah begitu, tentu saja dia sibuk lagi, antara lain mengikuti Ajang Festival Perkusi 8-9 Juli di arena Pekan Raya Jakarta. Ia juga tidak mau ketinggalan hadir di Festival Perkusi Jakarta 1997. Dilanjutkan dengan Musik Jazz Invalid 25 Jam 4 Menit di Pusat Kebudayaan Perancis, 26 Juli.

Lalu Harry Roesli and His Gang mengadakan reuni di Poster Café. 31 Oktober, Jakarta. Berlanjut di Bandung, 22 November, dengan misi ganda. Selain menghibur dan ajang kangen-kangenan, konser di Bumi Sangkuriang itu juga bermisi sosial untuk mengetuk hati dermawan menyisihkan sebagian uangnya bagi korban bencana alam di Papua.

Setelah berbagai panggung, giliran televisi menampilkan karya-karyanya. Bulan Ramadhan 1977 Harry mendapat "order-pesanan", membuat acara operet yang ditayangkan selama seminggu berturut-turut sebelum lebaran. Tapi, setelah itu Konser Musik Kontemplasi Jilid III yang direncanakan 22 Februari 1998 di Gedung Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung, dicekal. Semakin dicekal, ternyata kreativitas Harry semakin bergelora. Pada 17 April DKSB tampil di Teater Utan Kayu, Jakarta.

Masih belum merasa puas, ia lalu menerbitkan tabloid Deru, dan Harry menjadi pemimpin redaksinya. Sementara itu, dia juga sibuk mengurus para pengamen dan mendidik mereka dengan ilmu musik. Tapi, lagi- lagi daya tahan tubuhnya tidak kuasa menunjang kreativitasnya yang sedemikian menggebu. Pada 25 Oktober 1998 Harry kembali diantar ke Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.

Berbagai kegiatan musiknya itu menunjukkan bahwa Harry bukan pemusik rock. Sebagaimana musik lainnya, rock hanya salah satu medianya untuk berekspresi, terutama untuk kaum muda, inilah kelebihannya. Kelebihannya yang lain adalah mampu membuat orang tertawa pada setiap kesempatan meskipun yang sedang dibahas atau dimainkannya adalah musik serius, yang di tangan pemusik lain biasanya membuat penontonnya mengernyitkan kening. Secara terus terang Harry mengakui bahwa dalam berkarya dia memang berada dalam wilayah dua sistem nilai.

MENGAKU berangkat dari musik populer, ternyata Harry tak pernah melupakan kulitnya meski kemudian dia menghasilkan musik-musik seni dan kontemporer. Selama 26 tahun, tidak kurangi 25 judul kaset dirampungkannya.

Mulai dari Philosophy in Rock (1971), HR Solo I (1972), HR Solo II (1973), HR Solo III (1974), Kaki Langit Akustik (1975), Titik Api (1976) hingga Ken Arok (1977), HR Solo IV (1977) dan Focus (1977). Disusul Tiga Bendera (1977), Gadis Plastik (1978), LTO (1978), Daun (1979), Jika Hari Tak Berangin (1979) serta Kharisma I (1981). Dilanjutkan dengan Kharisma II (1982), Kota Gelap (1982), Zaman (1984), Kuda Rock ’n Roll (1986), Cas Cis Cus (1989), Asmad Dream (1990), Orang Basah (1991), Cuaca Buruk (1992), DKSB Book (1992), dan Si Cantik (1997). Beberapa hasil rekamannya itu diproduksi dan diedarkan di Australia, AS, serta beberapa negara Eropa.

Bisa dikatakan, Harry lebih produktif daripada para pemusik pop maupun rock umumnya industri rekaman negeri ini. Dalam kurun waktu yang hampir sama, God Bless hanya menghasilkan lima album, ditambah dengan solo album Achmar Albar juga masih di bawah jumlah milik Harry. Barangkali yang bisa menandingi Harry dalam jumlah album hanya Koes Plus dan Hetty Koes Endang.

Hasil rekaman Rock Opera Ken Arok pada tahun 1977 bahkan sempat menjadi rebutan dua produser, Apple Records dan Eterna, hingga harganya melonjak menjadi Rp 4 juta, tawaran yang sangat tinggi waktu itu. Kalau dihitung berdasarkan harga kaset tahun 1977, nilai rekaman Ken Arok itu sekarang berkisar antara Rp 100 dan Rp 200 juta.

Perbedaannya, motivasi Harry dalam berkarya adalah ketika mengerjakan musik untuk industri menggunakan pertimbangan pasar, sementara untuk musik seni berurusan dengan ekspresi. Tapi, sadar atau tidak dalam rekaman Rock Opera Ken Arok, Harry memadukan keduanya. Sementara dalam rekamannya yang lain, musik dan lirik juga sering bertentang dengan kehendak pasar. Walaupun demikian, kaset Ken Arok direspons masyarakat sangat positif, sebagaimana rekaman lagu pop manis yang waktu itu sedang meledak-ledak. Kalau sudah begitu, tidak salah jika Ken Arok di tangan Harry Roesli menjadi Ken A Rock.

Musik rock dalam falsafah pemusik tambun yang tingginya 166 cm, berat 85 kg, dan lahir di Bandung 10 September 1951 ini dijelaskannya sejak Harry Roesli and His Gang pertama terjun ke dunia rekaman dengan album Philosophy in Rock pada tahun 1971. Salah satu lagu berjudul Malaria, liriknya begini: Sprei tempat tidurmu, putih/itu tandanya kau bersedih, mengapa tidak kau tiduri/ kau hanya terus menangis/apakah kau seekor monyet, yang hanya dapat bergaya/kosong sudah hidup ini/bila kau hanya bicara, guling bantalmu kan bertanya/apakah yang kau pikirkan nona/kau hanya bawa air mata dan ketawa yang kau paksa/lonceng kamarmu kan berkata, mengapa nona pengecut/lanjutkan saja hidup ini, sebagai nyamuk malaria.

Pada saat itu, 34 tahun yang lalu, Harry menunjukkan bahwa dia tidak hanya piawai berlirik, tetapi juga menyelami musik rock lebih mendalam dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan pemusik kita yang merasa lebih rocker dibandingkan dengan pemusik rock Eropa atau Amerika Serikat.

Pengetahuan Harry tentang musik rock diteruskan dengan penelitian musik seni, yang membuatnya semakin tertarik setelah mengambil jurusan musik elektronik di Rotterdam Conservatorium di Belanda, 1977-1981. Sambil kuliah, manggung, dan menghadiri diskusi-diskusi, selama tiga tahun itu ternyata dia mampu menghasilkan sembilan album rekaman. Produktivitas yang luar biasa. Belum termasuk karya musiknya untuk teater dan film.

Dalam album Philosophy in Rock, Harry mengaku banyak dipengaruh berbagai jenis musik dari Brian Auger, Cannon Ball Adderly, Crusaders, War, dan Hampton Hawyes. Pada hakikatnya, filsafat, agama, dan musik adalah pokok hidup yang tidak ternilai harganya, ketiga- tiganya selalu bergandengan tangan, begitu Harry pernah mengatakannya pada suatu ketika tentang judul album perdananya itu.

Seluruh hadirin final Djarum Super Rock Festival X, 11 Desember 2004 di Stadion Tambaksari Surabaya, juga bergandengan tangan dalam mengheningkan cipta ketika diumumkan oleh pembawa acara Ovan Tobing bahwa hari itu Kang Harry telah berpulang.



Soenatha Tanjung : Tinggalkan Rock, Sekarang Hanya Dengar Musik Religi

Di era 1970-1980-an, grup SAS banyak disebut orang sebagai number one rock group in Indonesia. Lengkingan gitar yang dimainkan oleh Soenatha Tanjung merupakan salah satu alasan mengapa SAS mendapat predikat bergengsi itu. Perjalanan spiritual membawa sang gitaris legendaris tersebut sekarang benar-benar “lepas” dari musik cadas.

PARA penggemar rock Indonesia generasi 1970-an pasti mengenal Soenatha Tanjung, gitaris SAS. Maklum saja, Soenatha merupakan salah seorang dewa gitar Indonesia pada zamannya. Namanya dapat disejajarkan dengan para gitaris papan atas Indonesia saat itu. Antara lain, Ian Antono (God Bless). Menyebut sejarah musik rock Indonesia pun rasanya tak lengkap bila belum menyertakan nama Soenatha Tanjung.

Uniknya, di masa tuanya, Soenatha justru mengaku tak terlalu mengikuti perkembangan musik tanah air. ”Boleh dibilang, saya tak pernah mendengarkan musik lain, selain musik religi saat ini. Termasuk, musik rock sekalipun,” tuturnya.

Makanya, Soenatha menyatakan tak bisa dan tak tertarik bicara tentang perkembangan musik tanah air belakangan ini. Satu-satunya yang diikutinya adalah perkembangan gitar, alat musik yang begitu dikuasainya. “Zaman semakin maju, gitar menjadi lebih canggih dan penggunaannya makin bervariasi,” ujarnya.

Tentu saja, petikan gitarnya kini tak lagi meraung seperti saat menjadi gitaris grup cadas, namun lebih akustik dan religius. Karir Soenatha sendiri di bidang musik rock dimulai pada 1968. Ketika itu, Soenatha bergabung dengan AKA (Apotek Kali Asin), sebuah grup rock Surabaya yang dipandegani Ucok AKA Harahap. ”Saya masuk menggantikan Jerry Souisa yang mengundurkan diri,” katanya. Sebelumnya, Soenatha memperkuat grup band Arista Birawa.

Pada 9 September 1974, AKA bubar. Pasalnya, sang frontman AKA, Ucok Harahap, mendirikan duo Kribo -sebuah duet vokalis bersama Achmad Albar. Namun, bubarnya AKA tak membuat Soenatha berhenti berkiprah di musik cadas. Akhir 1975, bersama Arthur Kaunang dan Syech Abidin, Soenatha membentuk grup baru bernama SAS. Tentu saja, SAS merupakan singkatan nama ketiganya.

Berbeda dengan AKA, SAS lebih banyak berkiblat pada jenis musik rock progresif ala ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada. Pengaruh band-band rock Inggris, khususnya Led Zeppelin dan Deep Purple, masih cukup kuat. Perbedaan lainnya, SAS tidak lagi menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sensasional yang menjadi salah satu cap dagang utama AKA. Meski begitu, dari segi musik, SAS justru lebih gahar. ”Kami (SAS) merasa lebih bebas mengeksplorasi musik rock,” tandasnya.

SAS juga termasuk di deretan grup rock lokal yang amat produktif. Sampai 1993, SAS menghasilkan lebih dari sepuluh album. Agak berbeda dengan grup-grup lain, dalam empat album terakhirnya, grafik kualitas permainan musik SAS justru tampak semakin meningkat dan matang. Album Metal Baja, misalnya, kendati tampak kalah ”pamor” daripada Baby Rock atau Bad Shock, sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu puncak karya SAS.

Namun, setelah peristiwa kesetrum itu, minat Soenatha pun mulai beralih ke hal-hal religius. Dia memang tidak secara langsung berhenti total dari jenis musik yang membesarkan namanya tersebut. Sebab, pada 1993, tiga tahun setelah Soenatha mendapat mukjizat kesembuhan, SAS masih mengeluarkan album Metal Baja. “Itu jadi album terakhir saya bersama SAS,” tuturnya.

Setelah sepenuhnya mengabdikan diri pada dunia religi, Soenatha menyebut masih sempat beberapa kali bertemu dengan teman-teman satu grupnya dulu. Yang paling sering dengan Arthur Kaunang, pria yang kini juga banyak menghabiskan hidup untuk kehidupan agama. Dia menambahkan, yang dilakukannya dan Arthur saat ini bukan suatu kesepakatan bersama. “Ini semua adalah kerja Tuhan. Kalau bukan kehendak-Nya, sulit orang bersedia melayani Tuhan,” tuturnya.

Tak Paksakan Anak Ikuti Jejak
Lebih dari seperempat abad, Soenatha Tanjung berkecimpung di dunia musik rock. Tak heran jika pria berusia 63 tahun itu mengaku sudah merasakan asam garam yang mengitari kehidupan musik cadas tersebut. Gaya hidup bebas yang melebihi norma agama seolah menjadi label yang tak bisa dipisahkan dengan musisi rock.

Meski begitu, Soenatha yang kini sangat taat beragama mengaku tidak akan melarang anak-anaknya jika ada yang ingin menjadi bintang rock. “Malah saya punya keuntungan. Karena sudah pengalaman, saya bisa mengarahkan anak agar bermain musik dengan baik tanpa terpengaruh hal-hal buruk,” ujarnya.

Di antara empat anaknya, kata Soenatha, si bungsu, Victor Tanjung, mulai terlihat mengikuti darah bermusik bapaknya. “Dia bikin band sama teman-temannya. Ikut kursus juga. Posisinya sebagai drumer,” ujarnya.

Soenatha mengatakan tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk belajar musik. “Baru, kalau mereka minta, saya ajarin. Soalnya, hasil dari niat sendiri dibandingkan saya yang minta mereka belajar pasti akan berbeda,” tuturnya.

Kalau Soenatha memilih bermain gitar, itu dulu disebabkan pergaulan. Pada masa remajanya, sedang booming Elvis Presley yang selalu membawa gitar pada setiap konser. Dia pun mulai belajar gitar hingga bergabung dengan grup Arista Birawa pada 1964. Namun, Soenatha sudah memiliki background musik sebelumnya. “Alat musik yang pertama saya pelajari adalah biola,” kenangnya.

Itu disebabkan ayah Soenatha, Samuel Tanjung, adalah pemain biola. Bahkan, ayahnya masuk dalam grup musik saat masih berada di Bondowoso. “Setelah menginjak remaja, saya belajar gitar dan meninggalkan biola yang sudah kalah tren,” ujarnya.


Superkid - All The Girls In The World Beware!

Pencitraan sebagai trio yang tak kenal takut dan cenderung menantang mendorong kemunculan Superkid bak meteor. Personilnya sarat skill dan karisma, perpaduan maha penting yang sekaligus membunuh usia karir mereka.

Panggung musik rock Indonenia setidaknya pernah mengenal dua trio tangguh : SAS dan Superkid. Yang pertama beranggotakan Soenatha Tanjung (vokal, gitar, harmonika), Arthur Kaunang (vokal, bas, piano) dan Syech Abidin (vokal, drum). Ketiganya jarang tersentuh pemberitaan media cetak kecuali aksi panggungnya dalam memainkan memainkan jenis musik rumit dari ELP (Emerson, Lake & Palmer). Sedangkan yang kedua beranggotakan Deddy Dorres (vokal, gitar, keyboard), Deddy Stanzah (vokal, bas, harmonika) dan Jelly Tobing (vokal, drum). Kehidupan personilnya selalu menjadi konsumsi publik karena beragam kontroversi yang mereka ciptakan.

Kedua trio ini kerap bertemu satu panggung. Dengan dibumbui persaingan yang menjadi gaya publikasi khas saat itu, SAS dan Superkid seolah merupakan kata kunci untuk bisnis pertunjukan yang selalu menyedot penonton. Isu adanya sabotase yang dilancarkan pihak-pihak tertentu menjadi hal jamak. Pernah dalam sebuah pertunjukan bas drum Jelly Tobing jebol sehingga mengakibatkan pedalnya tidak dapat kembali ke posisi semula. Bagi seorang drummer, ini peristiwa fatal mengingat hubungannya dengan dinamika sebuah lagu. Namun personil Superkid rata-rata telah memiliki jam terbang tinggi. Accident barusan tak sampai mempengaruhi konsentrasi Stanzah dan Dorres untuk tetap bermain maksimal. Usai pertunjukan, Jelly mengaku melihat bekas goresan pisau pada kulit bas drumnya. Ia juga melihat serbuk garam bertebaran di atas karpet merah yang menjadi alas set drumnya. Adakah hubungannya dengan peristiwa nahas tadi? Walla hualam.

....dalam waktu relatif singkat nama band yang bermarkas di jalan Martadinata 70, Bandung, ini meroket. Melalui majalah Aktuil dimana ia turut merintis, Denny terus-menerus memberitakan artisnya dengan pencitraan sebagai band yang tidak takut tampil di mana pun, sehingga lambat laun publik pun menjadi penasaran. Mereka umumnya ingin tahu bagaimana penampilan trio yang personelnya terdiri para superstar tersebut. Menjelang pemunculan perdana di Aula ITB, 1975, tak kepalang tanggung Jelly diberitakan siap menggilas drummer top se-Bandung. Tak seperti Stanzah atau Dorres yang sudah mendapat tempat di hati publik rock Bandung, Jelly Tobing sepertinya harus berjuang keras untuk mendapat pengakuan kembali. Akibatnya beberapa hari sebelum pertunjukan ia mengaku tak bisa tidur. “Pokoknya latihan dan berdoa terus agar diberi kelancaran. Gue yakin Tuhan tak pernah tidur,” ceritanya.

Menurut Jelly Tobing, saat itu para drummer umumnya hanya memasang mikrofon pada jenis perangkat tertentu seperti bas atau snare. Ia lantas berpikir keras untuk tampil beda. Caranya antara lain dengan memasang mikrofon pada seluruh perangkat drumnya agar suara yang dihasilkan terdengar lebih menggelegar. Simbal dihajarnya dari arah bawah ke atas. Melalui teknik pukulan yang tak biasa ini Jelly Tobing bermain habis-habisan di hadapan penonton yang nyaris lebih dari sembilan puluh persen terdiri atas para pemusik.

Sejak itu nama Superkid identik dengan pertunjukan panggung yang selalu gegap gempita. Pernah ketika membuat atraksi penghancuran gitar Dorres, yang pada dasarnya bukan seorang “destroyer yang baik”, nampak ragu-ragu. Melihat temannya bertindak tanggung, Jelly segera merebut gitar tersebut dan menghancurkannya hingga berantakan. Begitulah. Penonton selalu mendapat kepuasan setiap kali Superkid muncul. Permintaan tampil pun mengalir. Nyaris tak ada waktu untuk beristirahat. Harus diakui bahwa mempersatukan ketiga superstar dalam sebuah format trio adalah tindakan jitu yang pernah dilakukan Denny Sabri. Superkid laksana bayi perkasa yang cepat menanjak dewasa.



THE TIELMAN BROTHER'S sejarah Rock n Roll Indonesia yang dilupakan bangsanya.

Ngefans sama The Beatles, Jimmy Hendrix, atau Rolling Stones! Sebuah hal yang wajar karena mereka-mereka itu memang musisi handal yang albumnya selalu dikenang sepanjang masa. Tapi jauh sebelum kejayaan mereka, Indonesia pernah mencatatkan sejarah mencetak band rock gokill pada akhir tahun 1960-an. Mereka bukan Koes Bersaudara ataupun Koesplus atau Panbers, mereka adalah The Tielman Brothers.
The Tielman Brothers adalah orang keturunan maluku yang besar Surabaya dan pindah ke Belanda untuk mengadu nasib. Mereka adalah kakak beradik dari pasangan Herman Tielman dan Flora Lorine Hess. Pasangan kakak beradik ini antara lain, Andy Tielman (lead guitar, vocals), Reggy Tielman (2nd lead guitar, vocals), Ponthon Tielman (double bass, vocals)Loulou Tielman (drums, vocals). Kebiasaan bermusik di keluarga yang kental lah yang membuat Tielman bersaudara ini sangat mahir dalam bermusik, dan menciptakan sound-sound yang aneh pada zamannya. Cerita The Tielman Brothers dimulai ketika di Surabaya 4 bersaudara Tielman kecil sering memainkan lagu-lagu daerah pada tahun 1945. Mereka tampil saat sang Ayah yang berprofesi sebagai komandan tentara KNIL sering mengajak rekan-rekannya berpesta di rumah. Tak disangka ternyata penampilan kakak beradik ini sangat memukau penonton yang hadir dalam pesta itu. Karena yang hadir dalam pesta itu notabenenya adalah pejabat-pejabat maka The Tielman Brother tidak kesulitan untuk tampil di berbagai pagelaran musik. Mereka pernah tampil di Timor-timur bahkan mereka pernah tampil di hadapan presiden Soekarno di Jakarta pada bulan Desember 1949. Saat itu mereka masih membawakan lagu-lagu dari Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry and Gene Vincent. Dan mulai saat itu mereka berkonsentrasi untuk memainkan rock n roll yang lebih garang.
Tahun 1957 mereka mendapat kesempatan untuk tour di Belanda, akhirnya The Tielman Brothers memutuskan untuk hijrah ke Belanda mengingat masa depannya akan lebih baik jika berada di negeri kincir angin itu. Penampilan pertama mereka adalah di Hotel De Schuur di Breda, dengan membawakan versi lain dari lagu Bye Bye Love nya The Everly Brothers. Setelah penampilan yang heboh di Belanda, The Tielman Brothers semakin dikenal di seluruh Belanda bahkan mereka sering diundang tampil di Belgia dan Jerman. Pada awal tahun 1960 The Tielman Brothers merilis 4 lagu ciptaan mereka sendiri, lagu itu antara lain My Maria, You're Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby. Lagu ciptaan mereka ternyata banyak disukai oleh orang-orang Belanda. Orang-orang Belanda sering menyebut aliran musik The Tielman Brothers sebagai aliran Indorock. Orang Belanda menyebut Indorock karena kebanyakan band-band tersebut beranggotakan orang-orang Indonesia. Selain The Tielman Brothers ada juga Band Electric Johnny & his Skyrockets , The Crazy Strangers, The Crazy Rockers dan The Black Dynamites(Los Indonesios). Sayang nampaknya di Indonesia sendiri eksistensi mereka kurang dikenal, orang Indonesia lebih menyukai The Beatles, Jimmy Hendrik, dan Rolling Stones. Padahal sebelum The Beatles terkenal Paul Mc Cartney pernah menonton band-band Indorock dan dia sangat terinspirasi akan musik-musik band indorock. Lalu teknik permainan gitar sang dewa gitar Jimmy Hendrik sebenarnya sudah dimainkan secara apik oleh The Tielman Brothers. Jadi berbanggalah Indonesia pernah memiliki The Tielman Brothers.


Freedom of Rhapsodia

Pengusung Sweet Rock dari Bandung

Jika kita menelusuri jejak perkembangan musik di kota Kembang Bandung sekitar tahun 60an, maka selain grup The Rollies, Paramor yang sudah dikenal, sebenarnya masih adalagi grup musik yang menjadi andalan kota Bandung. Ya… kelompok musik Freedom of Rhapsodia, yang biasa membawakan lagu-lagu barat/asing ini dibentuk oleh beberapa nama musisi, antara lain: Soleh Sugiarto Djayadihardja (drums, vocal); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M.Thahir (bass) dan Alam (lead vocal).

Namun jika ditelusuri lebih kebelakang, cikal bakal grup Freedom of Rhapsodia ini berawal dari grup Rhapsodia, dimana bergabung Utte M.Thahir (bass); Alfred (gitar); Ibung (drums); Sondang (keyboard) dan Alam (vocal). Setelah beberapa saat, Rhapsodia mengalami permasalahan internal yang berakibat dengan pergantian personil dan dengan masuknya Deddy Dores (keyboard, lead guitar), nama Rhapsodia pun ditambah dengan awalan Freedom.

Order untuk manggungpun sangat padat karena Rhapsodia merupakan band idola para pemaja di kota Bandung pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, disamping aksi panggung mereka yang atraktif serta para personilnya yang ganteng-ganteng, sebut saja; Deddy Dores yang sering disebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Edger Winter-nya Indonesia karena gaya permainannya dan senangnya dia menyanyikan lagu-lagu Edgar Winter seperti Southern Woman, Free Ride dll, adalah motor penggerak hidupnya aksi panggung disamping kelincahan lead vokalnya Soleh Sugiarto yang saat itu disebut sebut sebagai Alice Cooper-nya Indonesia karena seringnya dia membawakan lagu-lagu Alice Cooper seperti lagu ”School Out” yang merupakan lagu kebangsaannya diatas panggung,belum lagi Johanes Sarwono yang imut-imut ini mahir bermain keyboard, Kiky yang rambutnya suka diponi dahsyat dalam menggebuk drumnya dan Uthe yang lincah pada bass serta Dave Tahuhey yang sangat atraktif bermain Saxofon. Disamping itu mereka juga sering membawakan lagi-lagu dari Santana, James Brown, Deep Purple dan Uriah Heep disetiap penampilannya.

Kekuatan aransemen musik grup ini dimana mereka mampu memadukan alat musik tiup “brass section” ketika memainkan nomor-nomor souls dari James Brown, dan hard rock dari Deep Purple maupun Alice Cooper yang menjadikan ciri khas mereka , ketika merubah formasi grup ini, setelah didukung oleh: Soleh Sugiarto (drums ke lead vocal, trumpet); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M. Thahir (bass); Dave (saksophon, flute, ex group Memphis); Kicky (drums, ex group Memphis) dan J.Sarwono (organ), dan dengan formasi ini mereka terlihat lebih solid.

Dunia rekaman pun mulai dijelajah oleh Deddy Dores dan kawan-kawan. Pada tahun 1972, mereka masuk dunia rekaman dibawah naungan label Purnama Record. Album perdana yang melambungkan lagu hits ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ciptaan J.Sarwono, membuat nama grup Freedom Of Rhapsodia semakin dikenal di Tanah Air yang kabarnya album ini terjual hingga 50.000 keping.. Terlebih lagi vocal Deddy Dores yang rasanya sangat pas sekali dengan tipikal warna musik di album perdana ini. Tidaklah mengherankan jika lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ini setelah 35 tahun kemudian (tahun 2007) di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Rockestra, malah lagu tersebut terdengar lebih ‘rock’ dan warna musiknya lebih ‘gereget’ dibandingkan dari versi asli Freedom Of Rhapsodia (tahun ’72).

Keberhasilan Freedom Of Rhapsodia dalam rekaman, membuat beberapa promotor musik di Jakarta berani mengajak grup ini untuk tampil dalam konser terbuka dengan grup-grup musik yang sudah terkenal saat itu. Pada 24 Desember 1972, di Taman Ria Monas Jakarta, grup Freedom of Rhapsodia ditampilkan dengan grup musik pop D’Lloyd, Jakarta yang sedang naik daun saat itu. Penampilan Soleh (vokalis) mampu menghentakkan suasana, selain membawakan lagu dari Alice Cooper mereka juga membawakan lagu karya sendiri, seperti ‘Free to Love Another Girl’, sehingga menarik simpati para penonton Jakarta malam itu. Sekaligus memproklamirkan diri nama Freedom tanpa Rhapsodia.

Seperti diketahui, pemakaian nama dengan mengkaitkan nama Rhapsodia ini berlanjut, seperti The Rhapsodia Kings. Bahkan ketika Deddy Dores bergabung dengan grup rock Giant Step (tahun ’74) pada awalnya disebutkan nama grup barunya bersama Benny Soebardja tersebut, Giant Step Of Rhapsodia. Sedangkan grup Rhapsodia sendiri “comeback” pada tahun 1976 dengan Machyul dan kawan-kawan sebagai pengibarnya.

Untuk memposisikan diri sebagai sebuah grup yang memainkan music rock, Freedom mulai aktif melakukan tour-tour ke berbagai kota di Indonesia. Pada bulan Maret 1973, bertempat di Gedung Tenun Malang, kembali grup Freedom tampil bersama grup rock tangguh AKA yang sudah merajai dunia musik rock saat itu. Lagu “Hilangnya Seorang Gadis” merupakan lagu pamungkas bagi grup Freedom selain lagu Freedom ciptaan mereka sendiri sebagai lagu kebanggan mereka, walaupun dalam pergelaran musik rock sekalipun. Aransemen musik tiup yang biasanya dipadukan dengan nomor lagu rock, sedikit-demi sedikit mulai disederhanakan dalam aransemen musik mereka. Mengingat vocal utamanya, Soleh yang harus memfokuskan bernyanyi dan aksi panggung agar dapat mengendalikan “showmanship” grup Freedom sebagai grup musik rock.

Saat tampil di kota Semarang pada Mei 74. Soleh, sang vokalis dengan mengenakan jubah putih sambil membawa obor, menyanyikan nomor lagu dari Osibisa, yang berjudul “La-Ila Ilala”, dianggap membuat ‘sensasi’ dan ke’heboh’an untuk ukuran saat itu. Pasalnya, para penonton agak marah dan protes dengan keberanian Freedom membawakan lagu tersebut, karena dapat dikatakan inilah lagu pop pertama kali yang memakai kalimat ayat suci Al Quran, memuja Tuhan dan RasulNya (dalam bahasa Arab) dinyanyikan dalam suasana pertunjukkan musik “rock” yang gegap-gempita. Bahkan para jurnalis dan pengamat musik Semarang saat itu menilai bahwa lirik-lirik lagu yang dibawakan Soleh tersebut tergolong “liar” dan dianggap “menghina Tuhan”. Akibatnya, pihak berwajib melarang pemutaran lagu itu diseluruh radio-radio swasta di Jawa Tengah.

Dampak dari “kehebohan” mereka saat show di Semarang tersebut terdengar hingga ke kota asal mereka, Bandung. Dua (2) hari setelah itu, ketika Freedom diminta main di Gedung Merdeka Bandung untuk mengisi acara pesta sebuah sekolah, Soleh dan kawan-kawan berniat membawakan lagu Osibisa yang menghebohkan Semarang tersebut untuk menguji reaksi dan pandangan masyarakat Bandung. Namun niat ini tidak jadi dilakukan, karena “Ngeri juga masuk penjara”, komentar Soleh. Bahkan dari pengalaman selama mengadakan pentas pertunjukkan diberbagai kota di Indonesia, baru pertunjukkan kali ini Freedom dijaga ketat diseputar panggung oleh aparat keamanan berjumlah 20 orang, yang lumayan banyak untuk ukuran saat itu. Namun permintaan maaf Freedom kepada masyarakat Bandung lewat media cetak tetap dilakukan Soleh dan kawan-kawan, mengingat dua diantara para personil tersebut orangtuanya ada yang dikenal sebagai tokoh agama/ulama di Bandung saat itu.

Pada bulan Oktober 75 saat tampil bersama grup rock Ternchem, asal Solo di Taman Hiburan Rakyat Diponegoro Semarang, diantara personil Freedom yang tetap, ada nama Choqy Hutagalung (organ) musisi yang dikenal pernah bersama Eros Djarot semasa di Jerman membentuk grup Kopfjaeger (cikal bakal grup Barongs Band) dan pernah bergabung dengan Gang of Harry Roesli di awal tahun 70an. Kehadiran Choqy sebagai pemain organ sedikit banyak dapat mengimbangi peran J. Sarwono maupun Deddy Dores semasa mereka di grup Freedom ini. Bahkan nomor lagu “Love Story” sempat menarik simpati penonton ketika dimainkan Choqy secara manis diantara repertoar lagu-lagu keras yang dibawakan Freedom. Sedikit berbeda dari tampilan Freedom kali ini, ialah Soleh, sang vokalis dengan memakai “wig” kribo, sehingga terlihat seperti ke’banci2’an dengan kostum agak bercorak ‘glitter rock’ mampu menguasai penonton dan menuai sukses.

Keberadaan grup Freedom dalam dunia rekaman musik Indonesia, sempat terhenti ketika Freedom sudah menyelesaikan album keempat. Hal ini disebabkan karena mundurnya Deddy Dores (lead guitar, keyboard, vocal) yang sangat berperan dalam penciptaan dan penataan musik serta sebagai vokalis utama grup Freedom. Masa jeda yang berkepanjangan di dapur rekaman, akhirnya berhasil diatasi oleh Soleh dan kawan-kawan (tahun 1976) sejak hadirnya musisi Ferry Atmadibrata (organ) mantan personil No Bo asal Bandung serta Joko Juwono (gitar) menggantikan Utte. Dalam formasi ini, terlihat bahwa warna musik grup Freedom lebih dominan ke warna musik pop ketimbang warna musik pop-rock pada awalnya. Nomor lagu ‘Mawar Putih’ ciptaan Soleh Soegiarto (vokalis) dijadikan salah satu nomor andalan pada album kelima ini, dimana terasa sangat dipengaruhi warna musik grup Bimbo dan sangat kental dengan warna musik pop.

Sejak mundurnya Deddy Dores (Juni 1973), untuk bergabung dengan grup rock baru God Bless yang dimotori Achmad Albar, tidak membuat Soleh dan kawan-kawan terpengaruh. Malahan dalam formasi baru ini: Soleh (vocal); Utte (bass); Dave (lead guitar); Sarwono (organ) dan Kicky (drums), keberadaan aksi panggung yang ditampilkan Freedom saat tampil bersama grup AKA di Gelora Pancasila, Surabaya pada bulan Agustus 1974 semakin memikat mata. Aksi panggung Soleh, yang memang fanatik dengan gaya ala Alice Cooper, dengan diselingi atraksi melepaskan burung-burung merpati putih, sering mengundang simpati dari para penonton dan juga dari musisi rock yang tampil. Pasalnya, mereka mengidentikkan burung-burung merpati tersebut sebagai lambang “perdamaian” bagi sesama musisi rock yang kala itu sering diadu “duel meet” oleh sponsor pertunjukkan, seolah-olah ada yang harus kalah.

Semaraknya musik pop progresif ala Badai Band pada awal tahun 1977, membuat grup Freedom semakin sulit untuk memposisikan keberadaan warna musiknya dalam era ini. Sedangkan Soleh Soegiarto (vokalis), malahan sempat bersolo karir dengan membuat album ‘Sang Kala’ dibantu teman sesama musisi Bandung pada tahun 1978. Nomor lagu “Sang Kala” yang dinyanyikan Soleh, lebih menebarkan warna musik pop “mellow” dengan aransemenn yang jauh berbeda dengan trend musik yang ada.

Pada saat masuknya nama musisi Chossy Pratama kedalam formasi Freedom ini, mereka sempat membuat satu album “repackage” yang diberi judul “Freedom Of Rhapsodia 93”, dimana warna aransemen musiknya agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Hal ini mengingat bahwa, kehadiran Chossy Pratama, selain sebagai keyboardis juga sebagai pencipta dan penata musik untuk grup ini. Diluar grup ini, ia bahkan sering membantu dalam pembuatan illustrasi musik untuk beberapa film sinetron remaja. Namun eksisnya nama Chossy Pratama di grup Freedom ini, belumlah membantu grup ini untuk berkiprah lebih banyak didunia musik Indonesia, karena situasi dan kondisi dunia permusikan tidaklah serupa dengan awal kebangkitan mereka.

Meredupnya grup Freedom, seakan-akan seiring dengan mulai dikenalnya nama para personil yang berkiprah diluar bendera grup ini. Soleh Soegiarto (vokalis), semakin terkenal setelah menjadi aktivis salah satu organisasi kepemudaan dan sekarang menjadi anggota DPRD di kota Bandung; Utte (bass) lebih memilih kuliah dan sekarang menjalankan bisnis entertainment; J. Sarwono (Keyboard) sekarang menjadi Lawyer; Kicky (drums) masih melanjutkan karirnya didunia “entertainment”; Deddy Dores (lead guitar/vocal) lebih menonjol sebagai pemandu bakat artis penyanyi rock seperti Nike Ardilla (alm), Nia Astrina, Mayangsari (sekarang beralih ke musik pop) dan beberapakali membentuk grup music diantaranya Superkid, Lipstick, Caezar, Sansekerta dsb, dan sekarang sebagai Ketua Suara Perjuangan Artis Indonesia (Spaind). Sedangkan Chossy Pratama dikabarkan telah menjadi pengusaha yang sukses. Ferry Atmadibrata, sempat bergabung dengan One Dee Group (pimpinan Wandi ODALF), selain sebagai pencipta lagu dan penata musik di beberapa rekaman penyanyi komersial.

FREEDOM IS BACK

Setelah lebih dari tiga dekade menghilang, beberapa waktu yang lalu mereka tampil pada acara Blues Night di TVRI untuk menggobati kerinduan pengemarnya, Freedom muncul kembali dengan formasi Djoko Yuwono (gitar), Kiky (drum), Ferry Atmadibrata (keyboard), Dave Tahuhey (Bass), Harry Potjang (harmonika) dan Soleh Sugiarto (vokal) mereka menyanyikan tiga buah lagu, dan yang paling mengagumkan adalah ketika mereka menyanyikan lagu dari The Doors ” Light My Fire” yang dinyanyikan oleh Soleh Sugiarto dan Djoko Yuwono yang dinyanyikan dengan sangat prima.

Discography:

Freedom Of Rhapsodia

1972. Vol 1 (Hilangnya Seorang Gadis ) Purnama Record

1973. Vol 2 (Hancurnya Sebuah Harapan ) Purnama Record

Freedom

1974. Vol 3 ( Tak Pernah Bahagia ) Purnama Record

1974. Vol 4 ( Dedication ) Purnama Record

1975. Vol 5 ( Jangan Lupa Tertawa)Purnama Record

1975. Pop Mandarin

1983. Freedom Of Rhapsodia’83 Asri Record/Asia Record

1991. Freedom Of Rhapsodia’91 Bursa Musik

Rhapsodia

1977 Superstar. Nusantara Record

Solo album Soleh Sugiarto

1977 Sang Kala Purnama Record.